• UGM
  • IT Center
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia
Universitas Gajah Mada
  • Beranda
    • Kalender Kegiatan
    • Kegiatan Terdekat
    • Berita
    • Konten Edukasi
    • Magang
    • Laporan Tahunan
  • Tentang PKGM
    • Profil
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Peneliti
    • Kontak Kami
  • Kegiatan
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
    • Pelatihan
    • Publikasi
  • Pengalaman Kerjasama
    • Perusahaan
    • Pemerintah
  • LUARAN KEGIATAN
    • Buku dan Modul
    • Video
    • POLICY BRIEF
    • ARTIKEL JURNAL
  • Beranda
  • 2024
  • hal. 2
Arsip:

2024

Edukasi Tentang Gizi Seimbang, Anemia, dan Keamanan Pangan di Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ)

Berita Kamis, 26 September 2024

Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia Bersama dengan Departemen Gizi Kesehatan FK-KMK UGM melaksanakan pengabdian kepada masyarakat di Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ), Arab Saudi pada 24-25 September 2024. Kegiatan terdiri dari pemberian edukasi tentang gizi seimbang, anemia, dan keamanan pangan kepada siswa dan orang tua serta pengukuran status gizi siswa. Kegiatan ini disambut baik oleh pihak SIJ baik guru maupun siswa. Pada kesempatan yang sama tim abdimas PKGM dan Departemen Gizi juga mengunjungi Kantor Konsulat Jendral Republik Indonesia Jeddah.Semoga kegiatan ini dapat bermanfaat dan mendorong kemitraan PKGM yang lebih luas.

Kegiatan ini mendukung tujuan SDG 17: Kemitraan untuk mencapai tujuan, SDG 3: Kehidupan sehat dan sejahtera, SDG 4: Pendidikan berkualitas, dan SDG 5: kesetaraan gender

Pahami Tentang Sustainable Healthy Diet, makan sehat yang ramah lingkungan.

Konten Edukasi Kamis, 19 September 2024

Apakah pernah terpikir bahwa kebiasaan makan kita selain berdampak pada kesehatan tubuh juga berpengaruh kepada lingkungan? 

Faktanya setiap orang berkontribusi pada dampak yang ditimbulkan oleh sistem pangan kita terhadap bumi. Tetapi kita juga bisa membuat bumi semakin sehat untuk ditinggali, melalui perubahan kecil yang dapat dilakukan pada pola makan. 

Apa itu Sustainable Healthy Diet?

Sustainable healthy diet atau makan sehat berkelanjutan adalah pola makan yang mempromosikan semua dimensi kesehatan dan kesejahteraan individu; memiliki tekanan dan dampak lingkungan yang rendah; dapat diakses, terjangkau, aman dan adil; dan dapat diterima secara budaya (WHO, 2019). Secara sederhana, pola makan berkelanjutan adalah pola makan yang memberikan dampak positif terhadap kesehatan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Pola makan sehat berkelanjutan dilakukan untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan optimal semua individu dan mendukung fungsi dan kesejahteraan fisik, mental dan sosial di semua tahap kehidupan untuk generasi sekarang dan mendatang. Makan sehat dan berkelanjutan berkontribusi untuk mencegah segala bentuk masalah gizi, mengurangi risiko penyakit tidak menular yang berkaitan dengan makan, serta mendukung pelestarian keanekaragaman hayati dan kesehatan bumi.

Berikut adalah hal-hal yang bisa dilakukan agar makan menjadi lebih sehat dan berkelanjutan :

1.Makan lebih banyak sayur dan buah

Sayur dan buah merupakan pilihan makanan yang lebih sehat dan memiliki dampak terhadap lingkungan lebih rendah dibandingkan daging, susu, dan produk pangan olahan. Sebagian besar komponen sayur dan buah bisa dikonsumsi sehingga menghasilkan timbulan sampah yang lebih sedikit. Selain itu sayur dan buah bisa dikonsumsi tanpa harus diolah sehingga mengurangi penggunaan energi.

2.Membatasi konsumsi sumber pangan hewani

Bahan pangan hewani seperti daging adalah sumber protein yang tinggi bagi tubuh. Meskipun demikian, rantai pasokan produk peternakan ternyata menyumbang 14,5% dari emisi gas rumah kaca global. Pola makan berkelanjutan mendorong kita untuk lebih bijak dalam mengonsumsi pangan hewani agar tidak menimbulkan beban masalah lingkungan yang besar.

3.Menanam sendiri sayuran

Kita bisa membuat pilihan sayur yang lebih sehat dari sumber yang tidak tercemar. Menanam sendiri juga bisa mengurangi dampak lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan transportasi karena tidak perlu berkendara untuk membeli sayuran.

4.Mengurangi sampah sisa makanan 

Tips untuk mengurangi sampah sisa makanan adalah makan secukupnya dan tidak 

berlebihan, membuat meal planning, atau mengolah kembali sisa makanan yang bisa dimanfaatkan misal untuk makanan ternak atau pupuk organik.

5.Meminimalisir penggunaan plastik kemasan

Plastik menyumbang timbunan sampah terbanyak kedua setelah sisa makanan. Untuk mengurangi penggunan plastik kemasan makanan kita bisa mulai membawa tempat makanan dan minuman/tumbler sendiri ketika sedang bepergian. Jika berbelanja di supermarket sebaiknya menggunakan tas belanja sendiri.

6.Makan pangan lokal sesuai dengan musim

Memilih makanan yang ada di sekitar kita adalah salah satu prinsip makan berkelanjutan karena lebih mudah dijangkau dan menghemat biaya serta energi. 

7.Hindari memilih makanan olahan 

Selain tidak baik untuk kesehatan dan menghilangkan sebagian besar zat gizi dalam 

prosesnya, makanan olahan membutuhkan banyak sumber daya dalam produksi. Biasakan membeli makanan dalam bentuk utuh dan belum diproses, dan mengolah sendiri dengan pengolahan yang sederhana.

8.Makan dengan penuh kesadaran (mindful eating)

Mindful eating berarti menghindari gangguan ketika makan dan fokus melibatkan seluruh indera dan emosi untuk menikmati makanan. Seseorang yang tidak menerapkan mindful eating (mindless eating) dikaitkan dengan masalah kesehatan seperti gangguan kecemasan dan penambahan berat badan karena makan berlebihan. Contoh mindless eating adalah makan sambil mengemudi, sambil bekerja, melihat ponsel.

 

Sumber:

Helmyati dkk. 2024. Mengenal Lebih Dekat Sustainable Healthy Diet, Makan Sehat yang Ramah Lingkungan. Yogyakarta: Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia

Talk Show Gizi dan Kebugaran oleh Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia Bahas Pentingnya Asupan dan Olahraga untuk Cegah Obesitas.

Berita Selasa, 17 September 2024

Sleman, PKGM – Sabtu, 14 September 2024, Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia (PKGM) FK-KMK UGM menyelenggarakan talk show tentang gizi dan kebugaran yang ditujukan bagi masyarakat umum.

Talk show bertema “Berlari atau Berjalan? Memilih Olahraga Efektif untuk Turunkan Berat Badan” ini dilaksanakan secara daring melalui zoom meeting dan disiarkan langsung pada kanal YouTube PKGM.

Dalam pembukaannya, Ibu Dr. Siti Helmyati, DCN., M.Kes selaku Ketua PKGM menyampaikan bahwa angka obesitas di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2018 hingga 2023. Ibu Helmyati juga menyebutkan berkembangnya tren “weight loss journey” di media sosial membuat masyarakat lebih aware dengan masalah kelebihan berat badan dan terinspirasi untuk menjalankan pola hidup lebih sehat dengan berolahraga. Melalui talk show ini PKGM membahas fenomena penurunan berat badan pada orang dengan kegemukan atau obesitas melalui pendekatan keilmuan gizi dan olahraga.

Dua narasumber dihadirkan saat talk show. Antara lain Diwyacitta Pahdarina, S.Gz., CSN, seorang sport nutrition advisor yang aktif sebagai konsultan gizi dan kerap membagikan konten tentang gizi kesehatan dan olahraga di instagramnya @pahdarina.ahligizi. Pahdarina mengisi sesi pertama talk show dengan membahas tentang bahaya obesitas dan bagaimana memilih olahraga yang efektif untuk menurunkan berat badan bagi seseorang dengan kelebihan berat badan atau obesitas.

“Olahraga yang efektif adalah olahraga yang paling disukai dan paling bisa dilakukan secara konsisten” ungkapnya.

Pada sesi ini pahdarina juga menjelaskan tentang perbedaan efektivitas berlari dan berjalan kaki. Yang terpenting menurut Pahdarina, bagi seseorang dengan obesitas, penting untuk memastikan olahraga yang aman dengan memilih low-impact exercise agar tidak menimbulkan cidera.

Narasumber lainnya adalah Saskia Fika Ilmiyani, S.Gz., RD, seorang dietisien klinis yang juga aktif sebagai pelari. Saskia mengisi materi tentang cara menyusun gizi yang tepat bagi seseorang pelari dan tips agar mencapai performa maksimal saat berolahraga. Sebagai seseorang yang aktif dalam olahraga berlari, Saskia turut membagikan cerita pengalamannya hingga mampu mencapai personal best.

“Bertemu teman-teman yang memang suka berlari atau gabung di komunitas lari yang sekarang bisa banyak ditemukan” pungkas Saskia, yang turut menekankan pentingnya menemukan lingkungan suportif agar bisa konsisten dalam berolahraga.

Moderator memandu sesi tanya jawab yang cukup aktif. Pertanyaan diajukan oleh para peserta baik dari di zoom maupun kanal YouTube. Pada akhir sesi, moderator membacakan para peserta yang beruntung mendapatkan goodie bag menarik dari panitia dan menutup acara talk show dengan foto bersama.

Kegiatan ini sebagi bentuk komitmen PKGM untuk mendukung tujuan pembagunan berkelanjutan ketiga yaitu menciptakan kesehatan yang baik dan kesejahteraan serta tujuan keempat yaitu mendukung pendidikan bermutu bagi masyarakat. (Kontributor: LA)

Mengenal Istilah Food Loss dan Food Waste dan Situasinya di Indonesia

Konten Edukasi Kamis, 12 September 2024

Organisasi Pangan dan Pertanian atau Food and Agriculture Organization (FAO) menyebutkan bahwa sepertiga dari makanan yang diproduksi untuk konsumsi, berakhir hilang atau terbuang saat proses panen dan konsumsi, yang dikenal dengan istilah food loss dan food waste. Di tingkat global, food loss dan food waste berkontribusi pada 4.4 gigaton emisi gas rumah kaca (FAO, 2015). Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2023, sisa makanan menyumbang kontribusi terbesar sampah dengan persentase mencapai 40,91%, lebih banyak dibandingkan sampah plastik sebesar 19,18%. Selama ini kesadaran masyarakat akan sampah lebih banyak terpusat pada sampah plastik. Sebaliknya, sampah sisa makanan masih dipandang sebelah mata. Padahal sampah sisa makanan memberikan dampak negatif juga terhadap lingkungan.

Apa itu Food Loss dan Food Waste?

Food loss merujuk pada makanan yang hilang di berbagai tahap produksi, pengolahan, penyimpanan, dan distribusi makanan sebelum mencapai tahap konsumsi. Sedangkan food waste adalah sisa makanan masih layak konsumsi yang terbuang sebagai sampah. 

Food Loss dapat terjadi sejak tahap produksi hingga distribusi, seperti hasil panen rusak karena cuaca ekstrem, makanan mengalami kerusakan selama transportasi, penyimpanan yang tidak 

tepat sehingga makanan menjadi tidak layak konsumsi sebelum sampai ke konsumen. Food waste sering ditemukan di tahap konsumsi di akhir rantai pasok makanan, seperti di rumah tangga, restoran, atau supermarket. Ruang lingkup food loss dan food waste dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 1. Ruang Lingkup Food Loss dan Food Waste

Sumber: Bappenas. (2021). Laporan Kajian Food Loss and Waste di Indonesia. Jakarta: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

Penyebab Food Loss dan Food Waste

Penyebab food loss dan food waste berasal dari aspek yang cukup berbeda. Food loss dapat disebabkan karena faktor eksternal manusia seperti kondisi lingkungan, infrastruktur yang buruk, dan praktik manajemen yang tidak efisien selama produksi hingga distribusi. Sedangkan food waste sebagian besar timbul karena faktor internal seseorang seperti konsumen tidak menyukai makanan, mempersiapkan makanan dengan berlebihan, kesadaran yang kurang akan nilai makanan, dan perhatian yang kurang terhadap manajemen sisa makanan. Penyebab food waste lainnya adalah terkait keamanan pangan karena makanan melebihi tanggal kadaluarsa. 

Situasi dan Dampak Food Loss dan Food Waste di Indonesia

Bappenas Republik Indonesia telah merilis Laporan Kajian Food Loss and Waste di Indonesia tahun 2021. Bappenas melaporkan timbulan food loss dan food waste di Indonesia pada tahun 2000-2019 mencapai angka 115-184 kg/kapita/tahun atau rata-rata dalam satu bulan seseorang bisa menghasilkan 9,6-15,3 kg timbulan food lost dan food waste. Dari aspek tahap rantai pasok, timbulan terbesar di temukan di tahap konsumsi. Dari aspek sektor dan jenis pangan, timbulan terbesar terjadi di tanaman pangan kategori padi-padian. Sementara sektor pangan paling tidak efisien adalah tanaman hortikultura, yaitu di kategori sayur-sayuran. 

Dampak yang ditimbulkan dari food loss dan food waste mengancam berbagai aspek kehidupan, tidak hanya lingkungan namun ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Dalam rentang waktu 2000 hingga 2019, total emisi timbulan Food loss dan food waste diestimasi mencapai 1.702,9 Mt CO2, ek, dengan rata-rata kontribusi per tahun setara dengan 7,29% emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Indonesia. Kerugian dari timbulan food loss dan food waste tersebut diperkirakan mencapai 213-551 triliun rupiah/tahun atau setara dengan 4-5% PDB Indonesia. Jumlah orang yang dapat diberi makan dari kehilangan kandungan gizi dari food loss dan food waste tahun 2000-2019 adalah sebanyak 61-125 juta orang atau 29, 47% populasi Indonesia. 

Ancaman food loss dan food waste harus disikapi oleh setiap orang dengan lebih bijak dan sadar akan pentingnya menghargai makanan sehingga jumlah kehilangan dan sampah yang dihasilkan dapat ditekan seminimal mungkin. 

 

Sumber:

Helmyati dkk. 2024. Mengenal Lebih Dekat Sustainable Healthy Diet, Makan Sehat yang Ramah Lingkungan. Yogyakarta: Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia

Peneliti dari Pusat Kesehatan Gizi dan Manusia Lakukan Pemaparan Hasil Kajian Beras Fortifikasi

Berita Selasa, 10 September 2024

Jakarta, PKGM – Selasa, 3 September 2024, Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia (PKGM) FK-KMK UGM melakukan kunjungan ke Perum BULOG Pusat di BULOG Corporate University untuk melakukan presentasi hasil kajian. Tim PKGM diwakilkan oleh Dr. Siti Helmyati, DCN., M. Kes selaku ketua peneliti dan lima anggota lainnya. Turut hadir dari Perum BULOG perwakilan dari Divisi Riset, Perencanaan Strategis, dan Analisis Kebijakan, Divisi Manajemen Mutu, Divisi Penjualan, Divisi Pemasaran dan Pengembangan Bisnis, serta Divisi Pengadaan dan Manajemen Produk. Kegiatan dibuka dan dipandu oleh Bapak Amrullah selaku kepala Pusat Riset, Perencanaan Strategis dan Analisis Kebijakan.

Hasil kajian PKGM dipaparkan oleh Lintang Aryanti, S.Gz. dengan judul “Uji Efikasi Beras Fortivit pada Balita Stunted dan Remaja Putri: Pendekatan pada Remaja Putri dan Balita untuk Mengatasi Malnutrisi”. Di hadapan tim Perum BULOG, Lintang menyampaikan temuan-temuan yang didapatkan dari hasil kajian intervensi pemberian beras fortifikasi “Fortivit” dan efeknya terhadap status gizi balita stunted dan remaja putri. Selain itu, dipaparkan juga analisis keunggulan beras fortifikasi “Fortivit” dan peluang pengembangannya di masa mendatang. Pemaparan diapresiasi dengan baik oleh tim Perum BULOG Pusat dan setiap divisi menyampaikan tanggapan terhadap temuan. Pada kesempatan ini, tim peneliti memberikan beberapa saran dan rekomendasi untuk pengembangan beras fortifikasi berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan.

Hal yang melatar belakangi mengapa kajian ini dilakukan adalah karena stunting masih menjadi isu kesehatan nasional prioritas sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024. Upaya percepatan penurunan stunting digalakkan oleh pemerintah Indonesia dengan pendekatan spesifik dan sensitif, dilaksanakan secara konvergen, holistik, serta multisektor. Meskipun stunting terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan, yaitu pada masa kehamilan hingga anak lahir dan berusia 2 tahun, upaya pencegahan harus dilakukan sedini mungkin sejak masa remaja. Di satu sisi, ancaman masalah gizi anemia mengancam remaja putri di Indonesia. Beras masih menjadi komoditas utama makanan pokok masyarakat Indonesia. Sayangnya beras hanya mampu memberikan sumbangsih kalori tetapi rendah zat gizi mikro. Sehingga fortifikasi beras dapat menjadi strategi yang prospektif dalam mengatasi kekurangan gizi mikro untuk masalah anemia dan stunting di Indonesia. 

Kegiatan ini memberikan angin segar dalam penanganan masalah gizi di Indonesia khususnya anemia dan stunting. Tim Perum BULOG Pusat berkomitmen untuk menghasilkan beras fortifikasi yang memiliki nilai gizi unggul namun dapat bersaing di pasar dan diminati oleh masyarakat. Harapannya hasil kajian ini dapat mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan ke 2 dan 3 yaitu menghapus kelaparan dan menciptakan kesehatan serta kesejahteraan masyarakat yang lebih baik. Kerjasama antara PKGM dan Perum BULOG menjadi contoh pentingnya kemitraan antara institusi perguruan tinggi dan lembaga pemerintah guna mendukung pengembangan bisnis berbasis riset.

 

Kontributor: Ulfatul Karomah & Heriski Dwiutami

 

Focus Group Discussion Bersama Kader Pelaksana Kegiatan dan Stakeholder Program Implementasi Model Best Practice Kampung KB BKKBN

Berita Sabtu, 31 Agustus 2024

Sleman, PKGM – Tim dari Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia melaksanakan focus group discussion (FGD) tentang program penanganan stunting di Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman pada Rabu, 14 dan 21 Agustus 2024. FGD ini merupakan rangkaian kegiatan pendampingan Implementasi Model Best Practice Kampung Keluarga Berkualitas (KB) yang dilaksanakan oleh Perwakilan BKKBN DIY di Kampung KB Kalurahan Condongcatur. 

FGD pertama dilaksanakan pada tanggal 14 Agustus 2024 berlokasi di rumah kepala dusun Gempol. Peserta merupakan kader dan tim pelaksana program model best practice kampung KB yang erdiri dari kader Posyandu, kader Bina Keluarga Balita (BKB), kader Kampung KB, Penyuluh KB, dan kader DASHAT. Sebanyak 11 orang hadir mengikuti diskusi yang dipandu oleh Tim dari PKGM. Selang seminggu kemudian, pada tanggal 21 Agustus 2024, PKGM kembali melakukan diskusi bersama para pihak terkait program stunting di wilayah Kalurahan Condongcatur. FGD kedua ini mengundang sebanyak 12 peserta perwakilan dari Puskesmas, Pemerintah Desa/Kalurahan, Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Desa, tim penggerak PKK, tokoh adat/masyarakat, dan tokoh agama. 

Kegiatan FGD ini bertujuan untuk menggali informasi terkait pelaksanaan program pencegahan dan penanggulangan stunting yang sedang berjalan serta bagaimana komitmen seluruh pihak masyarakat dalam mewujudkan program tersebut. Secara khusus tim PKGM juga menanyakan tentang evaluasi kegiatan implementasi model best practice kampung KB yang dilaksanakan di BKB Warna Warni Dusun Gempol.

Sudah banyak program stunting yang dilaksanakan di Kalurahan Condongcatur mengingat wilayah ini sempat menjadi lokus stunting. Program-program baik dari pemerintah pusat maupun daerah diimplementasikan oleh pemerintah desa dengan melibatkan puskesmas maupun kader-kader di masyarakat. Para kader berusaha untuk menjalankan tugas sebaik mungkin meskipun terkadang terkendala dengan pembiayaan yang terbatas dan banyaknya pelaporan. Pihak pemerintah desa dan kader berharap akan lebih banyak institusi pendidikan dan swasta yang ikut mendukung program stunting di masyarakat. Hasil diskusi ini dijadikan bahan pertimbangan tim PKGM dalam melakukan evaluasi program dan menyusun rekomendasi kebijakan terkait model best practice kampung KB untuk percepatan penurunan stunting. 

Kegiatan ini turut mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan ke 3 yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia.

Open Kontributor Artikel

Berita Selasa, 27 Agustus 2024

Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia (PKGM) FK-KMK UGM membuka kesempatan bagi mahasiswa dan alumni Gizi Kesehatan UGM untuk menjadi kontributor artikel kesehatan di PKGM. Program ini terbuka sepanjang tahun lho.. untuk ketentuan lebih lanjut bisa klik di link: bit.ly/ketentuanartikelPKGM

Ayo submit tulisanmu seakarang dan dapatkan feenya!

More info
Email: ch2n.fk@ugm.ac.id
Instagram: pkgm.ugm
Website: pkgm.fk.ugm.ac.id

Audiensi Hasil Penelitian: Pangan Kebutuhan Medis Khusus (PKMK) dalam Pengendalian Malnutrisi dan Stunting

Berita Jumat, 9 Agustus 2024

Sleman, PKGM – Kamis, 8 Agustus 2024, Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia (PKGM) FK-KMK UGM melakukan audiensi daring melalui zoom meeting bersama Bebas Stunting Indonesia. Tim PKGM dihadiri oleh Dr. Siti Helmyati, DCN., M.Kes selaku ketua peneliti dan 4 anggota tim lainnya sedangkan dari Tim Bebas Stunting Indonesia hadir 3 orang yaitu Roosje Kumara R, dr. Tono Rustiano, dan Lenny Marlina.

Audiensi bertujuan untuk penyampaian hasil kajian PKGM terkait Pangan Kebutuhan Medis Khusus (PKMK) dalam pengendalian malnutrisi dan stunting kepada Bebas Stunting Indonesia sebagai NGO yang aktif bergerak membantu menurunkan stunting di pusat maupun daerah.
Kegiatan audiensi dipandu oleh moderator, Gifani Rosili dan diawali dengan sambutan dan perkenalan dari Tim PKGM oleh Ibu Siti Helmyati. Ibu Roosje Kumara dari Bebas Stunting Indonesia turut memperkenalkan tim dan menyampaikan program-programnya yang sedang berjalan. Bebas Stunting Indonesia memiliki kegiatan utama melakukan advokasi berdasarkan hasil hajian.

Hasil kajian PKGM dipaparkan oleh Cut Alima Syarifa, S.Gz., Dietisien. Alima membahas terkait manfaat dan efektivitas biaya penggunaan ONS sebagai PKMK dalam penanganan malnutrisi dan stunting, gambaran penanganan malnutrisi dan stunting dengan PKMK di DIY, gambaran pembiayaan penanganan malnutrisi dan stunting dengan PKMK, dan abstrak protokol studi.

Paparan tersebut ditanggapi dengan baik oleh tim Bebas Stunting Indonesia. Ibu Roosje menyampaikan hasil kajian timnya menunjukkan intervensi PKMK berhasil menurunkan peningkatan status gizi dari pendek menjadi normal sebesar 37,5% dan dari sangat pendek menjadi pendek sebesar 12,8%. Menurut Bu Roosje PKMK menjadi harapan baru dalam penanganan stunting di Indonesia. Namun dalam pelaksanaannya ditemukan masalah pada tingkat kedatangan kontrol pasien. Ditemukan adanya beban biaya yang harus ditanggung oleh pasien penerima PKMK seperti biaya transportasi saat kontrol ke rumah sakit mengingat di daerah lain RS rujukan stunting jumlahnya masih terbatas. Diskusi berjalan dua arah, baik tim PKGM maupun tim Bebas Stunting Indonesia membagikan pengalaman kajian-kajian stunting yang pernah dilakukan.

Kegiatan ini turut mendukung keberhasilan tujuan pembangunan berkelanjutan ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan. Ibu Siti Helmyati berharap dengan dilaksanakannya audiensi bisa menciptakan kolaborasi antara PKGM dan Bebas Stunting Indonesia di masa mendatang khususnya dalam penanganan masalah stunting di Indonesia.

Kontributor: Lintang Aryanti

PKGM Adakan Edukasi tentang Kesehatan Mental pada Siswa SMP

Berita Senin, 29 Juli 2024

Bantul, PKGM – Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia (PKGM) FK-KMK UGM menyelenggarakan kegiatan edukasi tentang pentingnya mengelola kesehatan mental remaja kepada siswa-siswi sekolah menengah pertama. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 29 Juli 2024 pukul 09.00 bertempat di halaman SMPIT LHI Banguntapan, Kabupaten Bantul. Edukasi kesehatan mental merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat PKGM Tahun 2024 dengan judul “Sehat Bersama Sekolah: Membangun Budaya Kesehatan Melalui Program Health Promoting School”

Sebagai narasumber, Ibu Erna Susilowati, S.Psi., M.Psi., Psikolog menyampaikan materi dengan judul “Cara Mengelola Kesehatan Mental Remaja” Ibu Erna membuka sesi edukasi dengan dua cerita dan meminta peserta untuk membandingkan perbedaan keduanya. Di tengah sesi, peserta diminta menonton video kartun animasi yang menampilkan contoh masalah kesehatan mental yaitu kecemasan. Ibu Erna juga menyampaikan kasus-kasus kesehatan mental yang kerap dialami oleh remaja sehingga cukup relevan dengan peserta. Sebelum menutup sesi Ibu Erna menegaskan larangan untuk self diagnosed atau mendiagnosis sendiri masalah kesehatan mental yang dialami. Pada akhir sesi, siswa bertanya mengenai kondisi yang dialami oleh masing-masing dari mereka. Diskusi berjalan dengan baik dan para siswa antusias untuk bertanya. 

Edukasi ini diikuti oleh siswa-siswi kelas 7 sebanyak 70 anak. SMPIT LHI Banguntapan memiliki concern tentang pentingnya mengenalkan kesehatan mental anak sehingga setiap siswa baru akan diberikan tambahan materi terkait topik tersebut. Setiap tahunnya siswa baru juga akan diminta menjalankan project khusus dengan tema kesehatan mental. Pada tahun ini PKGM berkesempatan mengisi sesi edukasi. Semoga kerjasama ini dapat terjalin berkelanjutan di tahun-tahun berikutnya.

Program pengabdian masyarakat bertema Health Promoting School menjadi bagian dari komitmen PKGM dalam mendukung tercapainya tujuan ke-3 pembangunan berkelanjutan yaitu menciptakan kesehatan yang baik dan kesejahteraan.

 

Kontributor: Lintang Aryanti

Edukasi Anemia Pada Siswa Putri SMP IT LHI Banguntapan

Berita Jumat, 19 Juli 2024

Bantul, PKGM – Anemia merupakan salah satu permasalahan serius yang seringkali ditemukan pada anak dan remaja. Berdasarkan hasil Riskesdas 2018, prevalensi anemia pada anak usia 5-14 tahun adalah sebesar 26.8% dan pada anak usia 15-24 tahun adalah 32%. Sebagai upaya untuk mencegah dan mengatasi anemia, pemerintah menciptakan program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada tahun 2014 yang didistribusikan melalui Puskesmas dan sekolah. Akan tetapi, kurangnya pengetahuan tentang pentingnya konsumsi TTD menyebabkan konsumsi TTD menjadi rendah. Selain itu, rendahnya pengetahuan remaja juga dapat berpengaruh terhadap perilaku, pola hidup, dan kebiasaan makan yang menyebabkan terjadinya anemia.

Pada hari Jumat, 19 Juli 2024 bertempat di SMP LHI Banguntapan, Bantul, Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia (PKGM) FK-KMK UGM menyelenggarakan penyuluhan , yang pada kesempatan ini diwakili oleh Lintang Aryanti, S.Gz, berkesempatan menjadi narasumber dalam kegiatan “Penyuluhan Pentingnya Mencegah Anemia pada Remaja” yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat “Sehat Bersama Sekolah: Membangun Budaya Kesehatan Melalui Program Health Promoting School”. Sebelum pemaparan materi, siswa putri dari kelas 7-9 diminta untuk mengisi pre-test terlebih dahulu. Setelah materi selesai disampaikan, diadakan sesi tanya jawab mengenai materi yang telah dipaparkan. Para siswa aktif memberikan pertanyaan untuk menjawab keingintahuannya seputar topik anemia pada remaja putri. Setelah sesi tanya jawab, siswa diminta mengisi post-test. Di akhir acara, diadakan sesi FGD oleh pihak sekolah dengan meninjau ulang materi yang telah disampaikan sebelumnya. Pada sesi ini siswa juga berbagi pengetahuan baru yang diperoleh dari sesi materi tersebut.

Semoga dengan adanya penyuluhan ini, siswa putri dapat lebih memahami cara mencegah anemia dan ikut serta berperan aktif dalam pencegahan anemia pada remaja. Pencegahan anemia diharapkan dapat mendukung capaian SDGs nomor 3 yaitu kehidupan sehat dan sejahtera (Good health and well-being) di semua kelompok usia. Selain itu, kegiatan ini juga penting agar generasi muda terbebas dari malnutrisi baik berupa kekurangan maupun kelebihan gizi. Hal ini turut mendukung pencapaian SDGs nomor 2 yaitu tanpa kelaparan (Zero hunger) yang salah satu targetnya adalah mengakhiri segala bentuk malnutrisi.

 

Kontributor: Mitha Aristyarini

1234

Berita Terkini

  • PKGM Selenggarakan Workshop Nutritional Life Cycle Assessment (nLCA) untuk Dukung Sistem Pangan Berkelanjutan
    12/03/2026
  • Limited Seat! Workshop nLCA Daring 24–25 Februari 2026
    09/02/2026
  • Mengendalikan Konsumsi Ultra-Processed Foods (UPF) sebagai Bagian dari Sustainable Healthy Diets Menuju Generasi Emas 2045
    27/01/2026
Universitas Gadjah Mada

Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia (PKGM)
(Center for Health and Human Nutrition/CH2N)

Gd Litbang FK-KMK Lt.3, Jalan Medika No.1, Sendowo, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Telp./Faks. (0274) 547775
Email: ch2n.fk@ugm.ac.id

© PKGM-FKKMK UGM 2021

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY