Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66 tahun 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat pembangunan gizi masyarakat Indonesia. HGN tahun ini mengusung tema “Gizi Optimal Menuju Indonesia Emas 2045” yang menegaskan pentingnya membangun generasi sehat, berkualitas, dan berdaya saing sejak dini sebagai fondasi utama menuju Indonesia emas.
Tantangan gizi saat ini tidak lagi sebatas kekurangan gizi, tetapi juga kelebihan gizi dan meningkatnya penyakit tidak menular yang berkaitan erat dengan perubahan pola makan masyarakat. Salah satu isu yang perlu menjadi perhatian adalah tingginya konsumsi Ultra-Processed Foods (UPF). Penelitian pada tahun 2020 menunjukkan bahwa 45% total asupan kalori masyarakat Indonesia berasal dari konsumsi UPF dengan tren yang lebih tinggi pada kelompok anak-anak dan remaja (Diba, 2025). Tingginya konsumsi UPF tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga memperberat beban lingkungan.
UPF merupakan kelompok makanan yang diproduksi melalui proses industri dengan menggunakan bahan tambahan, seperti pengawet, pewarna, perasa, dan pemanis buatan yang menyebabkan rendahnya kandungan gizi (Fitriani et al., 2025). UPF memiliki karakteristik padat energi, tinggi gula, lemak jenuh dan trans, sodium serta rendah serat dan zat gizi mikro esensial. Contohnya adalah produk siap saji berupa mi instan, sosis, nugget, makanan ringan kemasan, minuman berpemanis, dan lainnya (Hanifa et al., 2024). Kepraktisan dan cita rasa yang menarik menjadikan UPF semakin digemari, namun di sisi lain konsumsi UPF juga menimbulkan dampak lingkungan. Proses produksi UPF umumnya membutuhkan energi yang besar, penggunaan bahan tambahan pangan dan kemasan sekali pakai, serta rantai distribusi yang panjang, sehingga meningkatkan jejak karbon dan volume limbah (Anastasiou et al., 2022).
Penelitian kualitatif oleh Colozza (2024) mencatat peningkatan pesat konsumsi UPF, minuman berpemanis, serta makanan siap saji. Peningkatan ini didorong oleh ketersediaan yang semakin luas, harga yang lebih terjangkau, dan kemudahan akses, serta diidentifikasi sebagai salah satu pendorong utama meningkatnya beban kelebihan berat badan dan obesitas di Indonesia. Konsumsi UPF juga berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan yang kompleks, termasuk gangguan metabolik, kardiovaskular, dan kesehatan mental (Ahmed et al., 2024).
Selain berdampak pada kesehatan, narrative review dari 52 studi juga menunjukkan bahwa konsumsi UPF berdampak terhadap penggunaan energi dalam sistem pangan, emisi gas rumah kaca, hilangnya keanekaragaman hayati, serta kerusakan lingkungan seperti degradasi lahan dan pencemaran perairan (Anastasiou et al., 2022). Jika tidak dikendalikan, tingginya konsumsi UPF dapat menghambat upaya menciptakan sumber daya manusia sehat, produktif, dan berdaya saing yang menjadi fondasi utama membentuk generasi emas 2045. Diperlukan pendekatan pola makan yang tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi individu, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan sistem pangan. Salah satu pendekatan yang dapat menjadi solusi adalah Sustainable Healthy Diets.
Sustainable Healthy Diets merupakan pola makan yang mengintegrasikan kesehatan manusia dengan dampak yang minimal pada lingkungan. Tujuan Sustainable Healthy Diets adalah mencapai pertumbuhan dan perkembangan optimal dengan mendukung fisik, mental, dan sosial bagi generasi sekarang dan mendatang, mencegah segala bentuk malnutrisi (kekurangan gizi, defisiensi mikronutrien, overweight, obesitas), menurunkan risiko penyakit tidak menular terkait pola makan, serta mendukung pelestarian keanekaragaman hayati dan kesehatan planet (FAO dan WHO, 2019).
Pengendalian konsumsi UPF dalam konsep Sustainable Healthy Diets dilakukan dengan mendorong pergeseran pola makan menuju pangan segar dan minim proses yang beragam, seimbang, serta sesuai budaya lokal. Prinsip FAO/WHO menekankan pembatasan asupan gula, garam, dan lemak berlebih, serta penguatan literasi gizi agar masyarakat mampu membuat pilihan pangan yang sehat, aman, dan terjangkau.
Sustainable Healthy Diets juga menganjurkan pengurangan konsumsi pangan dengan proses industri intensif, rantai pasok panjang, serta penggunaan energi dan kemasan yang tinggi. Implementasi pembatasan UPF mendorong peralihan ke pangan segar, lokal, dan musiman, yang tidak hanya menurunkan emisi gas rumah kaca dan limbah, tetapi juga mendukung pelestarian keanekaragaman hayati serta keberlanjutan sumber daya alam. Upaya ini perlu didukung oleh lingkungan pangan yang kondusif, termasuk ketersediaan pilihan pangan sehat, pelabelan pangan yang jelas, dan promosi pola makan berkelanjutan untuk menekan ketergantungan pada UPF sekaligus melindungi kesehatan manusia dan lingkungan.
Dalam rangka Hari Gizi Nasional 2026, pengendalian konsumsi UPF perlu menjadi perhatian bersama sebagai bagian dari penerapan Sustainable Healthy Diets. Dengan mendorong pola makan yang lebih sehat, berkelanjutan, dan berbasis pangan lokal, Indonesia dapat menyiapkan generasi yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga mampu menjaga keberlanjutan lingkungan dan sistem pangan demi terwujudnya generasi emas 2045.
Artikel ini berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-2 (Zero Hunger) yang menekankan pemenuhan gizi seimbang dan berkelanjutan, poin ke-3 (Good Health and Well-being) dalam upaya pencegahan penyakit tidak menular, poin ke-12 (Responsible Consumption and Production) yang mendorong pola konsumsi pangan yang lebih sehat dan ramah lingkungan.
Referensi
Ahmed, A., Imran, A., R. Wei, C., Nadeem, R., Shankar, A., Balaji, J., Islam, F., & Befa Kinki, A. (2024). Contribution of ultra-processed foods to increased obesity and non-communicable diseases. Cogent Food and Agriculture, 10(1), 1–13. https://doi.org/10.1080/23311932.2024.2438405
Anastasiou, K., Baker, P., Hadjikakou, M., Hendrie, G. A., & Lawrence, M. (2022). A conceptual framework for understanding the environmental impacts of ultra-processed foods and implications for sustainable food systems. Journal of Cleaner Production, 368(December 2021), 133155. https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2022.133155
Colozza, D. (2024). A qualitative exploration of ultra-processed foods consumption and eating out behaviours in an Indonesian urban food environment. Nutrition and Health, 30(3), 613–623. https://doi.org/10.1177/02601060221133897
Diba, F. (2025). Ultra-Processed Foods, Innovation in the Modern Food Industry. Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan, 24(1), 191–201.
FAO dan WHO. (2019). Sustainable Healthy Diets – Guiding Principle.
Fitriani, Y., Yulda, A., Ayona, N., & Firmansyah, A. F. (2025). Hubungan Pola Konsumsi Ultra Proses Dengan Status Gizi Di Kalangan Remaja: Systematic Review The Relationship Between Ultra-Processed Food Consumption Patterns and Nutritional Status Among Indonesian Adolescents : A Systematic Review. Jurnal Kesmas Dan Gizi (JKG), 8(1), 173–182.
Hanifa, R. A., Arini, F. A., & Wahyuningsih, U. (2024). Night Eating Syndrome, Ultra-processed Foods Consumption, and Physical Activity as Risk Factors for Overnutrition in Students of Faculty of Health Science UPN “Veteran” Jakarta. Amerta Nutrition, 8(3SP), 43–50. https://doi.org/10.20473/amnt.v8i3SP.2024.43-50
Kontributor Artikel: Fidella