• UGM
  • IT Center
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia
Universitas Gajah Mada
  • Beranda
    • Kalender Kegiatan
    • Kegiatan Terdekat
    • Berita
    • Konten Edukasi
    • Magang
    • Laporan Tahunan
  • Tentang PKGM
    • Profil
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Peneliti
    • Kontak Kami
  • Kegiatan
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
    • Pelatihan
    • Publikasi
  • Pengalaman Kerjasama
    • Perusahaan
    • Pemerintah
  • LUARAN KEGIATAN
    • Buku dan Modul
    • Video
    • POLICY BRIEF
    • ARTIKEL JURNAL
  • Beranda
  • 2024
  • November
Arsip 2024:

November

Ketahui Manfaat Astaxanthin Bagi Kesehatan Kardiovaskular

Konten Edukasi Jumat, 22 November 2024

Seperti yang telah kita ketahui bahwa penyakit kardiovaskular merupakan salah satu penyebab terbesar morbiditas dan mortalitas baik di negara maju maupun negara berkembang. Kardiovaskular merupakan suatu sistem di dalam tubuh yang berperan penting dalam memastikan pasokan oksigen dan darah yang cukup ke seluruh sel dan jaringan agar dapat berfungsi secara optimal. Gangguan pada sistem kardiovaskular akan berdampak pada keseluruhan fungsi tubuh.

Penyakit kardiovaskular (cardiovascular disease/CVD) disebabkan oleh berbagai gangguan dalam tubuh, seperti terjadinya penumpukan jaringan lemak di area perut, tekanan darah tinggi, kelainan lipid (dislipidemia), dan gangguan toleransi glukosa (diabetes). Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular seperti stroke dan serangan jantung.

Perkembangan penyakit kardiovaskular sering dikaitkan dengan pola makan yang kurang sehat, seperti konsumsi makanan yang tinggi natrium, makanan olahan (Ultraprocessed Food), gula serta lemak jenuh dan lemak trans. Pola ini biasanya disertai dengan rendahnya asupan buah dan sayur, konsumsi alkohol, stress, merokok serta kurangnya aktivitas fisik. Selain itu, radikal bebas dan stres oksidatif juga memainkan peran penting dalam patogenesis berbagai kondisi penyakit jantung, seperti cedera iskemia reperfusi, gagal jantung kongestif, penyakit arteri koroner dan hipertensi.

Berbagai metode pengobatan untuk menangani masalah kardiovaskular terus berkembang, salah satunya adalah dengan memanfaatkan senyawa bioaktif yang berasal dari tumbuhan, seperti antioksidan, flavonoid, dan polifenol. Senyawa – senyawa bioaktif tersebut berpotensi untuk melindungi kesehatan jantung dengan mengurangi peradangan, menurunkan stress oksidatif, dan mendukung fungsi pembuluh darah. Salah satu antioksidan yang dapat dimanfaatkan adalah astaxanthin.

Astaxanthin, merupakan karotenoid alami yang ditemukan dalam mikroalga Haematococcus pluvialis dan telah diakui sebagai salah satu antioksidan yang memiliki manfaat bagi kesehatan kardiovaskular. Dalam beberapa penelitian menyebutkan bahwa sifat antioksidan dan antiinflamasi astaxanthin memiliki peran penting dalam mencegah berbagai penyakit kardiovaskular, termasuk aterosklerosis, hipertensi dan penyakit jantung koroner. Selain dari mikroalga, astaxanthin dapat pula ditemukan pada hewan akuatik seperti ikan salmon, ikan air tawar, udang, kepiting, maupun lobster. Berikut penjelasan singkat mengenai manfaat astaxanthin untuk mencegah terjadinya penyakit kardiovaskular :

1.Memberikan perlindungan terhadap stress oksidatif

Stress oksidatif merupakan salah satu faktor utama perkembangnya penyakit kardiovaskular yang disebabkan karena adanya radikal bebas dalam tubuh. Terjadinya proses oksidasi dapat menyebabkan kerusakan sel endotel dalam pembuluh darah yang memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan jantung. Dalam sebuah penelitian oleh Visioli (2017) menunjukkan bahwa astaxanthin memiliki aktivitas antioksidan yang lebih kuat dan efektif dibandingkan vitamin C dan E, sehingga dapat mengurangi terjadinya oksidasi lipid dalam plasma darah yang berkontribusi pada pencegahan pembentukan plak aterosklerotik. Astaxanthin bekerja dengan menurunkan kadar LDL teroksidasi, sehingga memperlambat pembentukan plak pada dinding arteri yang dapat menyumbat aliran darah.

2. Memiliki Sifat Anti-Inflamasi

Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa astaxanthin mampu mengurangi aktivitas inflamasi pada level molekuler, yang berpotensi menurunkan risiko terjadinya aterosklerosis, hipertensi, dan komplikasi kardiovaskular lainnya.

Studi klinis juga menunjukkan bahwa suplementasi astaxanthin dapat memperbaiki fungsi endotelial, yaitu lapisan pembuluh darah yang penting untuk menjaga fleksibilitas dan respons pembuluh darah terhadap perubahan tekanan darah. Fungsi endotel yang baik membantu menjaga tekanan darah stabil, yang merupakan salah satu aspek utama dalam pencegahan hipertensi. Hal ini menunjukkan bahwa astaxanthin berpotensi mengurangi risiko hipertensi dengan cara memperbaiki respons pembuluh darah​

3. Mengatur profil lipid

Selain efeknya terhadap stres oksidatif dan peradangan, astaxanthin juga dapat mempengaruhi profil lipid seseorang, yang merupakan faktor risiko penting dalam penyakit jantung. Dalam suatu studi menunjukkan bahwa astaxanthin dapat menurunkan trigliserida serum dan meningkatkan kadar HDL pada pasien dengan resiko tinggi penyakit kardiovaskular.

4. Mendukung Kesehatan Mitokondria di Jantung

Mitokondria adalah pusat produksi energi sel dan sangat penting untuk fungsi jantung. Energi dibutuhkan oleh jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Stres oksidatif dapat merusak mitokondria, yang kemudian mengganggu fungsi otot jantung dan menyebabkan berbagai gangguan kardiovaskular.

Penelitian oleh Krestinina et al. (2020) menunjukkan bahwa suplementasi astaxanthin dapat meningkatkan kinerja mitokondria di jantung, yang memungkinkan jantung memompa lebih efisien dan mengurangi risiko kelelahan otot jantung serta insufisiensi jantung. Dengan memperbaiki fungsi mitokondria, astaxanthin dapat membantu mencegah berbagai masalah jantung yang disebabkan oleh penurunan kapasitas energi​.

 5.Membantu Mengatur Tekanan Darah

Tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor risiko utama pada penyakit kardiovaskular. Penelitian menunjukkan bahwa astaxanthin memiliki efek positif pada tekanan darah melalui efek relaksasi pembuluh darah. Sebuah studi pada hewan menunjukkan bahwa astaxanthin dapat membantu menurunkan tekanan darah dengan mengurangi ketegangan di arteri serta meningkatkan elastisitas pembuluh darah. Efek ini penting dalam mencegah hipertensi dan menjaga kesehatan jantung dalam jangka panjang.

 

Referensi :

  1. Visioli, Francesco dan Christian Artaria. 2017. Astaxanthin in Cardiovascular Health and Disease : Mechanisms of Action, Therapeutic Merits, and Knowledge Gaps. Food Function, 2017, 8, 39 – 63
  2. Chang, Ming Xian dan Fan Xiong. 2020. Astaxanthin and Its Effect in Inflammatory Respnses and Inflammation – Associated Diseases : Recent Advances and Future Directions. Molecules, 25, 5342
  3. Pereira, Carolina Parga, et al. 2021. Antioxidant and Anti – Inflammatory Mechanisms of Action of Astaxanthin in Cardiovascular (Review). International Journal of Molecular Mediciner, 47 : 37 – 48
  4. Laja, Rana Salsabil Putri. 2021. Astaxanthin untuk Kesehatan Kardiovaskular. Jurnal Penelitian Perawat Profesional. Volume 3 No 2, Hal 243 – 252
  5. Krestinina, Olga, et al. 2020. Astaxanthin Prevents Mitochondrial Impairment Induced by Isoproterenol in Isolated Rat Heart Mitochondria. MDPI, 9. 262
  6. Ruiz, Jose Monroy, et al. 2011. Astaxanthin Enriched Diet reduces Blood Pressure and Improves Cardiovascular Parameters in Spontaneously Hypertensive Rats. Pharmacological Research, 63, 44 – 50

 

Kontributor Artikel: Ulfi Rahma Yunita, S.Gizi, M.Gizi

 

Webinar Diseminasi Kajian Anemia “Tantangan dan Peluang Inovasi dalam Pencegahan dan Penanganan Anemia Defisiensi Besi di Indonesia”

Berita Jumat, 22 November 2024

Sleman, PKGM- Telah dilaksanakan webinar diseminasi hasil kajian pada Rabu, 20 November 2024 secara daring. Kegiatan webinar ini mengusung tema “Tantangan dan Peluang Inovasi dalam Pencegahan dan Penanganan Anemia Defisiensi Besi di Indonesia” yang bertujuan untuk memberikan informasi terkini kepada para praktisi dan akademisi.

Acara dibuka dengan sambutan dari asisten Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengembangan FK-KMK UGM, Prof. dr. Gunadi, Ph.D, Sp.BA., Subsp.D.A(K). Sesi materi dipandu oleh Ibu Dr. Lily Arsanti Lestari, STP., MP sebagai moderator. Hadir lima narasumber dari Kementerian Kesehatan RI, FK-KMK UGM, dan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Narasumber pertama, Ibu Dr. Siti Helmyati, DCN., M.Kes dari Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia, FK-KMK, UGM, memaparkan tentang hasil kajian yang telah dilakukan bersama tim dengan judul Systematic review on supplementation, fortification, and food-based interventions for prevention of iron deficiency anemia in low- and middle-income countries. Dari paparannya, Ibu Siti Helmyati menyampaikan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam keberhasilan intervensi untuk pencegahan anemia defisiensi besi.

Prof. Dr. dr. Masrul, M.Sc., Sp.GK memaparkan tentang Pentingnya Skrining anemia untuk pencegahan anemia defisiensi besi. Guru besar dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas ini menekankan ketepatan deteksi dini anemia agar intervensi yang diberikan bisa tepat sasaran. 

Pencegahan anemia defisiensi besi sebagai upaya untuk optimalisasi tumbuh kembang anak disampaikan oleh Dr. dr. Neti Nurani, Sp.A(K)., M.Kes yang menjadi narasumber ke-3 pada sesi materi. “Masih ada 38,5% balita di Indonesia yang mengalami anemia. Prevalensi yang tidak kalah tinggi dengan stunting” ujar dr. Neti mengawali presentasinya. Dokter Neti juga menjelaskan dampak anemia pada penurunan skor kognitif anak 6 sampai 7 poin karena adanya gangguan perkembangan otak. 

Dr. dr. Tri Ratnaningsih, M.Kes., Sp.PK(K) menjadi narasumber keempat yang memperkaya pembahasan tentang metode skrining untuk deteksi kejadian anemia defisiensi besi. Dosen yang akrab disapa dokter Nana menjelaskan perkembangan metode pemeriksaan hemoglobin sebagai parameter anemia yang diperkuat dengan hasil kajian-kajian yang telah dilakukannya bersama tim. 

Sesi materi diakhiri dengan pemaparan oleh Dr. Hera Nurlita, S.Si., M.Kes dari Direktorat Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI. Ibu Hera menyampaikan tentang upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Direktorat Gizi KIA Kementerian Kesehatan berkaitan dengan pencegahan anemia yang termasuk dalam integrasi layanan primer. 

Acara ini dihadiri oleh lebih dari 80 peserta yang berasal dari perwakilan perguruan tinggi anggota NATURE, Indonesia Nutrition University Network, dinas kesehatan kabupaten/kota, rumah sakit, serta puskesmas. Para peserta aktif mengajukan pertanyaan selama sesi diskusi. Acara ditutup dengan sesi foto bersama narasumber, moderator, peserta, dan panitia.

Kegiatan ini mendukung pencapaian SDGs dalam menciptakan kesehatan dan kesejahteraan yang baik (tujuan 3), memberikan pendidikan bermutu (tujuan 4), kesetaraan gender (tujuan 5), dan menjalin kemitraan untuk mencapai tujuan (tujuan 17).

 

Penulis: Lintang Aryanti

Bagaimana Peran Sinbiotik dalam Pengaturan Nafsu Makan?

Konten Edukasi Jumat, 8 November 2024

Salah satu topik yang semakin banyak diteliti karena memiliki manfaat yang cukup besar bagi kesehatan, terutama pencernaan dan nafsu makan yaitu kombinasi antara probiotik dan prebiotik yang biasa disebut dengan Sinbiotik. Kombinasi probiotik dan prebiotik yang bekerja secara sinergis dapat meningkatkan kesehatan mikrobiota usus. Probiotik seperti Lactobacillus dan Bifidobacterium sering digunakan dalam sinbiotik untuk meningkatkan kesehatan pencernaan, sementara prebiotik seperti inulin atau fruktooligosakarida (FOS) membantu memfasilitasi pertumbuhan dan aktivitas probiotik di usus.

Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa konsumsi sinbiotik tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan pencernaan, tetapi juga berpotensi mempengaruhi mekanisme biologis yang terlibat dalam pengaturan nafsu makan terutama menurunkan nafsu makan. Berikut beberapa manfaat mengonsumsi sinbiotik dalam menurunkan nafsu makan:

1. Meningkatkan Hormon “Rasa Kenyang” (Hormon Leptin)

Hormon leptin memiliki tugas memberikan sinyal kepada otak untuk mengurangi rasa lapar. Prebiotik dalam sinbiotik dapat difermentasi oleh bakteri probiotik di usus besar menjadi asam lemak rantai pendek atau Short Chain Fatty Acids (SCFA) seperti asetat, propionate, dan butirat. SCFA berperan penting dalam meningkatkan sekresi hormon yang berkaitan dengan rasa kenyang, seperti peptida YY (PYY) dan glucagon-like peptide-1 (GLP-1). Hormon tersebut memberikan sinyal kepada otak untuk mengurangi rasa lapar dan memperpanjang perasaan kenyang setelah makan. Dalam sebuah studi oleh Chambers et al. (2015), ditemukan bahwa propionat, yang dihasilkan melalui fermentasi prebiotik, mampu merangsang pelepasan GLP-1 dan PYY, yang keduanya dikenal sebagai hormon penekan nafsu makan. Efek ini membantu menurunkan asupan kalori dan berpotensi mendukung penurunan berat badan

2. Mengurangi Kadar Hormon Ghrelin

Selain dapat meningkatkan hormon kenyang, sinbiotik juga dapat mempengaruhi kadar hormon ghrelin atau disebut dengan “hormon lapar” karena perannya dalam merangsang nafsu makan. Beberapa studi menunjukkan bahwa konsumsi sinbiotik dapat membantu menekan kadar ghrelin, sehingga mengurangi perasaan lapar dan keinginan untuk makan. Dalam sebuah penelitian oleh Noormohammadi (2023) menemukan bahwa konsumsi sinbiotik berbasis Bifidobacterium dan inulin secara signifikan dapat menurunkan kadar ghrelin pada subjek yang mengalami obesitas, yang pada akhirnya memberikan kontribusi untuk mengurangi asupan makan dan mengontrol nafsu makan menjadi lebih baik.

3. Memperbaiki keseimbangan mikrobiota usus

Keseimbangan mikrobiota usus berperan penting untuk mengatur metabolisme energi dan nafsu makan. Adanya ketidakseimbangan mikrobiota usus dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan resiko obesitas dan resistensi terhadap sinyal rasa kenyang. Sinbiotik dapat memperbaiki keseimbangan mikrobiota usus dengan cara meningkatkan populasi bakteri baik, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi pengaturan nafsu makan. Sebuah studi oleh Lauw (2023) juga menunjukkan bahwa suplementasi sinbiotik pada individu dengan obesitas dapat memperbaiki profil mikrobiota usus, meningkatkan produksi SCFA, dan mengatur pengeluaran hormon terutama hormon nafsu makan.

4. Memperlambat pengosongan lambung

Prebiotik yang tidak dapat dicerna di saluran cerna bagian atas, dapat  memperpanjang rasa kenyang setelah makan. Sehingga dapat memperlambat waktu pengosongan lambung. Hal ini dapat menurunkan frekuensi makan dan asupan kalori serta membantu untuk mengontrol berat badan. Selain memiliki peran yang telah dijelaskan diatas, sinbiotik juga memiliki peranan positif untuk mengobati beberapa penyakit seperti dermatitis atopik, gangguan pada saluran cerna (gastrointestinal disorder), diabetes, ensefalopati hepatik, sindrom iritasi usus besar (irritable bowel syndrom),  metabolic disorders, dan menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh.

 

 

Jika anda mempunyai tujuan untuk menurunkan berat badan, maka tidak hanya sekedar mengatur pola makan dan  teknik memasaknya. Namun, perlu juga untuk menambahkan jenis bahan makanan yang dikonsumsi. Salah satunya dengan menambahkan prebiotik,  probiotik, atau gabungan keduanya (sinbiotik) dalam makanan yang kita konsumsi sehari – hari. Salah satu contoh makanan sinbiotik yang dapat dikonsumsi seperti  salad buah sebagai sumber serat yang ditambah dengan yoghurt sebagai sumber probiotik atau  mengkonsumsi makanan fermentasi lokal seperti tempe sebagai sumber probiotik alami dengan tambahan sayuran. Kombinasi makanan tersebut dapat kita konsumsi sehari – hari dan menambah asupan sinbiotik dalam tubuh serta dapat memberikan efek positif bagi pencernaan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

 

Referensi:

  1. Chambers, E. S., et al. (2019). Postprandial gastrointestinal hormone responses and appetite regulation in humans following inulin-propionate ester ingestion. The American Journal of Clinical Nutrition, 110(4), 883-891.
  2. Chamber, E.S et al. (2015). Effect of Targeted Delivery of Propionate to The Human Colon on Appetite Regulation, Body Weight Maintenance and Adiposity in Overweight Adults. Gut Microbiota; 64:1744 – 1754
  3. Lauw, Susana, et al (2023). Effect of Synbiotic Supplementation on Metabolic Syndrome Traits and Gut Microbial Profile Among Overweight and Obese Hongkong Chinese Individuals: A Randomized Trial. Nutrients, 15, 4248
  4. Haliman, Chika Dewi dan Silvia Alfinnia. 2021. Gut Microbiota, Prebiotics, Probiotics, and Synbiotics in Management of Obesity. Media Gizi Kesmas, Vol. 10. No.1 Juni 2021: Hal. 149 – 156
  5. Jiang, Haoran, et al. 2022. Synbiotics and Gut Microbiota: New Perspective in The Treatment of Type 2 Diabetes Mellitus. Foods, 11, 2438
  6. Noormohammadi, Morvarid, et al. 2023. The effect of Probiotic and Synbiotic Supplementation on Appetite Regulating Hormones and Desire to Eat : A Systematic Review and Meta Analysis of Clinical Trials. Phamacological Research, 187

 

Kontributor Artikel: Ulfi Rahma Yunita, S.Gizi, M.Gizi

Berita Terkini

  • Limited Seat! Workshop nLCA Daring 24–25 Februari 2026
    09/02/2026
  • Mengendalikan Konsumsi Ultra-Processed Foods (UPF) sebagai Bagian dari Sustainable Healthy Diets Menuju Generasi Emas 2045
    27/01/2026
  • HACCP dan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi: Pilar Keamanan Pangan di Indonesia
    26/01/2026
Universitas Gadjah Mada

Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia (PKGM)
(Center for Health and Human Nutrition/CH2N)

Gd Litbang FK-KMK Lt.3, Jalan Medika No.1, Sendowo, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Telp./Faks. (0274) 547775
Email: ch2n.fk@ugm.ac.id

© PKGM-FKKMK UGM 2021

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY