• UGM
  • IT Center
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia
Universitas Gajah Mada
  • Beranda
    • Kalender Kegiatan
    • Kegiatan Terdekat
    • Berita
    • Konten Edukasi
    • Magang
    • Laporan Tahunan
  • Tentang PKGM
    • Profil
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Peneliti
    • Kontak Kami
  • Kegiatan
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
    • Pelatihan
    • Publikasi
  • Pengalaman Kerjasama
    • Perusahaan
    • Pemerintah
  • LUARAN KEGIATAN
    • Buku dan Modul
    • Video
    • POLICY BRIEF
    • ARTIKEL JURNAL
  • Beranda
  • Gizi Seimbang selama Pandemi
  • Gizi Seimbang selama Pandemi
Arsip:

Gizi Seimbang selama Pandemi

Pantau Berat Badan Selama Pandemi

Edukasi Minggu, 11 April 2021

Malnutrisi merupakan kondisi kekurangan, kelebihan, atau ketidakseimbangan energi dan/atau asupan gizi. Secara garis besar, malnutrisi terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu gizi kurang dan gizi lebih. Memantau berat badan secara rutin merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan berat badan normal dan mencegah malnutrisi.

IMT atau indeks massa tubuh merupakan salah satu indikator status gizi orang dewasa. Berdasarkan standar Asia Pasifik, IMT dikategorikan menjadi:

IMT Kategori
<18.5 Berat badan kurang/ kurus
18.5-22.9 Normal
23-24.9 Berat badan lebih
≥25 Obesitas

Berdasarkan WHO, obesitas merupakan kondisi akumulasi lemak berlebih yang dapat meningkatkan risiko komorbid dan meningkatkan risiko mortalitas. Kondisi komorbid dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang. Risiko komorbid tersebut di antaranya:

  • penyakit kardiovaskuler,
  • gangguan pencernaan,
  • diabetes mellitus tipe 2,
  • gangguan pernapasan,
  • gangguan tidur, dan
  • gangguan psikologi.

Penurunan berat badan pada pasien yang mengalami obesitas dapat meningkatkan kesehatan dan menurunkan risiko perkembangan penyakit komorbid secara signifikan. Penurunan berat badan yang dianjurkan adalah 0.5-1 kg/minggu. Penurunan berat badan ekstrim tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan masalah kesehatan seperti pembentukan batu empedu, dehidrasi, penurunan massa otot, gangguan metabolisme, dan defisiensi mikronutrien.

Sama halnya dengan obesitas, gizi kurang juga dapat menyebabkan masalah kesehatan dan peningkatan risiko mortalitas, terutama pada bayi dan anak. Gizi kurang dapat meyebabkan keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan anak. Gizi kurang juga dapat menyebabkan masalah kesehatan lain, seperti:

  • rendahnya massa otot dan massa bebas lemak,
  • penurunan sistem imun dan peningkatan risiko infeksi penyakit,
  • penurunan massa tulang,
  • anemia,
  • defisiensi vitamin,
  • gangguan kesuburan dan masalah kehamilan,
  • masalah pencernaan,
  • penyembuhan luka yang lama,
  • gangguan psikologi, dan
  • gangguan tidur.

 

Sumber:

Karmacharya, P., Shrestha, G.L., Singh, S., & Shrestha, O.K. (2019) Relation of Waist Hip Ratio and BMI with the Vital Capacity. Journal of Chitwan Medical College, 9(29), pp. 51-55

Kementerian Kesehatan RI (2014) Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Sharon, M.F. (2017) Obesity: Risk Factors, Complications, and Strategies for Sustainable Long-Term Weight Management. Journal of the American Association of Nurse Practitioners, 29(Suppl 1), pp. S3-S14.

Uzogara, S.G. (2016) Underweight, the Less Discussed Type of Unhealthy Weight and Its Implications: A Review. American Journal of Food Science and Nutrition Research, 3(5), pp. 126-142.

World Health Organization (2020) Malnutrition. [Online] Available at: https://www.who.int/news-room/q-a-detail/malnutrition [Accessed: March 31, 2021].

 

Penulis: Stefanie Intan Budi Astuti

Aktivitas Fisik Selama Pandemi

Edukasi Minggu, 11 April 2021

Dalam kondisi pandemi, aktivitas sosial dibatasi. Banyak orang bekerja dari rumah, sehingga aktivitas fisik sehari-hari menjadi minim. Misalnya, hanya duduk selama berjam-jam di depan komputer atau laptop. Padahal, aktivitas fisik perlu dilakukan minimal 30 menit, rutin 3-5 kali dalam seminggu (Kementerian Kesehatan, 2020).

Menurut Seksi Promosi dan Pemberdayaan Masyarakat (2020) aktivitas fisik, termasuk berolahraga, berfungsi untuk:

  1. Mengurangi kecemasan
  2. Mengendalikan stres
  3. Mengendalikan kadar kolesterol
  4. Memperbaiki kelenturan sendi dan kekuatan otot
  5. Meningkatkan daya tahan dan sistem kekebalan tubuh

Kita perlu rutin melakukan aktivitas fisik untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mempertahankan berat badan ideal, dan mencegah kegemukan (Seksi Promosi dan Pemberdayaan Masyarakat, 2020). Dalam melakukan aktivitas sehari-hari selama pandemi, kita perlu melakukan peregangan setiap dua jam sekali selama 10-15 detik. Selain itu, kita juga perlu rutin minum air putih untuk menghindari terjadinya dehidrasi dan menghindari merokok (Abdulloh, 2020)

Dalam berolahraga selama pandemi, menurut Abdulloh (2020) terdapat prinsip umum yang harus diterapkan, yaitu:

  1. Frekuensi (minimal 2-3x per minggu)
  2. Durasi (minimal 30-45 menit)
  3. Intensitas (disarankan intensitas sedang)
  4. Tipe (aerobik, latihan kekuatan otot, latihan fleksibilitas)

Dalam berolahraga selama pandemi, beberapa hal yang dapat kita lakukan yaitu berjalan kaki atau lari di sekitar rumah, dengan tetap mematuhi protokol kesehatan serta menonton dan mengikuti video olahraga. Tidak dianjurkan berolahraga dengan intensitas tinggi karena dapat menurunkan  kekebalan  dan meningkatkan  risiko  infeksi  pernapasan Tidak dianjurkan pula berolahraga yang melibatkan kontak fisik dengan orang lain, seperti basket, sepak bola, dan bola voli (Elysia, 2020).

Beberapa contoh olahraga yang dianjurkan selama pandemi adalah latihan aerobik, latihan kekuatan otot, dan latihan angkat beban. Latihan aerobik contohnya jalan cepat, menari, dan lompat tali. Latihan kekuatan otot contohnya squat, push-up, dan sit-up. Latihan angkat beban dapat digunakan menggunakan alat ataupun tubuh. Selain itu, pilates, yoga, dan senam juga menjadi pilihan olahraga yang banyak dilakukan selama pandemi (Setyaningrum, 2020)

Selain olahraga, aktivitas fisik yang dapat kita lakukan adalah berjalan kaki minimal 10.000 langkah per hari, melakukan pekerjaan rumah tangga yang menggerakkan otot, berkebun, dan naik-turun tangga (Yuliana, 2020). Untuk mendukung aktivitas fisik yang kita lakukan, kita perlu beristirahat yang cukup dan teratur, selama 6-8 jam per hari. Selain itu, kita juga perlu berjemur selama minimal 15 menit per hari. Ketika berjemur, sebaiknya kita menggunakan baju yang berwarna terang, topi dan kacamata, serta sunblock (Kementerian Kesehatan, 2020).

 

Sumber:

Abdulloh, I., N., 2020. Kesalahan Olahraga Saat Pandemi COVID-19. URL: https://www.uny.ac.id/sites/www.uny.ac.id/files/u10/kesalahan%20olga.pdf. Diakses pada tanggal 26 Maret 2021.

Elysia, V. 2020. Peran Gizi dalam Mengantisipasi Pandemi Covid-19. URL: https://fk.ugm.ac.id/peran-gizi-dalam-mengantisipasi-pandemi-covid-19-2/. Diakses pada tanggal 26 Maret 2021.

Kementerian Kesehatan. 2020. Panduan Gizi Seimbang pada Masa COVID-19. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Seksi Promosi dan Pemberdayaan Masyarakat. 2020. Menjaga Tetap Sehat dan Bugar di Masa Pandemi dengan Gizi Seimbang. URL: https://kesehatan.jogjakota.go.id/berita/id/214/menjaga-tetap-sehat-dan-bugar-di-masa-pandemi-dengan-gizi-seimbang/. Diakses pada tanggal 26 Maret 2021.

Setyaningrum, D.A.W., 2020. Pentingnya olahraga selama pandemi COVID-19. Jurnal Biomedika dan Kesehatan, 3(4), pp.166-168.

Yuliana, Y., 2020. Olahraga yang Aman di Masa Pandemi COVID-19 untuk Meningkatkan Imunitas Tubuh. Jurnal Bali Membangun Bali, 1(2), pp.103-110.

 

Penulis: Fairuz Khairunnisa Anasyua

Perilaku Hidup Bersih Selama Pandemi

Edukasi Minggu, 11 April 2021

Penyakit infeksi merupakan salah satu faktor yang memengaruhi status gizi seseorang, baik anak-anak maupun orang dewasa. Status gizi memiliki pengaruh terhadap system kekebalan tubuh dan proses penyembuhan. Seseorang dengan status gizi yang kurang atau bahkan buruk lebih berisiko terkena berbagai macam penyakit dan waktu penyembuhannya cenderung lebih lambat. Seseorang yang terjangkit penyakit infeksi membutuhkan lebih banyak asupan zat gizi, tetapi memiliki masalah yaitu mengalami penurunan nafsu makan. Hal ini dapat menyebabkan penurunan berat badan dan perburukan status gizi (Putri,2015).

Penyakit infeksi juga menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup sering terjadi di berbagai negara berkembang termasuk di Indonesia. Salah satu penyebab dari terjadinya penyakit infeksi karena penerapan perilaku hidup bersih dan sehat yang masih kurang di lingkungan keluarga atau rumah. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sendiri merupakan perilaku Kesehatan yang dilakukan dengan kesadaran sehingga anggota keluarga dapat menolong dirinya dalam bidang Kesehatan dan dapat berperan aktif dalam kegiatan di masyarakat. Penerapan PHBS juga merupakan upaya untuk menularkan pengalaman mengenai perilaku hidup sehat melalui individu, kelompok ataupun masyarakat dengan berbagai jalur komunikasi sebagai media berbagi informasi (Depkes, 2011). Secara luas PHBS meliputi gerakan untuk membiasakan diri dalam melakukan perilaku hidup sehat. Selama pandemi ini, perilaku hidup bersih sudah menjadi suatu keharusan untuk meminimalisir risiko terinfeksi COVID-19. Tidak hanya itu, perilaku hidup bersih juga dapat mencegah kita terinfeksi penyakit menular lainnya. Dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, status gizi dan kesehatan kita akan senantiasa terjaga.

Untuk itu kita perlu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat selama masa pandemic ini untuk mencegah berbagai penularan dari penyakit infeksi. Perilaku yang perlu kita terapkan menurut WHO (2021) antara lain:

  1. Mencuci tangan menggunakan sabun dan air yang mengalir secara berkala
  2. Menggunakan masker dengan benar
  3. Menghindari menyentuh bagian atau area wajah
  4. Menutup mulut dan hudung menggunakan tisu atau bagian dalam siku letika sedang batuk atau bersin
  5. Membersihkan dan mendisinfektankan permukaan yang sering dipegang, seperti gagang pintu, meja, kursi, ponsel, saklar lampu
  6. Menjaga jarak dan menghindari kerumunan
  7. Memastikan sirkulasi udara yang baik

Salah satu perilaku hidup bersih dan sehat yang perlu kita lakukan yaitu cuci tangan. Mencuci tangan perlu dilakukan setelah batuk atau bersin, setelah menggunakan toilet, setelah berpergian dari luar, sebelum menyiapkan makanan, sebelum makan, dan ketika merasa tangan kotor. Berikut langkah cuci tangan dengan baik menurut WHO (2009):

(panduan mencuci tangan menggunakan hand sanitizer)

(panduan mencuci tangan dengan air dan sabun)

Selain itu, perilaku hidup bersih dan sehat dapat dilakukan dengan melakukan penanganan bahan makanan secara baik supaya makanan yang kita konsumsi terjamin kebersihannya. Berikut berbagai cara penanganan bahan makanan sebagai wujud perilaku hidup bersih dan sehat, menurut United Nations Children’s Fund (2020) antara lain:

  • Mencuci tangan sebelum memegang dan mempersiapkan makanan
  • Membedakan talenan daging dan ikan mentah dengan sayur dan buah0buahan untuk mencegah kontaminasi silang
  • Mencuci bahan makanan terutama buah dan sayur dengan air bersih yang mengalir
  • Mengolah bahan makanan dengan suhu yang sesuai
  • Menimpan makanan yang mudah rusak di kulkas cek tanggal kadaluarsanya secara berkala
  • Menggunakan peralatan masak dan peralatan makan yang bersih dan kering
  • Memindahkan makanan dari luar rumah ke piring yang bersih
  • Membuang kemasan makanan dalam tempat sampah yang tertutup
  • Membersihkan kaleng dengan lap pembungkus makanan dengan bersih sebelum dibuka

 

Sumber:

Departemen Kesehatan RI (2011) Pedoman Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Jakarta:Depkes RI

Kementerian Kesehatan RI (2014) Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Putri, M. S., Kapantow, N., & Kawengian, S. (2015). Hubungan antara riwayat penyakit infeksi dengan status gizi pada anak batita di Desa Mopusi Kecamatan Lolayan Kabupaten Bolaang Mongondow. eBiomedik, 3(2).

United Nations Children’s Fund (2020) Cleaning and Hygiene Tips to Help Keep the COVID-19 Virus Out of Your Home. [Online] Available at: https://www.unicef.org/ [Accessed: April 1, 2021].

World Health Organization (2021) Coronavirus Disease (COVID-19) Advice for the Public. [Online} Available at: https://www.who.int/ [Accessed: April 1, 2021]

World Health Organization [2009) Hand Hygiene: Why, How & When? [Online] Available at: https://www.who.int/ [April 1, 2021]

 

Penulis: Fina Cahya Hasanah

Konsumsi Makanan Beragam Selama Pandemi

Edukasi Minggu, 11 April 2021

Mengkonsumsi makanan yang beragam sangat kita perlukan karena tidak ada satupun jenis makanan yang mengandung zat gizi lengkap kecuali ASI. Sebagai contoh, nasi yang merupakan sumber utama kalori, tetapi miskin vitamin dan mineral; sayuran dan buah-buahan pada umumnya kaya akan vitamin, mineral dan serat, tetapi miskin kalori dan protein; ikan merupakan sumber utama protein tetapi sedikit kalori. Maka dari itu mengkonsumsi makanan yang beragam merupakan hal yang mutlak kita perlukan untuk menjaga tubuh kita tetap sehat.

Dalam prinsip mengkonsumsi makanan yang beragam, proporsi makanan yang dikonsumsi juga harus diperhatikan agar seimbang, dalam jumlah yang cukup, tidak berlebihan dan dilakukan secara teratur. Aneka ragam makanan dalam gizi seimbang ditunjukkan secara jelas pada tumpeng gizi seimbang. Tumpeng gizi seimbang terdiri dari beberapa potongan tumpeng, yaitu satu potongan besar, dua potongan sedang, dua potongan kecil dan di puncak terdapat potongan terkecil. Luasnya potongan tumpeng menunjukkan porsi makanan yang harus dikonsumsi setiap orang per hari.

Tahukah kamu mengkonsumsi makanan yang beragam juga sangat bermanfaat bagi tubuh di saat masa pandemi seperti ini. Berbagai zat gizi yang terkandung dalam berbagai makanan yang kita konsumsi memiliki manfaat untuk meningkatkan imunitas kita dalam menghadapi pandemi ini. Berikut cara mudah mengetahui manfaat makanan yang kita konsumsi berdasarkan warnanya:

  1. Buah
    1. Buah Berwarna merah mengandung banyak vitamin C dan zat flavonoid. Buah berwarna merah bermanfaat untuk menurunkan kadar kolesterol darah dan menjaga kesehatan liver. Contoh buah : apel, tomat, anggur dll
    2. Buah berwarna kuning dan oranye mengandung banyak vitamin A dan karoten. Zat ini bermanfaat untuk meningkatkan penglihatan, selain itu juga mengandung banyak antioksidan yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Contoh buah : pisang, jeruk, pepaya, mangga, dll
    3. Buah berwarna hijau memliki berbagai macam vitamin yang bmanfaat untuk meningkatkan imunitas tubuh dan menghambat pertumbuhan sel kanker. Contoh buah: Apel malang, anggur hijau, melon, dll
    4. Buah berwarna ungu dan biru apabila warnanya semakin gelap maka kandungan vitaminnya semakin banyak, buah ini bermanfaat menjhaga kesehatan jantung, pembuluh darah, dan menghambat pertumbuhan sel kanker. Contoh buah : Delima, ubi ungu, blueberry, dll
  2. Sayur
    1. Sayur berwarna hijau adalah sumber karoten yang baik untuk antioksidan. Semakin hijau warnanya maka semakin banyak kandungan karoten, vitamin C, asam folat, dan mineral di dalamnya. Contoh sayur : daun singkong, sawi hijau, bayam, buncis, dll
    2. Sayur berwarna ungu mengandung banyak antioksidan dan vitamin. Warna ungu alami bermanfaat untuk meningkatkan imunitas, melindungi kerusakan otak, dan meningkatkan produksi sel darah merah dan putih. Contoh sayur : terong ungu, kol ungu, dll
    3. Sayur berwarna kuning dan oranye mengandung berbagai vitamin dan antioksidan. Sayuran ini bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan indera englihatan. Contoh sayur : wortel, labu kuning, jagung, dll
    4. Sayur berwarna merah mengandung antioksidan yang bermanfaat untuk melindungi pembuluh darah, kesehatan jantung, dan mencegah kanker. Contoh sayur : Bayam merah dan lobak merah
    5. Sayur berwarna putih merupakan sayuran yang tidak berpigmen namun tetap memberikan manfaat bagi tubuh. Sayuran ini mengandung vitamiun E, kalsium, dan zat allicin yang dapat mengontrol kadar kolestertol, tekanan darah, dan menghambat pertumbuhan sel kanker. Contoh : Tauge, bunga kol, sawi putih, dll

 

Daftar Pustaka

Kementerian Kesehatan. 2014. Panduan Gizi Seimbang. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan. 2020. Panduan Gizi Seimbang pada Masa COVID-19. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Seksi Promosi dan Pemberdayaan Masyarakat. 2020. Menjaga Tetap Sehat dan Bugar di Masa Pandemi dengan Gizi Seimbang. URL: https://kesehatan.jogjakota.go.id/berita/id/214/menjaga-tetap-sehat-dan-bugar-di-masa-pandemi-dengan-gizi-seimbang/. Diakses pada tanggal 26 Maret 2021.

 

Penulis: Dwiki Rendy Dolado

Berita Terkini

  • PKGM Cegah Anemia Remaja Putri melalui Tes Skrining Hb di SMP LHI Banguntapan
    15/12/2025
  • Kolaborasi PKGM dan ISNA Bekali Ketrampilan Ahli Gizi dan Pelatih untuk Performa Atlet Optimal Melalui Sportifitness 10
    26/11/2025
  • Webinar Sportifitness 10 Hadirkan Pakar Olahraga, Gizi, dan Kesehatan untuk Cetak Atlet Indonesia Berprestasi
    25/11/2025
Universitas Gadjah Mada

Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia (PKGM)
(Center for Health and Human Nutrition/CH2N)

Gd Litbang FK-KMK Lt.3, Jalan Medika No.1, Sendowo, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Telp./Faks. (0274) 547775
Email: ch2n.fk@ugm.ac.id

© PKGM-FKKMK UGM 2021

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY