• UGM
  • IT Center
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia
Universitas Gajah Mada
  • Beranda
    • Kalender Kegiatan
    • Kegiatan Terdekat
    • Berita
    • Konten Edukasi
    • Magang
    • Laporan Tahunan
  • Tentang PKGM
    • Profil
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Peneliti
    • Kontak Kami
  • Kegiatan
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
    • Pelatihan
    • Publikasi
  • Pengalaman Kerjasama
    • Perusahaan
    • Pemerintah
  • LUARAN KEGIATAN
    • Buku dan Modul
    • Video
    • POLICY BRIEF
    • ARTIKEL JURNAL
  • Beranda
  • Konten Edukasi
Arsip:

Konten Edukasi

Mengendalikan Konsumsi Ultra-Processed Foods (UPF) sebagai Bagian dari Sustainable Healthy Diets Menuju Generasi Emas 2045

Konten Edukasi Selasa, 27 Januari 2026

Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66 tahun 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat pembangunan gizi masyarakat Indonesia. HGN tahun ini mengusung tema “Gizi Optimal Menuju Indonesia Emas 2045” yang menegaskan pentingnya membangun generasi sehat, berkualitas, dan berdaya saing sejak dini sebagai fondasi utama menuju Indonesia emas. 

Tantangan gizi saat ini tidak lagi sebatas kekurangan gizi, tetapi juga kelebihan gizi dan meningkatnya penyakit tidak menular yang berkaitan erat dengan perubahan pola makan masyarakat. Salah satu isu yang perlu menjadi perhatian adalah tingginya konsumsi Ultra-Processed Foods (UPF). Penelitian pada tahun 2020 menunjukkan bahwa 45% total asupan kalori masyarakat Indonesia berasal dari konsumsi UPF dengan tren yang lebih tinggi pada kelompok anak-anak dan remaja (Diba, 2025). Tingginya konsumsi UPF tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga memperberat beban lingkungan. 

UPF merupakan kelompok makanan yang diproduksi melalui proses industri dengan menggunakan bahan tambahan, seperti pengawet, pewarna, perasa, dan pemanis buatan yang menyebabkan rendahnya kandungan gizi (Fitriani et al., 2025). UPF memiliki karakteristik padat energi, tinggi gula, lemak jenuh dan trans, sodium serta rendah serat dan zat gizi mikro esensial. Contohnya adalah produk siap saji berupa mi instan, sosis, nugget, makanan ringan kemasan, minuman berpemanis, dan lainnya (Hanifa et al., 2024). Kepraktisan dan cita rasa yang menarik menjadikan UPF semakin digemari, namun di sisi lain konsumsi UPF juga menimbulkan dampak lingkungan. Proses produksi UPF umumnya membutuhkan energi yang besar, penggunaan bahan tambahan pangan dan kemasan sekali pakai, serta rantai distribusi yang panjang, sehingga meningkatkan jejak karbon dan volume limbah (Anastasiou et al., 2022).

Penelitian kualitatif oleh Colozza (2024) mencatat peningkatan pesat konsumsi UPF, minuman berpemanis, serta makanan siap saji. Peningkatan ini didorong oleh ketersediaan yang semakin luas, harga yang lebih terjangkau, dan kemudahan akses, serta diidentifikasi sebagai salah satu pendorong utama meningkatnya beban kelebihan berat badan dan obesitas di Indonesia. Konsumsi UPF juga berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan yang kompleks, termasuk gangguan metabolik, kardiovaskular, dan kesehatan mental (Ahmed et al., 2024). 

Selain berdampak pada kesehatan, narrative review dari 52 studi juga menunjukkan bahwa konsumsi UPF berdampak terhadap penggunaan energi dalam sistem pangan, emisi gas rumah kaca, hilangnya keanekaragaman hayati, serta kerusakan lingkungan seperti degradasi lahan dan pencemaran perairan (Anastasiou et al., 2022). Jika tidak dikendalikan, tingginya konsumsi UPF dapat menghambat upaya menciptakan sumber daya manusia sehat, produktif, dan berdaya saing yang menjadi fondasi utama membentuk generasi emas 2045. Diperlukan pendekatan pola makan yang tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi individu, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan sistem pangan. Salah satu pendekatan yang dapat menjadi solusi adalah Sustainable Healthy Diets.

Sustainable Healthy Diets merupakan pola makan yang mengintegrasikan kesehatan manusia dengan dampak yang minimal pada lingkungan. Tujuan Sustainable Healthy Diets adalah mencapai pertumbuhan dan perkembangan optimal dengan mendukung fisik, mental, dan sosial bagi generasi sekarang dan mendatang, mencegah segala bentuk malnutrisi (kekurangan gizi, defisiensi mikronutrien, overweight, obesitas), menurunkan risiko penyakit tidak menular terkait pola makan, serta mendukung pelestarian keanekaragaman hayati dan kesehatan planet (FAO dan WHO, 2019). 

Pengendalian konsumsi UPF dalam konsep Sustainable Healthy Diets dilakukan dengan mendorong pergeseran pola makan menuju pangan segar dan minim proses yang beragam, seimbang, serta sesuai budaya lokal. Prinsip FAO/WHO menekankan pembatasan asupan gula, garam, dan lemak berlebih, serta penguatan literasi gizi agar masyarakat mampu membuat pilihan pangan yang sehat, aman, dan terjangkau. 

Sustainable Healthy Diets juga menganjurkan pengurangan konsumsi pangan dengan proses industri intensif, rantai pasok panjang, serta penggunaan energi dan kemasan yang tinggi. Implementasi pembatasan UPF mendorong peralihan ke pangan segar, lokal, dan musiman, yang tidak hanya menurunkan emisi gas rumah kaca dan limbah, tetapi juga mendukung pelestarian keanekaragaman hayati serta keberlanjutan sumber daya alam. Upaya ini perlu didukung oleh lingkungan pangan yang kondusif, termasuk ketersediaan pilihan pangan sehat, pelabelan pangan yang jelas, dan promosi pola makan berkelanjutan untuk menekan ketergantungan pada UPF sekaligus melindungi kesehatan manusia dan lingkungan.

Dalam rangka Hari Gizi Nasional 2026, pengendalian konsumsi UPF perlu menjadi perhatian bersama sebagai bagian dari penerapan Sustainable Healthy Diets. Dengan mendorong pola makan yang lebih sehat, berkelanjutan, dan berbasis pangan lokal, Indonesia dapat menyiapkan generasi yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga mampu menjaga keberlanjutan lingkungan dan sistem pangan demi terwujudnya generasi emas 2045.

Artikel ini berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-2 (Zero Hunger) yang menekankan pemenuhan gizi seimbang dan berkelanjutan, poin ke-3 (Good Health and Well-being) dalam upaya pencegahan penyakit tidak menular, poin ke-12 (Responsible Consumption and Production) yang mendorong pola konsumsi pangan yang lebih sehat dan ramah lingkungan.

Referensi

Ahmed, A., Imran, A., R. Wei, C., Nadeem, R., Shankar, A., Balaji, J., Islam, F., & Befa Kinki, A. (2024). Contribution of ultra-processed foods to increased obesity and non-communicable diseases. Cogent Food and Agriculture, 10(1), 1–13. https://doi.org/10.1080/23311932.2024.2438405

Anastasiou, K., Baker, P., Hadjikakou, M., Hendrie, G. A., & Lawrence, M. (2022). A conceptual framework for understanding the environmental impacts of ultra-processed foods and implications for sustainable food systems. Journal of Cleaner Production, 368(December 2021), 133155. https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2022.133155

Colozza, D. (2024). A qualitative exploration of ultra-processed foods consumption and eating out behaviours in an Indonesian urban food environment. Nutrition and Health, 30(3), 613–623. https://doi.org/10.1177/02601060221133897

Diba, F. (2025). Ultra-Processed Foods, Innovation in the Modern Food Industry. Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan, 24(1), 191–201.

FAO dan WHO. (2019). Sustainable Healthy Diets – Guiding Principle.

Fitriani, Y., Yulda, A., Ayona, N., & Firmansyah, A. F. (2025). Hubungan Pola Konsumsi Ultra Proses Dengan Status Gizi Di Kalangan Remaja: Systematic Review The Relationship Between Ultra-Processed Food Consumption Patterns and Nutritional Status Among Indonesian Adolescents : A Systematic Review. Jurnal Kesmas Dan Gizi (JKG), 8(1), 173–182.

Hanifa, R. A., Arini, F. A., & Wahyuningsih, U. (2024). Night Eating Syndrome, Ultra-processed Foods Consumption, and Physical Activity as Risk Factors for Overnutrition in Students of Faculty of Health Science UPN “Veteran” Jakarta. Amerta Nutrition, 8(3SP), 43–50. https://doi.org/10.20473/amnt.v8i3SP.2024.43-50

 

Kontributor Artikel: Fidella

HACCP dan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi: Pilar Keamanan Pangan di Indonesia

Konten Edukasi Senin, 26 Januari 2026

Keamanan pangan merupakan langkah untuk menjamin bahwa keamanan makanan yang dikonsumsi yang berpotensi untuk dapat mengganggu atau membahayakan kesehatan. Keamanan pangan harus memenuhi standar resmi yang mencakup aspek kebersihan, penanganan, penyimpanan, serta pengolahan yang tepat sesuai dengan regulasi yang diawasi oleh Badan POM. HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point) dan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) adalah dua konsep yang saling melengkapi dalam upaya menjaga agar makanan aman dikonsumsi. Meski keduanya berfokus pada keamanan pangan, peran dan cakupannya keduanya berbeda. Mari kita Simak Bersama!

Apa itu HACCP?

HACCP merupakan suatu sistem yang dirancang untuk mengenali, menilai, serta mengendalikan potensi bahaya biologis, kimiawi, maupun fisik yang dapat muncul pada setiap tahap proses produksi atau kegiatan jasa boga. Sistem ini berlandaskan pada beberapa prinsip utama, yaitu analisis bahaya, penetapan titik kendali kritis (Critical Control Point atau CCP), penentuan batas kritis, kegiatan pemantauan, tindakan koreksi, proses verifikasi, serta pencatatan secara menyeluruh.

Konsep HACCP dikembangkan berdasarkan panduan dari Codex Alimentarius yang dikeluarkan oleh FAO/WHO dan sekarang telah diakui secara global sebagai standar utama dalam pengelolaan risiko keamanan pangan. Penerapan sistem ini memungkinkan pelaku usaha pangan untuk mencegah terjadinya kontaminasi sejak awal, bukan sekadar menanggulangi setelah masalah timbul.

Penerapan HACCP di Indonesia telah difasilitasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui pedoman teknis yang disusun dengan mengacu pada prinsip Codex, tetapi tetap disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Panduan tersebut membantu berbagai unit produksi pangan, baik industri besar maupun usaha mikro, kecil, dan ,menengah (UMKM) agar dapat menerapkan langkah-langkah praktis sesuai dengan karakteristik produk dan proses pengolahannya.

Apa itu Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS)?

SLHS merupakan dokumen resmi yang diterbitkan oleh pemerintah daerah, biasanya melalui Dinas Kesehatan kabupaten atau kota sebagai bukti bahwa suatu tempat pengolahan maupun penyajian makanan, seperti restoran, jasa boga, depot air minum, atau kantin telah memenuhi standar kebersihan dan sanitasi sesuai dengan regulasi yang berlaku. Sertifikat ini menilai berbagai aspek, mulai dari kondisi bangunan dan penataan area dapur, kebersihan alat masak dan saji, perilaku higienis penjamah makanan hingga sistem pengelolaan limbah. Pada beberapa kasus, proses penilaian juga dapat mencakup inspeksi langsung serta pengujian sampel untuk memastikan kelayakan.

SLHS berfungsi sebagai persyaratan utama perizinan usaha di bidang pangan dan sering diwajibkan bagi sarana yang menyediakan makanan bagi masyarakat umum. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mengeluarkan berbagai pedoman dan surat edaran untuk mempercepat proses penerbitan SLHS serta menjamin bahwa seluruh layanan pangan publik memenuhi standar keamanan yang ditetapkan.

Tahapan penerbitan SLHS umumnya mencakup pemeriksaan dokumen administrasi, pelaksanaan pelatihan bagi penjamah makanan, observasi langsung oleh petugas kesehatan ke lokasi, serta pengujian sampel apabila dibutuhkan. Melalui mekanisme ini, pemerintah berupaya memastikan setiap penyedia jasa pangan beroperasi dengan aman, higienis, dan sesuai regulasi yang berlaku.

Perbedaan dan Sinergi: HACCP vs SLHS

Perbedaan utama antara HACCP ddaan SLHS dapat dilihat dari sifatnya. HACCP bersifat sistem manajemen internal yang fokus pada identifikasi dan pengendalian bahaya sepanjang proses. Sementara SLHS adalah bukti eksternal bahwa fasilitas tersebut laik dari sisi higiene dan sanitasi. Namun, keduanya saling menguatkan. Penerapan HACCP secara konsisten memudahkan fasilitas untuk memenuhi kriteria inspeksi SLHS karena banyak persyaratan SLHS terkait praktik hygiene dan pengendalian bahaya yang juga menjadi bagian dari system. Dengan demikian, HACCP itu dapat membantu organisasi mencegah risiko, sedangkan SLHS memberikan pengakuan formal bahwa upaya pencegahan tersebut telah memenuhi standar yang diakui pemerintah.

Langkah Praktis bagi Pelaku Usaha

  1. Lakukan penilaian awal terhadap proses produksi dan identifikasi bahaya potensial.
  2. Susun dokumen HACCP sederhana, seperti diagram alir proses, analisis bahaya, CCP, dan prosedur pemantauan.
  3. Pelatihan penjamah pangan agar praktik kebersihan personal dipatuhi (seragam, cuci tangan, kesehatan penjamah).
  4. Perbaiki fasilitas sesuai kebutuhan, seperti area cuci bersih, penyimpanan terpisah untuk bahan mentah, ventilasi, pengelolaan air limbah.
  5. Mengajukan permohonan SLHS ke Dinas Kesehatan setempat dengan melampirkan dokumen pendukung (denah, SOP, sertifikat pelatihan penjamah, hasil pengujian jika diminta).
  6. Jalankan pemantauan rutin dan dokumentasi untuk memudahkan kunjungan verifikasi dan audit internal.

Menggabungkan pendekatan teknis (HACCP) dan kepatuhan administratif (SLHS) adalah strategi paling efektif untuk menjamin pangan yang aman bagi konsumen sekaligus menjaga reputasi usaha. Pelaku usaha yang proaktif menerapkan prinsip HACCP dan melengkapi diri dengan SLHS tidak hanya mematuhi regulasi, tetapi juga meningkatkan kepercayaan pelanggan yang tentu itu merupakan suatu pondasi penting dalam bisnis pangan.

 

Refrensi:

  1. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI). (206). Pedoman HCCP:Program Manajemen Risiko Industri Pangan Berasam Rendah dalam Kaleng. Direktorat Inspeksi dan Sertifikasi Pangan. Jakarta.
  2. FAO and WHO. 2023. General Principles of Food Hygiene. Codex Alimentarius Code of Practice, No.CXC 1-1969. Codex Alimentarius Commission. Rome. https://doi.org/10.4060/cc6125en.
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1096/Menkes/Per/Vi/2011 Tentang Higiene Sanitasi Jasaboga dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Surat Edaran Nomor HK.02.02/C.I/4202/2025 tentang Percepatan Penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi pada Program Makan Bergizi Gratis. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

 

Kontributor artikel: Mitha Aristyarini, S.Gz., RD

Penyunting: Lintang Aryanti, S.Gz

Mengenal Lebih Dekat School Meal Program di Berbagai Negara

Konten Edukasi Rabu, 21 Januari 2026

Saat ini, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tengah menjadi sorotan publik di Indonesia. Program ini telah berjalan lebih dari satu tahun, namun masih menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Sebelum adanya MBG, school meal program (SMP) atau program makan di sekolah telah cukup populer dan diterapkan di berbagai negara di dunia.

Tujuan School Meal Program di Berbagai Negara

Setiap negara memiliki tujuan pelaksanaan SMP yang beragam. Fokus program SMP antara negara berpenghasilan menengah ke bawah dengan negara berpenghasilan tinggi ternyata memiliki perbedaan. Berdasarkan data Global Child Nutrition Foundation (2021), negara berpenghasilan rendah cenderung memiliki lebih banyak tujuan dalam satu program dimana tidak hanya untuk meningkatkan gizi anak, tetapi juga mendukung pendidikan, ekonomi keluarga, dan pertanian lokal. Sedangkan di negara berpenghasilan tinggi umumnya SMP terfokus pada isu spesifik, misalnya pencegahan obesitas. Meski begitu, hampir semua negara masih menempatkan aspek gizi dan pendidikan sebagai prioritas utama.

Cakupan dan Sasaran School Meal Program

World Bank (2024) menyebutkan bahwa cakupan SMP di negara berpenghasilan rendah dan menengah mencapai dua kali lipat dari negara berpenghasilan rendah. Hal ini menunjukkan bahwa seiring dengan tingginya pendapatan negara, maka cakupan programnya akan semakin luas. Cakupan program tersebut juga disesuaikan dengan bagaimana sumber pendanaan di negara tersebut. Pendanaan SMP di negara berpenghasilan tinggi, menengah ke atas, dan menengah ke bawah bersumber dari anggaran nasional, sedangkan negara berpenghasilan rendah sebagian besar mengandalkan dana donor dari kalangan internasional.

Berdasarkan model pemberiannya, SMP diberikan dengan cara menyediakan makan di tempat atau on-site meals. Model ini diterapkan hampir di seluruh negara yang memiliki program makan di sekolah. Model pemberian lainnya adalah dengan menyediakan makan siang (96 negara), menyediakan sarapan (49 negara), dan model take-home rations sebagai pelengkap on-site meals, yang sebagian besar diterapkan di negara berpenghasilan rendah.

Jika dilihat dari target programnya, negara berpenghasilan tinggi cenderung menerapkan model universal artinya semua anak di tingkat sekolah tertentu tanpa syarat atau quasi-universal dengan sasaran siswa yang memenuhi kriteria tertentu, individual targeting yaitu berdasarkan penghasilan keluarga atau school-based yaitu memilih sekolah dengan banyak siswa tidak mampu. Sedangkan negara berpenghasilan rendah lebih banyak menerapkan model geographic targeting yaitu menargetkan anak yang tinggal di wilayah tertentu berdasarkan kriteria kerentanan, prestasi akademik rendah, atau outcome gizi yang buruk.

National School Lunch Program di Amerika Serikat

Amerika Serikat menginisiasi National School Lunch Program (NSLP) pada tahun 1946 dengan tujuan menyediakan makanan bersubsidi bagi siswa yang berisiko mengalami kerawanan pangan. Kriteria sasaran dalam program ini dibedakan berdasarkan pendapatan rumah tangga. Makan gratis untuk siswa dengan penghasilan keluarga < 130% dari tingkat kemiskinan (federal poverty level), makanan bersubsidi untuk siswa dengan penghasilan keluarga 130-185% dari tingkat kemiskinan, biaya penuh tanpa subsidi untuk siswa dengan penghasilan keluarga lebih besar, dan siswa yang ikut serta dalam program ini diharuskan mengajukan formulir pendaftaran terlebih dahulu.

Pada tahun 2010, program NSLP berkembang menjadi Community Eligibility Provision (CEP) yang bertujuan mempercepat akses universal terhadap makanan sekolah gratis dengan kriteria partisipasi Sekolah atau distrik dengan minimal 40% siswa yang memenuhi kriteria (misalnya terdaftar dalam Supplemental Nutrition Assistance Program atau diidentifikasi sebagai tunawisma, migran, atau anak asuh). Pada pelaksanaanya, program ini berhasil meningkatkan partisipasi dalam program makan sekolah hingga 5-10%, meningkatkan IMT, dan meningkatkan prestasi matematika siswa secara signifikan.

School Meal Program di Jepang

Jepang memperkenalkan program makan di sekolah untuk pertama kali pada tahun 1899 di Prefektur Yamagata. Program ini direformasi pada tahun 2008 dengan mengintegrasikan konsep Shokuiku yang bertujuan menanamkan pemahaman budaya makanan Jepang serta menghargai lingkungan. Sasaran program adalah hampir semua SD (99.2%) dan sebagian besar SMP (87.9%) di Jepang. Pada 2014, biaya bulanan rata-rata yang dikeluarkan untuk program makan sekolah ini adalah ¥4300/siswa SD dan ¥4882/siswa SMP, dengan keluarga berpenghasilan rendah menerima subsidi dari pemerintah.

Program makan sekolah di Jepang menjamin kontrol kualitas dan keamanan makanan dengan mengimplementasikan sistem dapur dua model, yaitu dapur mandiri di sekolah dan dapur pusat yang mengirimkan makanan ke beberapa sekolah. Program ini dikelola oleh dietisien sekolah dan guru gizi (nutrition teacher) yang bertanggung jawab sebagai pengelola gizi dan pendidik.

Program SMP di Jepang mampu memenuhi hingga 33-50% kebutuhan gizi harian siswa. Selain itu, asupan kalsium, zat besi, dan vitamin A menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding pada hari tanpa makan sekolah. Melalui edukasi gizi makanan dikenalkan sebagai “materi pembelajaran hidup” untuk mengajarkan pentingnya kebiasaan makan sehat dan apresiasi terhadap budaya. Anak-anak juga diajarkan untuk tidak membuang makanan sehingga rata-rata limbah makanan hanya 6.9%. Di samping itu, semua sasaran dari berbagai status ekonomi memperoleh menu yang sama sehingga mengurangi kesenjangan sosial.

Universal Free, Eco-Friendly School Lunch Program di Korea Selatan

Korea Selatan memiliki program makan sekolah bernama Universal Free, Eco-Friendly (UFEF) School Lunch Program yang diluncurkan pada tahun 2011 dengan menyediakan makanan gratis dan ramah lingkungan untuk semua siswa tanpa diskriminasi ekonomi. Program ini didanai melalui kerja sama antara pemerintah nasional, provinsi, dan lokal, dengan kontribusi dari masing-masing pihak sesuai wilayah.

UFEF memiliki tujuan utama yaitu untuk mengintegrasikan kemandirian pangan (food sovereignty), dan keberlanjutan lingkungan. Sebelum diimplementasikan secara langsung, pemerintah membangun sistem distribusi dan sertifikasi untuk memastikan keamanan pangan dan mendukung petani lokal menerapkan praktik ramah lingkungan, serta mendorong sekolah untuk membeli bahan makanan langsung dari petani kecil dengan kontrak hingga $20.000.

Pada pelaksanaanya, makanan yang disediakan terdiri dari makanan tradisional Korea, termasuk nasi, sup, kimchi, sayuran, dan protein (daging atau ikan), serta menggunakan bahan organik dan bebas pestisida yang disertifikasi oleh National Agricultural Products Quality Management Service (NAQS). Program ini terbukti mampu mengurangi konsumsi bahan kimia pertanian dan meningkatkan asupan makanan sehat di kalangan siswa, memberikan pasar yang stabil bagi petani kecil dan meningkatkan produksi pertanian organik, dan menanamkan kebiasaan makan sehat dan menghargai makanan tradisional.

 

Referensi

Bundy, D. A., Gentilini, U., Schultz, L., Bedasso, B., Singh, S., Yuko Okamura, H. T., & Blakstad, M. M. (2024). School Meals, Social Protection and Human Development: Revisiting Trends, Evidence, and Practices in South Asia and Beyond. World Bank.

Domina et al. (2024). There Is Such a Thing as a Free Lunch:School Meals, Stigma, and Student Discipline, American Educational Research Journal, Vol. 61, No. 2, pp. 287–327, DOI: 10.3102/00028312231222266

Asakura. (2017). School lunches in Japan: their contribution to healthier nutrient intake among elementary-school and junior high-school children, Public Health Nutrition, 20(9): 1523-1533.

Ishida. (2018). The History, Current Status, and Future Directions of the School Lunch Program in Japan, Jpn. J. Nutr. Diet., Vol.76 Supplement 1, S2~S11.

Gaddis dan Jeon, 202. Sustainability transitions in agri‑food systems: insights from South Korea’s universal free, eco‑friendly school lunch program, Agriculture and Human Values, 37:1055-1071.

Global Child Nutrition Foundation (2021). School Meals Programs around the World: Results from the 2021 Global Survey of School Meal Programs [Internet]. Available from: https://survey.gcnf.org/2021-global-survey/

 

Kontributor artikel: Salsa Novalimah, S.Gz

Penyunting: Lintang Aryanti, S.Gz

Obesitas Perlu Dicegah Pada Pekerja, Bagaimana Strateginya?

Konten Edukasi Selasa, 3 Juni 2025

Obesitas telah menjadi salah satu masalah kesehatan global yang terus meningkat di berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Dalam kelompok dewasa, prevalensi obesitas sangat tinggi, terutama di kalangan pekerja. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) hingga tahun 2021, menunjukkan bahwa individu yang bekerja sebagai PNS, TNI, Polri, atau karyawan BUMN/BUMD memiliki prevalensi obesitas mencapai 33,7%. Pada tahun 2023, prevalensi obesitas nasional pada penduduk di atas 18 tahun meningkat dari 21.8% pada tahun 2018 menjadi 23.4%. Tiga provinsi dengan angka obesitas tertinggi adalah DKI Jakarta (31.8%), Papua (31.3%), dan Sulawesi (30.6%).

Obesitas memberikan dampak negatif pada empat aspek kehidupan, yaitu fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Secara fisik, obesitas meningkatkan risiko penyakit kronis seperti kanker, diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan stroke. Secara psikologis, kondisi seseorang dengan obesitass dapat memicu kecemasan, depresi, keputusasaan, serta menurunkan rasa percaya diri. Dalam aspek sosial, obesitas sering kali menyebabkan stigma, diskriminasi, hingga pengucilan dari kelompok masyarakat. Dampak spiritual juga tidak kalah serius, karena perasaan putus asa akibat obesitas dapat meningkatkan risiko perilaku melukai diri sendiri atau bahkan bunuh diri.

Obesitas di kalangan pekerja dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya:

1.Kurangnya Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik yang rendah merupakan salah satu penyebab utama obesitas. Pekerja kantoran sering kali menghabiskan waktu berjam-jam dalam posisi duduk, yang mengurangi pengeluaran energi harian. Studi Annarullah (2021) menunjukkan bahwa pekerja kantor lebih sering melakukan aktivitas statis, seperti duduk di depan komputer dalam waktu lama. Sebaliknya, pekerja yang berjalan kaki lebih dari 15 menit atau menggunakan sepeda untuk ke kantor memiliki risiko obesitas yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang menggunakan kendaraan bermotor.Menurut kemenkes, orang dewasa disarankan melakukan aktivitas fisik setidaknya 150 menit per minggu atau sekitar 30 menit per hari secara rutin. Jika tujuan utamanya adalah menurunkan berat badan, aktivitas fisik harus dilakukan dengan intensitas lebih tinggi dan frekuensi lebih sering.

2.Pola Makan yang Tidak Sehat

Pola makan dengan konsumsi tinggi kalori, lemak, dan gula menjadi faktor signifikan dalam obesitas. Penelitian Rosmiati (2023) mengungkap bahwa pekerja yang mengadopsi pola makan ala barat, yang kaya akan makanan olahan, cepat saji, serta minuman manis, memiliki risiko obesitas lebih tinggi. Sebaliknya, pola makan yang kaya buah dan sayur dapat menurunkan risiko obesitas. Selain itu, jajanan berminyak, makanan berkalori tinggi, serta konsumsi teh atau kopi manis selama jam kerja juga turut menyumbang peningkatan berat badan jika dikonsumsi secara berlebihan.

3.Jenis Pekerjaan

Jenis pekerjaan dengan aktivitas fisik rendah, seperti pekerjaan kantoran, cenderung meningkatkan risiko obesitas. Penelitian Apir (2024) di salah satu perusahaan di Indonesia mencatat bahwa 18,9% pekerja berisiko obesitas, dengan 37% menderita obesitas tingkat 1 dan 9,2% obesitas tingkat 2. Hal serupa ditemukan oleh Hulsegge (2021), yang menyatakan bahwa pekerja dengan shift kerja lebih rentan mengalami obesitas. Faktor seperti waktu tidur yang kurang, kebiasaan merokok, serta pola makan yang buruk berkontribusi pada kondisi ini.

Terdapat berbagai macam faktor lainnya penyebabnya terjadinya obesitas pada para pekerja seperti stress, kurangnya waktu tidur, status perkawaninan, keturunan, dan lain sebagainya. Namun, faktor utama penyebab terjadinya peningkatkan berat badan pada para pekerja adalah karena kurangnya aktivitas fisik serta konsumsi makanan yang kurang bervariasi atau cenderung tinggi kalori, lemak dan gula dan pola makan yang salah.

Petaruran Pemerintah Nomor 88 tahun 2019 tentang Kesehatan Kerja menekankan bahwa pentingnya dilakukan promosi kesehatan di tempat kerja untuk mencegah dan mengendalikan penyakit termasuk obesitas. Penerapan program kesehatan kerja yang efektif dapat membantu untuk menurunkan prevalensi obesitas di tempat kerja.

Pencegahan obesitas di tempat kerja dapat dilakukan melalui pendekatan holistik seperti memberikan edukasi tentang makanan sehat dan pentingnya gizi seimbang, menyediakan fasilitas olahraga ataupun program yang dapat diikuti oleh pekerja di tempat kerja, rutin untuk mengadakan dan melaksanakan kegiatan cek kesehatan di tempat kerja, serta adanya kebijakan atau program pengelolaan stress. Pengelolaan stress sangat penting untuk dilakukan karena stress yang berkepanjangan dapat memicu perilaku pekerja untuk makan secara berlebihan sebagai bentuk pelarian, yang pada akhirnya dapat meningkatkan berat badan.

 

Referensi::

1. Annurullah, Gifta Aliga, et al. 2021. Faktor Risiko Obesitas Pada Pekerja Kantoran: A Systematic Review. Jurnal Kesehatan Tambusai, Volume 2, Nomor 2.

2. Damayanti, Ratih, et al. 2024. Determinant Factors of Knowledge about Obesity among Workers in the Chemical Industry in Surabaya City, East Java Province. The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health. Volume 12, 87 – 95.

3. Rahmi, N, et al. 2020. Faktor Dominan Kejadian Obesitas pada Pegawai Negeri Sipil di Kementerian Agama Pusat Tahun 2018.

4. Rosmiati, Risti, et al. 2023. Pola Makan, Aktivitas Fisik, dan Obesitas pada Pekerja Urban di Indonesia. Amerta Nutrition, Vo 7. 164 – 17

5. Hulsegge, G, et al. 2021. The Mediating Role of Lifestyle in the Relationship Between Shift Work, Obesity, and Diabetes. International Archives of Occupational and Enviromental Health. Springer Berlin Heidelberg.

6. Apir dan Defilia Anogra Riani. 2024. Gambaran Kejadian Obesitas pada Karyawan di PT. Putra Perkasa Abadi Site PT. SKS Tumbang Kajuei-Kabupaten Gunung Mas-Kalimantan Tengah. Inovasi Kesehatan Global. Volume 1 No.2

7. Nusasenjaya, Radite. 2024. Perspekstif Kesehatan Kerja Pada Pekerja Obesitas Terhadap Pengaruh Produkstivitas Kerja. Jurnal Kesehatan Masyarakat Seroja Husada. 1(2): 202 – 206

8. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Jakarta : Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan; 2023.

 

 

Kontributor : Ulfi Rahma Yunita, S.Gz, M.Gizi

Zat Gizi untuk Kulit Sehat: Tips Mencegah Penuaan Dini Secara Alami

Konten Edukasi Jumat, 25 April 2025

Tahukah kamu bahwa kulit adalah organ terbesar pada tubuh manusia? Selain berfungsi sebagai pelindung dari lingkungan luar, kulit juga menjadi cerminan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Kulit yang sehat dan cerah sering kali menandakan bahwa tubuh juga berada dalam kondisi yang baik. Namun, menjaga kesehatan kulit bukanlah tugas yang mudah. Banyak faktor yang memengaruhinya, baik dari dalam (intrinsik) maupun dari luar (ekstrinsik).

Faktor ekstrinsik meliputi paparan radiasi ultraviolet, inframerah, polusi udara, kebiasaan diet, lama waktu tidur, olahraga, hingga paparan bahan karsinogenik di lingkungan. Sementara itu, faktor intrinsik mencakup genetik, metabolisme sel, dan perubahan hormonal. Dari semua faktor tersebut, pola makan dan asupan gizi memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kesehatan kulit sekaligus mencegah penuaan dini.

Untuk menjaga kulit tetap sehat dan awet muda, terdapat dua pendekatan utama yang sering digunakan yaitu, asupan zat gizi melalui makanan dan penggunaan zat aktif dalam produk skincare. Kedua metode ini memiliki tujuan serupa, yakni meningkatkan kesehatan kulit, namun cara kerjanya berbeda.

Zat gizi dari makanan diserap terlebih dahulu, kemudian diserap oleh usus, masuk ke dalam aliran darah dan didistribusikan ke seluruh tubuh termasuk ke jaringan kulit. Proses ini memungkinkan zat – zat seperti vitamin, mineral, dan antioksidan bekerja dari dalam untuk mendukung struktur kulit, memperbaiki kerusakan sel dan memperkuat sistem imun. Sebagai contoh, vitamin C yang dikonsumsi melalui makanan dapat memperbaiki kerusakan kulit akibat paparan sinar UV dan stres oksidatif, sekaligus merangsang produksi kolagen yang penting untuk kekencangan kulit.

Berbeda dengan makanan, zat aktif dalam produk skincare bekerja secara lokal. Zat ini diserap oleh lapisan epidermis kulit, namun tidak masuk ke sirkulasi darah. Skincare difokuskan untuk memperbaiki tampilan kulit secara langsung, misalnya mengurangi hiperpigmentasi dan flek hitam, menyamarkan kerutan dan garis halus serta mengatasi jerawat. Misalnya kandungan vitamin C pada skincare berfungsi untuk melindungi kulit dari efek buruk paparan sinar matahari serta mencerahkan kulit.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa zat gizi tertentu dapat mendukung kesehatan kulit dan memperlambat proses penuaan. Berikut adalah beberapa zat gizi penting yang memiliki manfaat besar bagi kulit:

1.Vitamin

  • Vitamin C

Merupakan salah satu antioksidan kuat yang berperan penting dalam sintesis kolagen. Penelitian oleh Pullar et al (2017) menunjukkan bahwa konsumsi vitamin C yang cukup dapat meningkatkan hidrasi kulit dan mengurangi kerutan. Sumber vitamin C antara lain jeruk, kiwi, paprika merah dan brokoli.

  • Vitamin E

Vitamin E membantu melindungi kulit dari stress oksidatif akibat paparan sinar ultraviolet (UV) dan polusi. Makanan yang kaya vitamin E meliputi kacang – kacangan, biji-bijian dan sayuran hijau.

  • Vitamin A

Dalam bentuk retinoid dan beta karoten, vitamin A mendukung regenerasi sel kulit dan mencegah kekeringan. Studi oleh Zasada (2019) menunjukkan bahwa retinoid efektif untuk mengurangi tanda – tanda penuaan pada kulit seperti garis halus dan kerutan. Sumber vitamin A dapat ditemukan dalam wortel, ubi jalar maupun produk susu.

  • Vitamin B kompleks

Vitamin B kompleks berperan dalam mengurangi inflamasi kulit dan pigmentasi. Contoh makanan yang mengandung vitamin B seperti telur, daging, kacang – kacangan serta susu maupun produk olahannya.

2.Mineral

  • Zinc

Zinc memiliki sifat antiinflamasi dan membantu penyembuhan luka serta mengurangi jerawat.  Penelitian oleh Aryal (2021) menunjukkan bahwa zinc dapat mengurangi peradangan pada kulit seperti dermatitis atopok. Beberapa makanan yang mengandung zinc antara lain tiram, kacang – kacangan dan biji labu.

  • Selenium

Selenium melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar UV dan stres oksidatif. Penelitian Aryal (2021) juga menyebutkan bahwa selenium dapat memperlambat penuaan kulit dengan meningkatkan aktivitas enzim antioksidan. Selenium dapat ditemukan pada ikan, kacang-kacangan, susu, dan telur.

  • Tembaga (Copper)

Merupakan komponen enzim superoxide dismutase (SOD) yang membantu untuk melawan radikal bebas serta mencegah stress oksidatif pada kulit . Tembaga juga mendukung fungsi keratinosit yang merupakan sel utama pada epidermis yang berperan untuk melindungi kulit dari infeksi dan cedera. Sumber tembaga meliputi biji – bijian, kacang – kacangan dan hati.

3.Asam lemak omega 3

Asam lemak omega 3 yang terdapat pada ikan yang berlemak seperti salmon, kembung, tunachiaseed, flaxseed dan lain – lain memiliki sifat antiinflamasi serta menjaga kelembapan kulit. Selain itu, omega 3 juga dapat membuat kulit terasa lebih halus dan kenyal.

4.Protein dan Kolagen

Kolagen merupakan protein utama yang memberikan kekuatan dan elastisitas pada kulit. Produksi kolagen dapat menurun seiring dengan bertambahnya usia. Sehingga dapat menyebabkan kulit menjadi kendur dan muncul kerutan. Penelitian Proksch (2014) menunjukkan bahwa suplemen kolagen dapat meningkatkan elastisitas dan hidrasi kulit. Sumber protein yang berkualitas meliputi daging tanpa lemak, tahu, telur, susu dan kacang – kacangan.

5. Antioksidan lainnya

Flavonoid yang terdapat pada teh hijau, cokelat hitam, serta buah ceri dapat membantu untuk melindungi kulit dari radikal bebas. Selain itu, Koenzim Q10 yang ada pada daging, ikan, sayuran maupun biji – bijian, juga memainkan peran penting dalam meningkatkan energi seluler dan mengurangi kerutan pada kulit.

Selain asupan zay gizi yang tepat, gaya hidup yang sehat juga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan kulit. Pastika untuk :

  • Minum cukup air putih setiap hari untuk menjaga hidrasi kulit
  • Batasi konsumsi gula dan makanan olahan yang dapat merusak kolagen dan elastin
  • Olahraga secara teratur untuk meningkatkan sirkulasi darah
  • Kelola stress dengan baik, karena stress dapat mempercepat penuaan kulit
  • Tidur yang cukup untuk mendukung regerenerasi kulit secara optimal

Menjaga kesehatan kulit tidak hanya persoalan perawatan dari luar, tapi juga adanua dukungan zat gizi yang tepat dari dalam. Kombinasi antara konsumsi zat gizi yang tepat serta gaya hidup yang sehat dapat menjaga kesehatan kulit dengan baik. Ingatlah bahwa kulit yang sehat mencerminkan tubuh yang sehat.

 

Referensi :

  1. Aryal E, Bhattarai E dan Bhattarai S. 2021. Zinc Therapy in Dermatology : A Review and Update. Nepal Journal of Dermatology, Venerology dan Leprology. Vol 19 No. 1
  2. Kripa Ahuja dan Peter Lio. 2023. The Role of Trace Elements in Dermatology : A Systemtic Review. 2023
  3. Paravinta, Mirjana. 2018. The Role of Diet in Maintaning Healthy Skin. Journal of Dermatology and Cosmetology, Volume 2 Issue 6.
  4. Pullar, J. M, et al. 2017. The Roles of Vitamin C in Skin Health. Nutrients, 9(8), 866.
  5. Sawada, Yu, et al. 2021. Omega 3 Fatty Acid and Skin Diseases. Front.Immunol. 11:623052
  6. Zasada, Malwina dan Elzbieta Budzsz. 2019. Retionoids: Active Molecules Influencing Skin Structure Formation in Consmetic and Dermatological Treatments. Advances in Dermatology and Allergology 4, August. 2019
  7. Zhang, S. et al. 2020. Coenzyme Q10 and Skin Aging. Dermatology Research and Practice. 2020, 8903276

 

Kontributor : Ulfi Rahma Yunita, S.Gz, M.Gizi

Pentingnya Sarapan dalam Pengendalian Berat Badan dan Pencegahan Obesitas

Konten Edukasi Jumat, 11 April 2025

Prevalensi obesitas pada anak-anak dan remaja meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) dalam Global Strategy on Diet, jumlah kasus obesitas global pada individu di bawah usia 18 tahun melonjak dari 11 juta menjadi 124 juta dalam tiga dekade terakhir. Survei kesehatan di Amerika Serikat juga mengungkapkan bahwa individu yang tidak sarapan memiliki risiko obesitas lima kali lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang rutin sarapan. Penelitian lain menunjukkan bahwa kebiasaan melewatkan sarapan berkaitan dengan peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan risiko obesitas.

Sarapan didefinisikan sebagai makanan pertama yang dikonsumsi setelah bangun tidur, biasanya sebelum pukul 10 pagi, dan menyumbang sekitar 20–35% dari kebutuhan energi harian. Selain memberikan energi untuk memulai hari, sarapan berperan penting dalam pengendalian berat badan dan pencegahan obesitas. Melewatkan sarapan dapat menyebabkan rasa lapar yang berlebihan, mendorong konsumsi makanan tinggi kalori pada siang dan malam hari, yangf pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan lemak tubuh.

Penelitian oleh Akhulaifi (2022) mengungkapkan bahwa melewatkan sarapan memengaruhi hormon insulin, meningkatkan risiko resistensi insulin, dan memicu kenaikan berat badan. Mekanismenya terjadi melalui konsumsi protein dan energi yang berlebihan pada waktu siang dan malam hari. Konsumsi ini menyebabkan kadar glukosa darah meningkat, yang merangsang produksi insulin untuk memindahkan glukosa ke dalam sel. Ketika kapasitas penyimpanan pada sel penuh, kelebihan glukosa diubah menjadi lemak melalui proses lipogenesis. Insulin juga menghambat enzim lipase yang berfungsi memecah lemak, sehingga lemak semakin banyak tertimbun di dalam tubuh. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, berat badan akan meningkat.

Studi lain juga menunjukkan hubungan antara sarapan dan risiko obesitas. Individu yang rutin sarapan memiliki IMT yang lebih rendah dibandingkan mereka yang sering melewatkan sarapan. Anak perempuan, khususnya, lebih rentan terhadap obesitas akibat tekanan budaya yang mendorong mereka melewatkan sarapan demi menjaga tubuh tetap ramping, yang sering dianggap sebagai standar kecantikan. Studi oleh Annisa dan Setiarini (2022) menemukan bahwa individu yang sarapan lebih dari empat hari per minggu memiliki risiko obesitas lebih rendah dibandingkan mereka yang sarapan kurang dari empat hari per minggu. Selain itu, sebuah studi meta-analisis oleh Julia (2021) menunjukkan bahwa melewatkan sarapan tiga kali atau lebih dalam seminggu dapat meningkatkan risiko obesitas sebesar 11%.

Keberagaman makanan dalam sarapan juga memainkan peran penting dalam pengendalian berat badan. Sarapan yang kaya serat, protein, dan lemak sehat membantu meningkatkan rasa kenyang lebih lama dan mengurangi keinginan untuk ngemil. Penelitian oleh Barragan (2023) menunjukkan bahwa sarapan dengan variasi tinggi, seperti sumber protein, karbohidrat kompleks, dan serat, memberikan manfaat lebih besar dalam mengendalikan berat badan dibandingkan dengan sarapan yang kurang beragam.

Selain memiliki peran dalam pengendalian berat badan, sarapan juga mendukung aktivitas fisik dan kemampuan kognitif. Tubuh memerlukan energi untuk memulai aktivitas harian, dan sarapan menyediakan sumber energi tersebut. Sebuah studi menunjukkan bahwa individu yang aktif secara fisik dan rutin sarapan memiliki risiko obesitas lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak aktif dan sering melewatkan sarapan. Sebaliknya, melewatkan sarapan dapat menyebabkan gejala seperti pusing, lemas, dan penurunan konsentrasi akibat kadar glukosa darah yang rendah, yang dapat menghambat produktivitas sepanjang hari.

Mengingat pentingnya sarapan, langkah-langkah sederhana dapat dilakukan untuk membiasakan diri dengan kebiasaan ini. Pilihlah makanan sarapan yang kaya serat, tinggi protein, dan rendah lemak, seperti oatmeal, telur, buah-buahan, dan kacang-kacangan. Hindari sarapan tinggi gula dan lemak jenuh yang dapat memicu lonjakan kadar glukosa darah. Selain itu, biasakan untuk sarapan secara teratur minimal empat kali per minggu, dan kombinasikan dengan aktivitas fisik untuk menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Dengan memahami pentingnya sarapan dalam pengendalian berat badan dan pencegahan obesitas, kita dapat mengambil langkah nyata untuk menjalani gaya hidup yang lebih sehat. Sarapan tidak hanya memberikan energi untuk memulai hari tetapi juga berkontribusi pada kesehatan jangka panjang dengan mengurangi risiko obesitas dan penyakit terkait lainnya.

 

 

Referensi :

  1. Ma, X, et al. 2020. Skipping Breakfast is Associated with Overweight and Obesity: A Systematic Review and Meta-analysis. Obesity Research and Clinical Practice. https://doi.org/10.1016/j.orcp.2019.12.002
  2. Arum, Ristanti Sekar dan Sri Sumarmi. 2024. Literatur Review: Hubungan Melewatkan Sarapan dengan Overweight/Obesitas. Media Gizi Kesmas. Vol 13, No 1, Juni 2024: 495-503
  3. Annisa, F dan Setiarini, T. 2022. Dampak Kebiasaan Sarapan terhadap Gizi Lebih. Jurnal Kesehatan Saintikan Meditory, Vol, 7 Nomor 1
  4. Wicherski, Julia, Sabrina Schlesinger, dan Florian Fischer. 2021. Association between Breakfast Skipping and Body Weight- A Systematic Review and Meta-Analysis of Observational Longitudinal Studies. Nutrients, 13, 272.
  5. Halawa, D, Sudargo, T dan Siswati, T. 2022. Makan Pagi, Aktivitas Fisik, dan Makan Malam Berhubungan dengan Status Gizi Remaja di Kota Yogyakarta. Journal of Nutrition College, Volume 11, No 2
  6. Ogata H, Hatamoto Y, Goto Y, Tajiri E, Yoshimura E, Kiyono K, Uehara Y, Kawanaka K, Omi N, Tanaka H. Association between breakfast skipping and postprandial hyperglycaemia after lunch in healthy young individuals. Br J Nutr. 2019;122(4):431-440. https://doi.org/10.1017/S0007114519001235
  7. Alkhulaifi, Fatema, dan Charles Darkoh. 2022. Meal Timing, Meal Frequency and Metabolic Syndrome. Nutrients, 14, 1719.

 

Kontributor : Ulfi Rahma Yunita, S.Gz, M.Gizi

Benarkah Memanaskan Santan Berulang Kali Berbahaya? Simak Temuan Penelitiannya Terkini

Konten Edukasi Kamis, 6 Februari 2025

Makanan bersantan merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan dari banyak masakan tradisional, terutama di negara-negara Asia Tenggara. Santan, yang diperoleh dari perasan daging kelapa, memiliki kandungan lemak jenuh yang tinggi, sekitar 90–92%. Namun, kandungan asam lemak jenuh pada santan sangat berbeda dengan asam lemak jenuh produk hewani dan susu.

Asam lemak pada produk hewani merupakan asam lemak jenuh rantai panjang (long-chain fatty acid) yang dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Sebaliknya, asam lemak pada santan terdiri dari asam lemak jenuh rantai sedang (medium-chain fatty acid), yang lebih mudah diserap dan diolah oleh tubuh. Namun, makanan bersantan sering kali dipanaskan berulang kali, baik saat proses memasak maupun saat akan disajikan kembali. Hal ini memunculkan kekhawatiran terkait potensi bahaya atau efek kesehatan yang mungkin timbul, terutama pada kandungan gizi dan pembentukan senyawa berbahaya.

Asam lemak jenuh rantai sedang pada santan diabsorpsi di usus dengan cepat tanpa menggunakan enzim lipase dari pankreas. Salah satu jenis asam lemak jenuh pada santan adalah asam laurat, yang diketahui dapat meningkatkan kadar High-Density Lipoprotein (HDL) sekaligus menurunkan kadar Low-Density Lipoprotein (LDL). Oleh karena itu, santan dapat bermanfaat untuk meningkatkan kadar HDL dalam tubuh.

Namun, ketika santan dipanaskan berulang kali, terjadi oksidasi lemak, yang mengubah sebagian asam laurat menjadi asam lemak bebas. Proses oksidasi ini menghasilkan radikal bebas dan senyawa berbahaya yang dapat merusak sel-sel tubuh serta meningkatkan risiko penyakit jantung. Senyawa berbahaya seperti aldehida dan keton dapat terbentuk, yang diketahui memiliki efek merugikan pada kesehatan, termasuk risiko kanker jika dikonsumsi dalam jangka panjang.

Penelitian oleh Hartatai (2018) menunjukkan bahwa makanan tradisional khas Palembang yang menggunakan santan, seperti Laksan, mengalami perubahan signifikan pada asam lemak bebas, protein, dan karbohidrat selama proses pemanasan. Semakin tinggi suhu dan semakin lama waktu pemanasan, kandungan protein dalam santan berkurang, sedangkan kadar asam lemak bebas meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa pemanasan ulang tidak hanya memengaruhi rasa dan tekstur makanan, tetapi juga kualitas kandungan gizinya.

Studi oleh Kusumawati (2019) menyebutkan bahwa pemanasan dan pendinginan santan menghasilkan pati tahan cerna (resistant starch), yaitu pati yang tidak dapat dicerna tubuh. Pati ini akan difermentasi oleh bakteri di sekum, menghasilkan gas dan asam lemak rantai pendek (short-chain fatty acid). Salah satu produk fermentasi ini, propionat, diketahui dapat menghambat enzim HMG-CoA reduktase, yang berperan dalam sintesis kolesterol. Meskipun ini bisa menjadi efek positif, pengurangan kualitas protein dan pembentukan senyawa oksidasi tetap menjadi perhatian ketika mengonsumsi santan yang telah dipanaskan secara berulang.

Sampai saat ini, penelitian terkait pengaruh santan terhadap kadar kolesterol tubuh masih terbatas. Studi oleh Shafira (2021) menunjukkan bahwa pemberian santan, baik yang dipanaskan berulang kali maupun tidak, tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kadar kolesterol darah pada mencit jantan. Namun, penelitian ini juga mencatat adanya peningkatan kadar kolesterol yang mungkin dipengaruhi oleh faktor usia dan kurangnya aktivitas fisik. Penelitian pada manusia diperlukan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas untuk melihat efek secara langsung pada kolesterol darah. Beberapa ahli menyarankan bahwa, konsumsi santan yang dipanaskan berulang kali sebaiknya dibatasi, terutama bagi individu yang memiliki risiko penyakit kardiovaskular.

Walaupun dampak pemanasan ulang santan terhadap kesehatan belum dapat dipastikan sepenuhnya, proses ini diketahui dapat mengurangi kandungan gizi seperti protein dan meningkatkan kadar asam lemak bebas. Proses oksidasi lemak juga menghasilkan senyawa berbahaya yang dapat berdampak negatif pada kesehatan jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Oleh karena itu, penting untuk, membatasi pemanasan ulang makanan bersantan, memilih metode memasak yang lebih sehat untuk menjaga kualitas gizi makanan, mengonsumsi santan dalam jumlah moderat sebagai bagian dari pola makan seimbang serta menyimpan makanan bersantan dengan cara yang tepat untuk meminimalkan kebutuhan pemanasan ulang.

Referensi :

  1. Ahotupa, Makku. 2024. Lipid Oxidation Products and The Risk of Cardiovascular Diseases: Role of Lipoprotein Transport. Antioxidants, 13, 512.
  2. Hartati, Yuli, et al. Effect of Temperature and Heating on Chemical and Proximate Characteristics of Laksan Sauce as a Palembang Traditional Food. Pakistan Journal of Nutrition
  3. Shafira, Ghinada Rasfuy. 2021. Pengaruh Pemberian Santan yang Dipanaskan Secara Berulang Terhadap Kadar Kolesterol Darah Mencit Jantan. Skripsi, Universitas Jember. Jawa Timur.
  4. Kusumawati,et al. Protensi Tepung Pisang Uter (Musa Acuminata) Sebagai Pangan Fungsional untuk Menurunkan Kolesterol. Buletin Penelitian Kesehatan. 47(4) : 275 – 282.

 

Kontributor : Ulfi Rahma Yunita, S.Gz, M.Gizi

Waspada Virus hMPV? Optimalkan Imunitas dengan Strategi Gizi ini!

Konten Edukasi Jumat, 10 Januari 2025

Human Metapneumovirus (hMPV) adalah salah satu virus pernapasan utama yang berkontribusi terhadap kematian bayi di bawah usia 5 tahun di seluruh dunia. Meskipun tidak berbahaya, virus ini rentan menyerang anak kecil, lansia, dan orang dengan imunitas lemah. Telah ditemukan sejak tahun 2001, hingga saat ini belum ada vaksin atau terapi khusus untuk hMPV. Sehingga strategi alternatif, seperti intervensi gizi, sangat penting untuk mengelola dan mengurangi dampak virus ini.

Berikut ini adalah strategi gizi yang dapat diterapkan untuk menghadapi ancaman hMPV

1.Antioksidan pada Makanan

Quercetin dan Resveratrol adalah antioksidan yang menunjukkan potensi dalam mengurangi kerusakan oksidatif, pelepasan zat pemicu peradangan, dan replikasi virus pada sel epitel saluran napas yang terinfeksi hMPV. Quercetin bisa didapatkan dari bawang bombay, teh hijau, kale, asparagus, paprika hijau, tomat, atau selada merah. Sedangkan resveratrol dapat ditemukan pada kacang tanah, pistachio, anggur berwarna merah, blueberry, kakao, hingga coklat hitam (dark chocolate).

2.Asupan Mikronutrien

a. Seng dan selenium

Seng dan selenium sangat penting dalam menunjang fungsi kekebalan tubuh dan telah menunjukkan efek menguntungkan pada infeksi saluran pernapasan akibat virus. Pada anak-anak dengan hMPV memiliki kadar seng lebih rendah sehingga dukungan suplementasi dapat membantu dalam mengelola infeksi.

Perbanyak konsumsi makanan sumber seng dan selenium dari bahan makanan seperti seafood, daging merah, daging unggas, kacang-kacangan maupun biji-bijian.

b. Vitamin A dan E

Vitamin-vitamin ini sangat penting untuk menjaga homeostasis imunitas tubuh. Anak-anak dengan hMPV menunjukkan profil vitamin A dan E yang berbeda jika dibandingkan dengan mereka yang mengalami infeksi pernapasan lainnya. 

Makanan tinggi vitamin A dapat diperoleh dari hati sapi, ubi kuning, bayam, labu kuning, dan wortel. Sedangkan makanan sumber vitamin E banyak ditemukan pada biji dan kacang-kacangan seperti biji bunga matahari, almond, hingga kacang tanah. 

3.Pangan Fungsional

Pangan fungsional seperti probiotik dapat meningkatkan kekebalan usus dan paru-paru, yang berpotensi mengurangi keparahan dan durasi infeksi pernapasan. Konsumsi probiotik dalam makanan dapat membantu mengelola hMPV dengan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh secara keseluruhan. Probiotik dapat didapatkan dari suplemen maupun makanan seperti tempe, yoghurt, hingga kimchi. Makanan yang kaya akan senyawa bioaktif, seperti madu dan buah beri, juga bersifat antivirus dan dapat mendukung sistem kekebalan tubuh. 

 

 

Referensi:

Al-Sonboli, N., Al-Aghbari, N., Al-Aryani, A., Atef, Z., Brabin, B., Shenkin, A., Roberts, E., Harper, G., Hart, C. A., & Cuevas, L. E. (2009). Micronutrient concentrations in respiratory syncytial virus and human metapneumovirus in yemeni children. Annals of Tropical Paediatrics, 29(1), 35–40. https://doi.org/10.1179/146532809X402015

Antunes, A. E. C., Vinderola, G., Xavier-Santos, D., & Sivieri, K. (2020). Potential contribution of beneficial microbes to face the COVID-19 pandemic. Food Research International, 136. https://doi.org/10.1016/j.foodres.2020.109577

Jayawardena, R., Sooriyaarachchi, P., Chourdakis, M., Jeewandara, C., & Ranasinghe, P. (2020). Enhancing immunity in viral infections, with special emphasis on COVID-19: A review. Diabetes and Metabolic Syndrome: Clinical Research and Reviews, 14(4), 367–382. https://doi.org/10.1016/j.dsx.2020.04.015

Komaravelli, N., Kelley, J. P., Garofalo, M. P., Wu, H., Casola, A., & Kolli, D. (2015). Role of dietary antioxidants in human metapneumovirus infection. Virus Research, 200(C), 19–23. https://doi.org/10.1016/j.virusres.2015.01.018

Sepúlveda-Alfaro, J., Catalán, E. A., Vallejos, O. P., Ramos-Tapia, I., Madrid-Muñoz, C., Mendoza-León, M. J., Suazo, I. D., Rivera-Asin, E., Silva, P. H., Alvarez-Mardones, O., Kalergis, A. M., & Melo-Gonzalez, F. (2024). Human metapneumovirus respiratory infection affects both innate and adaptive intestinal immunity. Frontiers in Immunology, 15. https://doi.org/10.3389/fimmu.2024.1330209

Singh, S., Kola, P., Kaur, D., Singla, G., Mishra, V., Panesar, P. S., Mallikarjunan, K., & Krishania, M. (2021). Therapeutic Potential of Nutraceuticals and Dietary Supplements in the Prevention of Viral Diseases: A Review. Frontiers in Nutrition, 8. https://doi.org/10.3389/fnut.2021.679312

Williams, J., & Shafagati, N. (2018). Human metapneumovirus – what we know now. F1000Research, 7. https://doi.org/10.12688/f1000research.12625.1

Manfaat Cuka Apel bagi Kesehatan: Dari Penurunan Berat Badan Hingga Pencegahan Penyakit Jantung

Konten Edukasi Selasa, 31 Desember 2024

Cuka telah lama digunakan selama bertahun – tahun untuk keperluan rumah tangga dan kuliner. Secara tradisional, cuka juga dipercaya memiliki manfaat untuk kesehatan. Cuka dapat berasal dari berbagai sumber karbohidrat seperti tebu, apel, beras, anggur, kurma, plum, kelapa dan jus buah lainnya.

Cuka Apel (Apple Cider Vinegar) adalah salah satu jenis cuka yang paling umum digunakan, yang dibuat melalui fermentasi apel dan banyak dimanfaatkan sebagai penambah rasa dan pengawet makanan di seluruh dunia. Cuka apel mengandung beragam flavonoid seperti asam galat, katekin, asam kafeat, dan asam ferulat. Penelitian yang dilakukan pada hewan menunjukkan bahwa cuka apel memiliki berbagai macam khasiat seperti antioksidan, antiinflamasi, antidiabetik, antihipertensi, dan antihiperlipidemia. Berikut beberapa penjelasan singkat manfaat konsumsi cuka apel bagi kesehatan.

1. Membantu Mengendalikan Gula Darah

Dalam sebuah studi menunjukkan bahwa asam asetat yang ada pada cuka apel dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan menurunkan respons gula darah setelah makan. Dalam sebuah penelitian Gheflati (2019) menemukan bahwa konsumsi cuka apel selama beberapa minggu dapat menurunkan secara signifikan gula darah puasa dan HbA1c dibandingkan dengan kelompok yang tidak mengkonsumsi cuka apel. Asam asetat yang terkandung dalam cuka memiliki efek untuk memperlambat pengosongan lambung, yang berkontribusi untuk mengatur kadar gula darah setelah makan. Selain itu, asam asetat juga bisa memperlambat pencernaan pati, sehingga gula darah naik lebih lambat.

2.Mendukung Terjadinya Penurunan Berat Badan

Sebuah studi Fitriyani (2022)  menyebutkan bahwa salah satu manfaat mengkonsumsi cuka apel adalah membantu untuk menurunkan berat badan. Asam asetat pada cuka apel berperan dalam penurunan berat badan dengan cara meningkatkan rasa kenyang. Hal ini terjadi karena asam asetat memperlambat pengosongan lambung, mengurangi keinginan untuk makan dengan mengubah persepsi rasa, dan mempengaruhi otak, khususnya pada bagian yang mengatur nafsu makan, melalui peningkatan ekspresi mRNA pro – opiomelanocortin di hipotalamus. Selain itu, senyawa lain dalam cuka apel, seperti asam galat yang meningkatkan sensitivitas insulin dan penggunaan energi tanpa mempengaruhi asupan makanan, serta asam kafeat yang dapat membantu menekan enzim lipogenik dan mengurangi penumpukan lemak di hati.

Penelitian oleh Hadi (2020) juga mendapatkan hasil bahwa dengan menambahkan konsumsi cuka apel pada saat menjalani diet rendah kalori dapat memberikan efek yang lebih signifikan dalam proses pengurangan lemak tubuh hingga pada akhirnya terjadi penurunan berat badan dibandingkan dengan seseorang yang menjalani diet rendah kalori saja. Hasil tersebut dapat menunjukkan bahwa tambahan konsumsi cuka apel dapat mendukung program penurunan berat badan dengan cara yang cukup aman dan alami.

3.Berpotensi untuk Melindungi Kesehatan Jantung dan Menurunkan Kadar Kolesterol

Cuka apel diketahui pula memiliki manfaat untuk menjaga kesehatan kardiovaskular (jantung). Menurut sebuah studi, konsumsi cuka apel berpotensi untuk menurunkan tekanan darah melalui mekanisme vasodilatasi, yaitu pelebaran pembuluh darah. Selain itu, kandungan antioksidan seperti asam galat dan katekin pada cuka apel, dapat membantu melawan stres oksidatif, yang merupakan penyebab utama dalam kerusakan pembuluh darah dan aterosklerosis.

Selain itu, penelitian oleh Jafarirad (2023) menemukan bahwa dengan mengonsumsi 30 ml cuka apel setiap hari selama delapan minggu dapat membantu memperbaiki kadar gula darah, profil lemak, dan tekanan darah sistolik pada orang dewasa dengan diabetes tipe 2. Konsumsi cuka apel sebagai makanan fungsional bersamaan dengan obat – obatan dapat mengurangi faktor risiko penyakit kardiovaskular pada pasien diabetes.

4.Meningkatkan Kesehatan Pencernaan

Asam asetat pada cuka apel dapat membantu meningkatkan keasaman lambung yang penting dalam proses pencernaan makanan. Sebuah studi menemukan bahwa cuka apel dapat meningkatkan produksi enzim pencernaan yang membantu untuk pemecahan zat gizi dalam tubuh. Selain itu, pada cuka apel terdapat kandungan probiotik yang membantu meningkatkan kesehatan mikrobiota usus yang penting untuk kesehatan pencernaan. Penelitian oleh Yagnik (2018), mengungkapkan bahwa cuka apel memiliki efek antibakteri yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen dalam saluran pencernaan, seperti Escherichia coli dan Salmonella.  Sehingga cuka apel dapat dijadikan sebagai pilihan alternatif yang secara alami dapat mendukung kesehatan saluran pencernaan dan mencegah infeksi bakteri.

Meskipun cuka apel memiliki banyak manfaat kesehatan, tetap harus bijak dan ada batasan untuk mengkonsumsinya. Konsumsi cuka apel yang berlebih dalam menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan, erosi enamel gigi, menimbulkan gejala pusing, dan dapat mempengaruhi kadar kalium dalam tubuh. Sehingga, mengkonsumsi cuka sebaiknya dilakukan dalam bentuk encer, seperti mencampurkan 1 sampai 2 sendok teh cuka apel yang dilarutkan dalam 250 ml air. Seseorang yang memiliki riwayat penyakit GERD disarakan untuk mengonsumsi cuka apel sebanyak 1 sdt yang dilarutkan dalam 500 ml air. Namun, jika memiliki penyakit GERD yang cukup parah, maka tidak disarankan untuk mengonsumsi cuka apel atau lebih baik konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter maupun ahli gizi. Jika tidak memiliki riwayat kesehatan apapun termasuk tidak pusing ketika konsumsi cuka apel, maka takaran cuka apel dapat ditambah hingga 1 – 2 sendok makan dan dilarutkan dalam segelas air.

 

Referensi :

  1. Gheflati, Alireza, et al. 2019. The Effect of Apple Vinegar Consumption on Glycemic Indices, Blood Pressure, Oxidative Stress, and Homocysteine in Patients With Type 2 Diabetes and Dyslipidemia : A Randomized Controlled Clinical Trial. Clinical Nutrition ESPEN, 33, 132 – 138
  2. Fitriyani dan Kurniasari. 2022. Apple Cider Vinegar Induced Weight Loss ini Obese Rats. Jurnal Biomediak dan Kesehatan, Vol.5 No. 2
  3. Jafarirad, Sima, et al. 2023. The Improvement Effect of Apple Cider Vinegar as Functional Food on Anthropometric Indices, Blood Glucose, and Lipid Profile in Diabetic Patients: A Randomized Controlled Clinical Trial. Frontiers in Clinical Diabetes and Healthcare.
  4. Johsnton, Carol S, et al. 2021. Daily Vinegar Ingestion Improves Depression Scores and Alters the Metabolome in Healthy Adults: A Randomized Controlled Trial. Nutrients, 13, 4020

 

 

Kontributor Artikel: Ulfi Rahma Yunita, S.Gizi, M.Gizi

Ketahui Manfaat Astaxanthin Bagi Kesehatan Kardiovaskular

Konten Edukasi Jumat, 22 November 2024

Seperti yang telah kita ketahui bahwa penyakit kardiovaskular merupakan salah satu penyebab terbesar morbiditas dan mortalitas baik di negara maju maupun negara berkembang. Kardiovaskular merupakan suatu sistem di dalam tubuh yang berperan penting dalam memastikan pasokan oksigen dan darah yang cukup ke seluruh sel dan jaringan agar dapat berfungsi secara optimal. Gangguan pada sistem kardiovaskular akan berdampak pada keseluruhan fungsi tubuh.

Penyakit kardiovaskular (cardiovascular disease/CVD) disebabkan oleh berbagai gangguan dalam tubuh, seperti terjadinya penumpukan jaringan lemak di area perut, tekanan darah tinggi, kelainan lipid (dislipidemia), dan gangguan toleransi glukosa (diabetes). Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular seperti stroke dan serangan jantung.

Perkembangan penyakit kardiovaskular sering dikaitkan dengan pola makan yang kurang sehat, seperti konsumsi makanan yang tinggi natrium, makanan olahan (Ultraprocessed Food), gula serta lemak jenuh dan lemak trans. Pola ini biasanya disertai dengan rendahnya asupan buah dan sayur, konsumsi alkohol, stress, merokok serta kurangnya aktivitas fisik. Selain itu, radikal bebas dan stres oksidatif juga memainkan peran penting dalam patogenesis berbagai kondisi penyakit jantung, seperti cedera iskemia reperfusi, gagal jantung kongestif, penyakit arteri koroner dan hipertensi.

Berbagai metode pengobatan untuk menangani masalah kardiovaskular terus berkembang, salah satunya adalah dengan memanfaatkan senyawa bioaktif yang berasal dari tumbuhan, seperti antioksidan, flavonoid, dan polifenol. Senyawa – senyawa bioaktif tersebut berpotensi untuk melindungi kesehatan jantung dengan mengurangi peradangan, menurunkan stress oksidatif, dan mendukung fungsi pembuluh darah. Salah satu antioksidan yang dapat dimanfaatkan adalah astaxanthin.

Astaxanthin, merupakan karotenoid alami yang ditemukan dalam mikroalga Haematococcus pluvialis dan telah diakui sebagai salah satu antioksidan yang memiliki manfaat bagi kesehatan kardiovaskular. Dalam beberapa penelitian menyebutkan bahwa sifat antioksidan dan antiinflamasi astaxanthin memiliki peran penting dalam mencegah berbagai penyakit kardiovaskular, termasuk aterosklerosis, hipertensi dan penyakit jantung koroner. Selain dari mikroalga, astaxanthin dapat pula ditemukan pada hewan akuatik seperti ikan salmon, ikan air tawar, udang, kepiting, maupun lobster. Berikut penjelasan singkat mengenai manfaat astaxanthin untuk mencegah terjadinya penyakit kardiovaskular :

1.Memberikan perlindungan terhadap stress oksidatif

Stress oksidatif merupakan salah satu faktor utama perkembangnya penyakit kardiovaskular yang disebabkan karena adanya radikal bebas dalam tubuh. Terjadinya proses oksidasi dapat menyebabkan kerusakan sel endotel dalam pembuluh darah yang memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan jantung. Dalam sebuah penelitian oleh Visioli (2017) menunjukkan bahwa astaxanthin memiliki aktivitas antioksidan yang lebih kuat dan efektif dibandingkan vitamin C dan E, sehingga dapat mengurangi terjadinya oksidasi lipid dalam plasma darah yang berkontribusi pada pencegahan pembentukan plak aterosklerotik. Astaxanthin bekerja dengan menurunkan kadar LDL teroksidasi, sehingga memperlambat pembentukan plak pada dinding arteri yang dapat menyumbat aliran darah.

2. Memiliki Sifat Anti-Inflamasi

Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa astaxanthin mampu mengurangi aktivitas inflamasi pada level molekuler, yang berpotensi menurunkan risiko terjadinya aterosklerosis, hipertensi, dan komplikasi kardiovaskular lainnya.

Studi klinis juga menunjukkan bahwa suplementasi astaxanthin dapat memperbaiki fungsi endotelial, yaitu lapisan pembuluh darah yang penting untuk menjaga fleksibilitas dan respons pembuluh darah terhadap perubahan tekanan darah. Fungsi endotel yang baik membantu menjaga tekanan darah stabil, yang merupakan salah satu aspek utama dalam pencegahan hipertensi. Hal ini menunjukkan bahwa astaxanthin berpotensi mengurangi risiko hipertensi dengan cara memperbaiki respons pembuluh darah​

3. Mengatur profil lipid

Selain efeknya terhadap stres oksidatif dan peradangan, astaxanthin juga dapat mempengaruhi profil lipid seseorang, yang merupakan faktor risiko penting dalam penyakit jantung. Dalam suatu studi menunjukkan bahwa astaxanthin dapat menurunkan trigliserida serum dan meningkatkan kadar HDL pada pasien dengan resiko tinggi penyakit kardiovaskular.

4. Mendukung Kesehatan Mitokondria di Jantung

Mitokondria adalah pusat produksi energi sel dan sangat penting untuk fungsi jantung. Energi dibutuhkan oleh jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Stres oksidatif dapat merusak mitokondria, yang kemudian mengganggu fungsi otot jantung dan menyebabkan berbagai gangguan kardiovaskular.

Penelitian oleh Krestinina et al. (2020) menunjukkan bahwa suplementasi astaxanthin dapat meningkatkan kinerja mitokondria di jantung, yang memungkinkan jantung memompa lebih efisien dan mengurangi risiko kelelahan otot jantung serta insufisiensi jantung. Dengan memperbaiki fungsi mitokondria, astaxanthin dapat membantu mencegah berbagai masalah jantung yang disebabkan oleh penurunan kapasitas energi​.

 5.Membantu Mengatur Tekanan Darah

Tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor risiko utama pada penyakit kardiovaskular. Penelitian menunjukkan bahwa astaxanthin memiliki efek positif pada tekanan darah melalui efek relaksasi pembuluh darah. Sebuah studi pada hewan menunjukkan bahwa astaxanthin dapat membantu menurunkan tekanan darah dengan mengurangi ketegangan di arteri serta meningkatkan elastisitas pembuluh darah. Efek ini penting dalam mencegah hipertensi dan menjaga kesehatan jantung dalam jangka panjang.

 

Referensi :

  1. Visioli, Francesco dan Christian Artaria. 2017. Astaxanthin in Cardiovascular Health and Disease : Mechanisms of Action, Therapeutic Merits, and Knowledge Gaps. Food Function, 2017, 8, 39 – 63
  2. Chang, Ming Xian dan Fan Xiong. 2020. Astaxanthin and Its Effect in Inflammatory Respnses and Inflammation – Associated Diseases : Recent Advances and Future Directions. Molecules, 25, 5342
  3. Pereira, Carolina Parga, et al. 2021. Antioxidant and Anti – Inflammatory Mechanisms of Action of Astaxanthin in Cardiovascular (Review). International Journal of Molecular Mediciner, 47 : 37 – 48
  4. Laja, Rana Salsabil Putri. 2021. Astaxanthin untuk Kesehatan Kardiovaskular. Jurnal Penelitian Perawat Profesional. Volume 3 No 2, Hal 243 – 252
  5. Krestinina, Olga, et al. 2020. Astaxanthin Prevents Mitochondrial Impairment Induced by Isoproterenol in Isolated Rat Heart Mitochondria. MDPI, 9. 262
  6. Ruiz, Jose Monroy, et al. 2011. Astaxanthin Enriched Diet reduces Blood Pressure and Improves Cardiovascular Parameters in Spontaneously Hypertensive Rats. Pharmacological Research, 63, 44 – 50

 

Kontributor Artikel: Ulfi Rahma Yunita, S.Gizi, M.Gizi

 

123

Berita Terkini

  • Mengendalikan Konsumsi Ultra-Processed Foods (UPF) sebagai Bagian dari Sustainable Healthy Diets Menuju Generasi Emas 2045
    27/01/2026
  • HACCP dan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi: Pilar Keamanan Pangan di Indonesia
    26/01/2026
  • Mengenal Lebih Dekat School Meal Program di Berbagai Negara
    21/01/2026
Universitas Gadjah Mada

Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia (PKGM)
(Center for Health and Human Nutrition/CH2N)

Gd Litbang FK-KMK Lt.3, Jalan Medika No.1, Sendowo, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Telp./Faks. (0274) 547775
Email: ch2n.fk@ugm.ac.id

© PKGM-FKKMK UGM 2021

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY