• UGM
  • IT Center
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia
Universitas Gajah Mada
  • Beranda
    • Kalender Kegiatan
    • Kegiatan Terdekat
    • Berita
    • Konten Edukasi
    • Magang
    • Laporan Tahunan
  • Tentang PKGM
    • Profil
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Peneliti
    • Kontak Kami
  • Kegiatan
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
    • Pelatihan
    • Publikasi
  • Pengalaman Kerjasama
    • Perusahaan
    • Pemerintah
  • LUARAN KEGIATAN
    • Buku dan Modul
    • Video
    • POLICY BRIEF
    • ARTIKEL JURNAL
  • Beranda
  • Konten Edukasi
  • hal. 2
Arsip:

Konten Edukasi

Bagaimana Peran Sinbiotik dalam Pengaturan Nafsu Makan?

Konten Edukasi Jumat, 8 November 2024

Salah satu topik yang semakin banyak diteliti karena memiliki manfaat yang cukup besar bagi kesehatan, terutama pencernaan dan nafsu makan yaitu kombinasi antara probiotik dan prebiotik yang biasa disebut dengan Sinbiotik. Kombinasi probiotik dan prebiotik yang bekerja secara sinergis dapat meningkatkan kesehatan mikrobiota usus. Probiotik seperti Lactobacillus dan Bifidobacterium sering digunakan dalam sinbiotik untuk meningkatkan kesehatan pencernaan, sementara prebiotik seperti inulin atau fruktooligosakarida (FOS) membantu memfasilitasi pertumbuhan dan aktivitas probiotik di usus.

Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa konsumsi sinbiotik tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan pencernaan, tetapi juga berpotensi mempengaruhi mekanisme biologis yang terlibat dalam pengaturan nafsu makan terutama menurunkan nafsu makan. Berikut beberapa manfaat mengonsumsi sinbiotik dalam menurunkan nafsu makan:

1. Meningkatkan Hormon “Rasa Kenyang” (Hormon Leptin)

Hormon leptin memiliki tugas memberikan sinyal kepada otak untuk mengurangi rasa lapar. Prebiotik dalam sinbiotik dapat difermentasi oleh bakteri probiotik di usus besar menjadi asam lemak rantai pendek atau Short Chain Fatty Acids (SCFA) seperti asetat, propionate, dan butirat. SCFA berperan penting dalam meningkatkan sekresi hormon yang berkaitan dengan rasa kenyang, seperti peptida YY (PYY) dan glucagon-like peptide-1 (GLP-1). Hormon tersebut memberikan sinyal kepada otak untuk mengurangi rasa lapar dan memperpanjang perasaan kenyang setelah makan. Dalam sebuah studi oleh Chambers et al. (2015), ditemukan bahwa propionat, yang dihasilkan melalui fermentasi prebiotik, mampu merangsang pelepasan GLP-1 dan PYY, yang keduanya dikenal sebagai hormon penekan nafsu makan. Efek ini membantu menurunkan asupan kalori dan berpotensi mendukung penurunan berat badan

2. Mengurangi Kadar Hormon Ghrelin

Selain dapat meningkatkan hormon kenyang, sinbiotik juga dapat mempengaruhi kadar hormon ghrelin atau disebut dengan “hormon lapar” karena perannya dalam merangsang nafsu makan. Beberapa studi menunjukkan bahwa konsumsi sinbiotik dapat membantu menekan kadar ghrelin, sehingga mengurangi perasaan lapar dan keinginan untuk makan. Dalam sebuah penelitian oleh Noormohammadi (2023) menemukan bahwa konsumsi sinbiotik berbasis Bifidobacterium dan inulin secara signifikan dapat menurunkan kadar ghrelin pada subjek yang mengalami obesitas, yang pada akhirnya memberikan kontribusi untuk mengurangi asupan makan dan mengontrol nafsu makan menjadi lebih baik.

3. Memperbaiki keseimbangan mikrobiota usus

Keseimbangan mikrobiota usus berperan penting untuk mengatur metabolisme energi dan nafsu makan. Adanya ketidakseimbangan mikrobiota usus dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan resiko obesitas dan resistensi terhadap sinyal rasa kenyang. Sinbiotik dapat memperbaiki keseimbangan mikrobiota usus dengan cara meningkatkan populasi bakteri baik, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi pengaturan nafsu makan. Sebuah studi oleh Lauw (2023) juga menunjukkan bahwa suplementasi sinbiotik pada individu dengan obesitas dapat memperbaiki profil mikrobiota usus, meningkatkan produksi SCFA, dan mengatur pengeluaran hormon terutama hormon nafsu makan.

4. Memperlambat pengosongan lambung

Prebiotik yang tidak dapat dicerna di saluran cerna bagian atas, dapat  memperpanjang rasa kenyang setelah makan. Sehingga dapat memperlambat waktu pengosongan lambung. Hal ini dapat menurunkan frekuensi makan dan asupan kalori serta membantu untuk mengontrol berat badan. Selain memiliki peran yang telah dijelaskan diatas, sinbiotik juga memiliki peranan positif untuk mengobati beberapa penyakit seperti dermatitis atopik, gangguan pada saluran cerna (gastrointestinal disorder), diabetes, ensefalopati hepatik, sindrom iritasi usus besar (irritable bowel syndrom),  metabolic disorders, dan menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh.

 

 

Jika anda mempunyai tujuan untuk menurunkan berat badan, maka tidak hanya sekedar mengatur pola makan dan  teknik memasaknya. Namun, perlu juga untuk menambahkan jenis bahan makanan yang dikonsumsi. Salah satunya dengan menambahkan prebiotik,  probiotik, atau gabungan keduanya (sinbiotik) dalam makanan yang kita konsumsi sehari – hari. Salah satu contoh makanan sinbiotik yang dapat dikonsumsi seperti  salad buah sebagai sumber serat yang ditambah dengan yoghurt sebagai sumber probiotik atau  mengkonsumsi makanan fermentasi lokal seperti tempe sebagai sumber probiotik alami dengan tambahan sayuran. Kombinasi makanan tersebut dapat kita konsumsi sehari – hari dan menambah asupan sinbiotik dalam tubuh serta dapat memberikan efek positif bagi pencernaan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

 

Referensi:

  1. Chambers, E. S., et al. (2019). Postprandial gastrointestinal hormone responses and appetite regulation in humans following inulin-propionate ester ingestion. The American Journal of Clinical Nutrition, 110(4), 883-891.
  2. Chamber, E.S et al. (2015). Effect of Targeted Delivery of Propionate to The Human Colon on Appetite Regulation, Body Weight Maintenance and Adiposity in Overweight Adults. Gut Microbiota; 64:1744 – 1754
  3. Lauw, Susana, et al (2023). Effect of Synbiotic Supplementation on Metabolic Syndrome Traits and Gut Microbial Profile Among Overweight and Obese Hongkong Chinese Individuals: A Randomized Trial. Nutrients, 15, 4248
  4. Haliman, Chika Dewi dan Silvia Alfinnia. 2021. Gut Microbiota, Prebiotics, Probiotics, and Synbiotics in Management of Obesity. Media Gizi Kesmas, Vol. 10. No.1 Juni 2021: Hal. 149 – 156
  5. Jiang, Haoran, et al. 2022. Synbiotics and Gut Microbiota: New Perspective in The Treatment of Type 2 Diabetes Mellitus. Foods, 11, 2438
  6. Noormohammadi, Morvarid, et al. 2023. The effect of Probiotic and Synbiotic Supplementation on Appetite Regulating Hormones and Desire to Eat : A Systematic Review and Meta Analysis of Clinical Trials. Phamacological Research, 187

 

Kontributor Artikel: Ulfi Rahma Yunita, S.Gizi, M.Gizi

Manfaat Diversifikasi Pangan Lokal Terhadap Kesehatan

Konten Edukasi Kamis, 17 Oktober 2024

Pangan merupakan salah satu kebutuhan manusia yang sangat penting, karena dimanapun manusia berada, pasti membutuhkan bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Saat ini, kualitas konsumsi pangan penduduk Indonesia masih cukup rendah, kurang beragam, serta masih didominasi dengan pangan sumber karbohidrat terutama berasal dan gandum. Padahal, pangan lokal di Indonesia cukup beragam, dan memiliki kandungan gizi yang tidak kalah penting dengan beras maupun gandum.

Menurut Undang – undang Pangan Nomor 18 Tahun 2012, pangan lokal adalah makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat sesuai dengan potensi dan kearifan lokal. Umumnya, pangan lokal diproduksi, diolah, dan dikonsumsi oleh masyarakat setempat, serta memiliki keunikan tersendiri yang dipengaruhi oleh kondisi geografis, iklim, dan tradisi kuliner daerah tersebut. Pemenuhan pangan pokok tidak hanya dipenuhi dari beras, sehingga perlu diversifikasi pangan yang telah dituangkan dalam Perpres No 22 tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal.

Diversifikasi pangan lokal telah menjadi isu penting dalam upaya mencapai ketahanan pangan yang berkelanjutan dan peningkatan kesehatan masyarakat. Di banyak negara, termasuk Indonesia, pola makan sering kali didominasi oleh beberapa bahan pokok seperti beras atau gandum, yang menyebabkan ketergantungan tinggi terhadap satu jenis pangan. Diversifikasi pangan adalah upaya untuk memperluas spektrum sumber makanan dengan memanfaatkan berbagai jenis bahan pangan lokal yang ada di suatu daerah.

Indonesia memiliki sagu, jagung, singkong, dan ubi jalar yang merupakan sumber pangan lokal yang melimpah. Namun kurang dimanfaatkan dan kurang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dibandingkan beras. Padahal jika dilihat dan diteliti lebih lanjut berbagai macam pangan lokal mulai dari umbi – umbian, buah – buahan, sayuran, kacang – kacangan, dan biji – bijian memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas diet masyarakat.

Diversifikasi pangan lokal tidak hanya dapat meningkatkan ketahanan pangan, namun juga dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi kesehatan, seperti meningkatkan asupan zat gizi dalam tubuh serta mencegah terjadinya penyakit dalam tubuh. Berikut pembahasan singkat berbagai manfaat dari diversifikasi pangan lokal terhadap kesehatan

  1. Meningkatkan asupan zat gizi dalam tubuh

Pangan lokal lebih kaya akan kandungan gizinya karena belum mengalami proses pengolahan yang dapat mengurangi kandungan gizinya. Misalnya, umbi-umbian lokal seperti ubi jalar dan singkong kaya akan karbohidrat kompleks dan serat, sebagai sumber energi dan kesehatan pencernaan. Buah-buahan lokal seperti mangga, pisang, dan pepaya, menyediakan vitamin dan mineral penting seperti vitamin C, kalium, serta serat pangan. Demikian juga, kacang-kacangan lokal seperti kacang tanah dan kedelai kaya akan protein nabati, yang berfungsi sebagai sumber protein alternatif selain daging.

Dalam banyak kasus, masyarakat di pedesaan yang mengonsumsi makanan lokal lebih beragam cenderung memiliki pola makan yang lebih seimbang. Data dari Badan Ketahanan Pangan (BKP) 2021 menyebutkan bahwa jenis makanan padi – padian, umbi berpati serta sayur dan buah berturut – turut 4.7%, 31.1% dan 2.1% lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan dibandingkan dengan masyarakat perkotaan yang lebih banyak konsumsi protein hewani, protein nabati, lemak serta minuman.

Dalam Penelitian juga menunjukkan bahwa,  konsumsi beragam pangan lokal dapat membantu mencegah kekurangan mikronutrien yang sering terjadi pada masyarakat yang mengandalkan satu jenis makanan pokok, seperti nasi. Kekurangan mikronutrien ini dapat mengakibatkan masalah kesehatan serius, seperti anemia, rabun senja, serta osteoporosis.

  1. Pangan Lokal Membantu Mencegah Penyakit Tidak Menular

Diversifikasi pangan lokal juga dapat berperan penting dalam pencegahan penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Pola makan yang tinggi serat dari pangan lokal seperti jagung, kacang-kacangan, dan sayuran, dapat membantu mengontrol kadar gula darah dan mencegah obesitas, yang merupakan faktor risiko utama untuk diabetes tipe 2.

Dalam sebuah penelitian (Sihite, 2023) mengungkapkan bahwa, makanan lokal seperti ubi jalar, kaya akan beta-karoten dan antioksidan dapat membantu mengurangi risiko kanker serta penyakit tidak menular lainnya seperti hipertensi, darah tinggi dan obesitas. Selain itu ubi jalar ungu mengandung antosianin yang berfungsi untuk menangkap radikal bebas dalam tubuh sehingga dapat mencegah terjadinya penuaan dini, penyakit kanker, serta membantu mengontrol kadar gula dalam darah. Kemudian, buah – buahan tropis seperti manggis dan rambutan mengandung polifenol dan antioksidan yang membantu melawan peradangan dan mencegah kerusakan sel yang dapat memicu perkembangan kanker .

  1. Meningkatkan Kesehatan Pencernaan

Pangan lokal yang kaya serat, seperti singkong, jagung, serta sayuran hijau lokal, berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan. Serat pangan membantu memfasilitasi pergerakan usus yang sehat, mencegah sembelit, dan mendukung pertumbuhan mikrobiota usus yang sehat. Mikrobiota usus yang seimbang sangat penting untuk menjaga kekebalan tubuh serta mengurangi resiko peradangan kronis yang dapat menyebabkan penyakit seperti kanker usus besar. Selain itu, serat pangan juga dapat membantu memperlambat penyerapan gula dalam darah, yang penting bagi penderita diabetes dalam mengontrol kadar gula darahnya.

  1. Ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan

Selain memiliki manfaat untuk kesehatan, diversifikasi pangan lokal juga berperan dalam ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan. Pangan lokal sering kali lebih mudah diakses, lebih terjangkau, dan lebih sesuai dengan kondisi ekosistem setempat, sehingga tidak membutuhkan input pertanian yang tinggi seperti pupuk kimia atau pestisida. Kemudian, dengan memanfaatkan pangan lokal, masyarakat dapat meningkatkan ketahanan pangan mereka, terutama di masa krisis atau bencana alam ketika pasokan makanan dari luar daerah mungkin terganggu.

Penting bagi masyarakat Indonesia untuk mencoba memulai mengkonsumsi dan memanfaatkan pangan lokal Indonesia sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan secara umum.

Referensi :

  1. (2013). Guidelines for Measuring Household and Individual Dietary Diversity. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations
  2. Sri Widowati dan Rizki Amalia Nurfitriani. 2023. Diversifikasi Pangan Lokal untuk Ketahanan Pangan: Perspektif Ekonomi, Sosial dan Budaya. Penerbit BRIN, 2023 : Jakarta
  3. Diya Salsabila, Lilik Hidayanti, Yana Listyawardhani. 2023. Pola Makan dan Status Gizi Anak Usia Sekolah Dasar di Wilayah Pedesaan dan Perkotaan. Jurnal Riset Gizi. Vol. 11 No 2 2023
  4. Micha, R., Peñalvo, J. L., Cudhea, F., Imamura, F., Rehm, C. D., & Mozaffarian, D. 2017. Association Between Dietary Factors and Mortality From Heart Disease, Stroke, and Type 2 Diabetes in the United States. JAMA, 317(9), 912–924..
  5. Rinninella, E., Raoul, P., Cintoni, M., et al. 2019. What is the Healthy Gut Microbiota Composition? Microorganisms, 7(1), 14
  6. Sihite, Nathasa Weisdania dan Mina Sonita Hutasoit. 2023. Potensi Bahan Pangan Lokal Indonesia Sebagai Pangan Fungsional dan Manfaatnya Bagi Kesehatan: A Review. Jurnal Riset Gizi, Vol. 11 No.2

 

Kontributor Artikel: Ulfi Rahma Yunita, S.Gizi, M.Gizi

Pedoman Gizi Seimbang atau Menu 4 Sehat 5 Sempurna?

Konten Edukasi Jumat, 4 Oktober 2024

Sebelumnya kita mengenal menu 4 Sehat 5 Sempurna yang sudah digaungkan sejak tahun 1952 oleh Prof. Poerwo Soedarmo ‘Bapak Gizi Indonesia’. Menu ini terinspirasi dari Basic Four di Amerika Serikat yang mulai diperkenalkan pada era 1940an. Menu 4 Sehat 5 Sempurna sudah mendarah daging dibenak orang Indonesia, bahkan hingga saat ini masih banyak orang secara spontan menyatakan menu makan bergizi adalah 4 Sehat 5 Sempurna. Menu ini mengingatkan pada makanan yang mempunyai kandungan gizi lengkap yaitu berupa karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Jenis makanan dalam menu ini diantaranya: makanan pokok, aneka lauk pauk, sayur, buah, dan susu.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dalam bidang gizi serta masalah dan tantangan yang dihadapai membuat menu 4 Sehat 5 Sempurna sudah tidak sesuai dengan perkembangan gizi saat ini. Kementerian Kesehatan Indonesia mengembangkan Pedoman Gizi Seimbang (PGS) pada tahun 1995 dan direvisi pembaruannya tahun 2014 sebagai konsep menu pangan sehat baru di Indonesia. PGS sendiri diambil dari prinsip Nutrition Guide for Balanced Diet hasil kesepakatan Konferensi Pangan Dunia Food and Agriculture Organization (FAO) di Roma, Italia tahun 1992 yang diyakini akan mampu mengatasi beban ganda masalah gizi, baik kekurangan maupun kelebihan gizi. Di Indonesia sendiri menggunakan dua panduan pangan yaitu : Pertama, A rounded pyramid-like shape (Tumpeng Gizi Seimbang) yang mewakili prinsip gizi seimbang. Konsep awal The Food Guide Pyramid yang diperkenalkan oleh United States Department of Agriculture (USDA) pada tahun 1992. PGS secara resmi diterima masyarakat Indonesia pada tahun 2009 sesuai dengan UU Kesehatan No.36 Tahun 2009, yang menyebutkan secara eksplisit “Gizi Seimbang” dalam program perbaikan gizi dan disempurnakan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomer 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang. Kedua, A plate guide (Piring Makanku, Porsi Sekali Makan) atau lebih familiar ‘Isi Pringku’ yang menggambarkan proporsi kelompok makanan yang disarankan untuk dikonsumsi dalam setiap kali makan.

Sejarah mencatat pada tahun 1995, Menu 4 Sehat 5 Sempurna yang mempunyai 13 pedoman umum gizi seimbang (PUGS) secara rinci menyebutkan bahwa: makan beraneka ragam makanan; makan makanan untuk memenuhi kecukupan energi; makan makanan sumber karbohidrat, setengah dari kebutuhan energi; membatasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kebutuhan energi; menggunakan garam beryodium; makan makanan sumber zat besi; memberikan ASI saja kepada bayi sampai umur enam bulan; membiasakan sarapan pagi; minum air bersih, aman yang cukup jumlahnya; melakukan kegiatan fisik, olah raga secara teratur; menghindari minum minuman beralkohol; makan makanan yang aman bagi kesehatan; membaca label pada makanan yang dikemas. Sembilan tahun kemudian pada tahun 2014, 13 pesan tersebut direvisi kembali menjadi 10 pesan dasar gizi seimbang (PSG) secara rinci adalah sebagai berikut: mensyukuri dan menikmati anekaragam makanan; banyak makan sayuran dan cukup buah-buahan; membiasakan mengkonsumsi lauk pauk yang mengandung protein tinggi; membiasakan mengkonsumsi anekaragam makanan pokok; membatasi konsumsi pangan manis, asin, dan berlemak; membiasakan sarapan; membiasakan minum air putih yang cukup dan aman; membiasakan membaca label pada kemasan pangan; mencuci tangan memakai sabun dengan air bersih mengalir; dan melakukan aktivitas fisik yang cukup dan mempertahankan berat badan normal.

Perbedaan mendasar antara menu 4 Sehat 5 Sempurna dengan pedoman gizi seimbang adalah konsumsi makanan sehari-hari harus mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah (porsi) yang sesuai dengan kebutuhan setiap orang atau kelompok umur. Penting untuk menerapkan PSG karena dari hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menyatakan bahwa Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah penyakit kronis yang menyebabkan kematian atau pembiayaan kesehatan terbesar diantaranya berupa asma, kanker secara umum, diabetes mellitus, penyakit jantung, hipertensi, stroke, dan penyakit ginjal kronis. Banyak faktor risiko penyebab terjadinya PTM salah satunya konsumsi pangan masyarakat di Indonesia masih belum sesuai dengan pesan gizi seimbang. Data SKI 2023 menunjukkan bahwa 96,7% kurang mengkonsumsi buah dan sayur; 37,0% kurang melakukan aktivitas fisik; 22,46% prevalensi jumlah perokok yang mengkonsumsi rokok setiap hari; 23,4% obesitas dewasa dan 36,8% obesitas sentral.

WHO mengaris bawahi pentingnya menerapkan pola makan yang sehat untuk membantu melindungi dari segala bentuk malnutrisi, serta PTM termasuk diabetes, penyakit jantung, stroke, dan kanker. Pola makan yang tidak sehat dan kurang aktivitas fisik menyebabkan risiko kesehatan global. Asupan energi (kalori) harus seimbang dengan pengeluaran energi. Untuk menghindari penambahan berat badan yang tidak sehat, total lemak tidak boleh melebihi 30% dari total asupan energi.

Sudah sepantasnya pemerintah Indonesia harus lebih gencar lagi melakukan kampanye sosialisasi, komunikasi, dan edukasi terkait pola makan pedoman gizi seimbang bagi masyarakat agar lebih memahami bahwa menu gizi 4 sehat 5 sempurna sudah tidak sesuai dengan perkembangan gizi saat ini dan sudah beralih ke pedoman gizi seimbang. Perlu ditekankan juga pentingnya peran aktif pemangku kepentingan kesehatan yang lain termasuk instansi di bidang Pendidikan, Kebudayaan, Agama, BKKBN, Pertanian, Dalam Negeri, Perindustrian, Perdagangan, Kelautan dan Perikanan, serta Sektor Swasta dan Masyarakat. Apa bila masyarakat sudah mamahani dan dapat menerapkan pedoman gizi seimbang maka niscahya beban ganda masalah gizi di Indonesia dapat terpecahkan dan harapan Indonesia Emas di 2045 dapat tercapai.

 

Kontributor Artikel: Ronny Soviandhi, S.Si., MPH

 

Sumber :

Fadli, Rizal, Kenali Apa Saja Makanan 4 Sehat 5 Sempurna dan Manfaatnya, Halodoc.com, 2023. https://www.halodoc.com/artikel/kenali-apa-saja-makanan-4-sehat-5-sempurna-dan manfaatnya srsltid=AfmBOor3b_aZG9X1ZjvnAa0JsVS3adcoODSLpOPluONW9YwTRUMocToU

Food and Agriculture Organization of the United Nations, Food-Based Dietary Guidelines-Indonesia, 2024. https://www.fao.org/nutrition/education/food- dietary-guidelines/regions/countries/indonesia/en/

Hapsari, Pramesthi W, Khusun, H, Februhartanty, J, Pesan Gizi Seimbang Pada Buku Ajar, Sebuah Upaya Promosi Gizi dan Kesehatan, Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Center for Food and Nutriotion (SEAMEO RECFON), Pusat Kajian Gizi Regional (PKGR), Universitas Indonesia, 2018. https://www.seameo-recfon.org/wp- content/uploads/2020/11/Pesan-Gizi-Seimbang-pada-Buku-Ajar_Publish- Web-1.pdf

Jacqueline B. Marcus, Chapter 1 – Nutrition Basics: What Is Inside Food, How It Functions and Healthy Guidelines: The Nutrients in Foods and Beverages in Healthy Cooking and Baking, Culinary Nutrition,Academic Press, 2013, Pages 1-50, ISBN 9780123918826, https://doi.org/10.1016/B978-0-12- 391882-6.00001-7.

Kementerian Kesehatan, Inilah Perbedaan “4 Sehat 5 Sempurna” Dengan “Gizi Seimbang”, Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, 2016. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis- media/20160505/5214922/inilah-perbedaan-4-sehat-5-sempurna-dengan- gizi-seimbang/

Kementerian Kesehatan, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Dalam Angka, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, 2023. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/ski-2023-dalam-angka/

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 41 tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang. http://kesmas.kemkes.go.id/perpu/konten/permenkes/pmk-no.-41-ttg-pedoman-gizi-seimbang

World Health Organization, Healthy Diet, Key Fact, 2020. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/healthy-diet

Lakukan Tips Ini untuk Mengurangi Sampah Sisa Makanan!

Konten Edukasi Kamis, 26 September 2024

Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2023, sampah sisa makanan menyumbang komposisi sampah terbanyak mencapai 40,91%. Sampah sisa makanan merupakan makanan yang masih layak makan namun terbuang karena tidak dimakan. Sampah sisa makanan ini muncul karena beberapa faktor diantaranya karena penyajian yang berlimpah akibat budaya berlebihan dari masyarakat sehingga makanan tidak dihabiskan dan menimbulkan sampah yang sering disebut “leftover” Penyebab lainnya karena perencanaan makanan yang tidak tepat sehingga menimbulkan sisa makanan seperti yang terjadi pada restoran, katering, hingga supermarket.

Sebagai konsumen kita harus lebih bijak dengan memperhatikan kemungkinan adanya timbulan sampah dari makanan yang kita konsumsi. Berikut ini adalah tips yang bisa kita lakukan untuk mengurangi sampah sisa makanan:

Memulai makan dengan porsi kecil

Tips ini bisa dilakukan ketika kita bisa secara bebas mengatur porsi makan seperti ketika di rumah atau di tempat makan dengan sistem prasmanan atau buffet. Hal ini memungkinkan untuk kita mengambil porsi secara bertahap sesuai dengan kemampuan makan. Apabila porsi pertama sudah habis dan masih ingin makan, kita bisa mengambilnya lagi sesuai kebutuhan.

Masak sendiri makananmu

Memasak sendiri membuat kita bebas menentukan makanan yang sesuai dengan selera, porsi, dan kemampuan masakmu. Namun memasak sendiri terkadang malah menghasilkan porsi yang lebih banyak dibandingkan porsi yang seharusnya kita makan. Hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan tips ini adalah pastikan melakukan persiapan masak yang tepat termasuk menghitung jumlah porsi. Jika dirasa porsi makanan yang dimasak terlalu banyak, kita bisa menyimpannya di dalam kulkas dan mengonsumsinya di lain waktu.

Simpan sisa porsi makanmu yang tidak termakan

Sisa porsi makanan yang tidak tersentuh bisa kita simpan tempat penyimpanan yang aman seperti kulkas untuk dikonsumsi lagi di lain waktu. Kita bisa juga mengolah sisa makanan dengan mencampurkan ke dalam makanan lain. Sisa sayuran bisa digunakan untuk tumisan. Bumbu halus bisa ditambahkan ke dalam sup atau saus. Buah potong bisa diolah kembali menjadi smoothie. Susu yang tidak habis bisa dicampurkan ke kopi.

Hindari waktu snacking berdekatan dengan jam makan utama

Tujuan snacking atau ngemil sebenarnya adalah untuk memenuhi asupan energi tubuh dalam jumlah yang kecil di antara jam makan utama. Ngemil sebaiknya tidak dengan makanan yang berat atau satu porsi lengkap. Ngemil juga tidak dianjurkan dilakukan mendekati jam makan utama baik ketika sarapan, makan siang, atau makan malam. Hal ini untuk menghindari perut merasa kenyang lebih awal sehingga ketika jam makan utama malah tidak antusias untuk menghabiskan makanan. Cobalah untuk mengatur jarak waktu snacking dan makan utama sekitar 2 jam. Contoh kita terbiasa sarapan di jam 7 pagi dan makan siang di jam 12, maka waktu yang pas untuk ngemil adalah pukul 9 hingga 10. 

 

Sumber: Guelph Family Health Study. (2019). Rock What You’ve Got: Recipes for Preventing Food Waste. Guelph Family Health Study

Pahami Tentang Sustainable Healthy Diet, makan sehat yang ramah lingkungan.

Konten Edukasi Kamis, 19 September 2024

Apakah pernah terpikir bahwa kebiasaan makan kita selain berdampak pada kesehatan tubuh juga berpengaruh kepada lingkungan? 

Faktanya setiap orang berkontribusi pada dampak yang ditimbulkan oleh sistem pangan kita terhadap bumi. Tetapi kita juga bisa membuat bumi semakin sehat untuk ditinggali, melalui perubahan kecil yang dapat dilakukan pada pola makan. 

Apa itu Sustainable Healthy Diet?

Sustainable healthy diet atau makan sehat berkelanjutan adalah pola makan yang mempromosikan semua dimensi kesehatan dan kesejahteraan individu; memiliki tekanan dan dampak lingkungan yang rendah; dapat diakses, terjangkau, aman dan adil; dan dapat diterima secara budaya (WHO, 2019). Secara sederhana, pola makan berkelanjutan adalah pola makan yang memberikan dampak positif terhadap kesehatan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Pola makan sehat berkelanjutan dilakukan untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan optimal semua individu dan mendukung fungsi dan kesejahteraan fisik, mental dan sosial di semua tahap kehidupan untuk generasi sekarang dan mendatang. Makan sehat dan berkelanjutan berkontribusi untuk mencegah segala bentuk masalah gizi, mengurangi risiko penyakit tidak menular yang berkaitan dengan makan, serta mendukung pelestarian keanekaragaman hayati dan kesehatan bumi.

Berikut adalah hal-hal yang bisa dilakukan agar makan menjadi lebih sehat dan berkelanjutan :

1.Makan lebih banyak sayur dan buah

Sayur dan buah merupakan pilihan makanan yang lebih sehat dan memiliki dampak terhadap lingkungan lebih rendah dibandingkan daging, susu, dan produk pangan olahan. Sebagian besar komponen sayur dan buah bisa dikonsumsi sehingga menghasilkan timbulan sampah yang lebih sedikit. Selain itu sayur dan buah bisa dikonsumsi tanpa harus diolah sehingga mengurangi penggunaan energi.

2.Membatasi konsumsi sumber pangan hewani

Bahan pangan hewani seperti daging adalah sumber protein yang tinggi bagi tubuh. Meskipun demikian, rantai pasokan produk peternakan ternyata menyumbang 14,5% dari emisi gas rumah kaca global. Pola makan berkelanjutan mendorong kita untuk lebih bijak dalam mengonsumsi pangan hewani agar tidak menimbulkan beban masalah lingkungan yang besar.

3.Menanam sendiri sayuran

Kita bisa membuat pilihan sayur yang lebih sehat dari sumber yang tidak tercemar. Menanam sendiri juga bisa mengurangi dampak lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan transportasi karena tidak perlu berkendara untuk membeli sayuran.

4.Mengurangi sampah sisa makanan 

Tips untuk mengurangi sampah sisa makanan adalah makan secukupnya dan tidak 

berlebihan, membuat meal planning, atau mengolah kembali sisa makanan yang bisa dimanfaatkan misal untuk makanan ternak atau pupuk organik.

5.Meminimalisir penggunaan plastik kemasan

Plastik menyumbang timbunan sampah terbanyak kedua setelah sisa makanan. Untuk mengurangi penggunan plastik kemasan makanan kita bisa mulai membawa tempat makanan dan minuman/tumbler sendiri ketika sedang bepergian. Jika berbelanja di supermarket sebaiknya menggunakan tas belanja sendiri.

6.Makan pangan lokal sesuai dengan musim

Memilih makanan yang ada di sekitar kita adalah salah satu prinsip makan berkelanjutan karena lebih mudah dijangkau dan menghemat biaya serta energi. 

7.Hindari memilih makanan olahan 

Selain tidak baik untuk kesehatan dan menghilangkan sebagian besar zat gizi dalam 

prosesnya, makanan olahan membutuhkan banyak sumber daya dalam produksi. Biasakan membeli makanan dalam bentuk utuh dan belum diproses, dan mengolah sendiri dengan pengolahan yang sederhana.

8.Makan dengan penuh kesadaran (mindful eating)

Mindful eating berarti menghindari gangguan ketika makan dan fokus melibatkan seluruh indera dan emosi untuk menikmati makanan. Seseorang yang tidak menerapkan mindful eating (mindless eating) dikaitkan dengan masalah kesehatan seperti gangguan kecemasan dan penambahan berat badan karena makan berlebihan. Contoh mindless eating adalah makan sambil mengemudi, sambil bekerja, melihat ponsel.

 

Sumber:

Helmyati dkk. 2024. Mengenal Lebih Dekat Sustainable Healthy Diet, Makan Sehat yang Ramah Lingkungan. Yogyakarta: Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia

Mengenal Istilah Food Loss dan Food Waste dan Situasinya di Indonesia

Konten Edukasi Kamis, 12 September 2024

Organisasi Pangan dan Pertanian atau Food and Agriculture Organization (FAO) menyebutkan bahwa sepertiga dari makanan yang diproduksi untuk konsumsi, berakhir hilang atau terbuang saat proses panen dan konsumsi, yang dikenal dengan istilah food loss dan food waste. Di tingkat global, food loss dan food waste berkontribusi pada 4.4 gigaton emisi gas rumah kaca (FAO, 2015). Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2023, sisa makanan menyumbang kontribusi terbesar sampah dengan persentase mencapai 40,91%, lebih banyak dibandingkan sampah plastik sebesar 19,18%. Selama ini kesadaran masyarakat akan sampah lebih banyak terpusat pada sampah plastik. Sebaliknya, sampah sisa makanan masih dipandang sebelah mata. Padahal sampah sisa makanan memberikan dampak negatif juga terhadap lingkungan.

Apa itu Food Loss dan Food Waste?

Food loss merujuk pada makanan yang hilang di berbagai tahap produksi, pengolahan, penyimpanan, dan distribusi makanan sebelum mencapai tahap konsumsi. Sedangkan food waste adalah sisa makanan masih layak konsumsi yang terbuang sebagai sampah. 

Food Loss dapat terjadi sejak tahap produksi hingga distribusi, seperti hasil panen rusak karena cuaca ekstrem, makanan mengalami kerusakan selama transportasi, penyimpanan yang tidak 

tepat sehingga makanan menjadi tidak layak konsumsi sebelum sampai ke konsumen. Food waste sering ditemukan di tahap konsumsi di akhir rantai pasok makanan, seperti di rumah tangga, restoran, atau supermarket. Ruang lingkup food loss dan food waste dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 1. Ruang Lingkup Food Loss dan Food Waste

Sumber: Bappenas. (2021). Laporan Kajian Food Loss and Waste di Indonesia. Jakarta: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

Penyebab Food Loss dan Food Waste

Penyebab food loss dan food waste berasal dari aspek yang cukup berbeda. Food loss dapat disebabkan karena faktor eksternal manusia seperti kondisi lingkungan, infrastruktur yang buruk, dan praktik manajemen yang tidak efisien selama produksi hingga distribusi. Sedangkan food waste sebagian besar timbul karena faktor internal seseorang seperti konsumen tidak menyukai makanan, mempersiapkan makanan dengan berlebihan, kesadaran yang kurang akan nilai makanan, dan perhatian yang kurang terhadap manajemen sisa makanan. Penyebab food waste lainnya adalah terkait keamanan pangan karena makanan melebihi tanggal kadaluarsa. 

Situasi dan Dampak Food Loss dan Food Waste di Indonesia

Bappenas Republik Indonesia telah merilis Laporan Kajian Food Loss and Waste di Indonesia tahun 2021. Bappenas melaporkan timbulan food loss dan food waste di Indonesia pada tahun 2000-2019 mencapai angka 115-184 kg/kapita/tahun atau rata-rata dalam satu bulan seseorang bisa menghasilkan 9,6-15,3 kg timbulan food lost dan food waste. Dari aspek tahap rantai pasok, timbulan terbesar di temukan di tahap konsumsi. Dari aspek sektor dan jenis pangan, timbulan terbesar terjadi di tanaman pangan kategori padi-padian. Sementara sektor pangan paling tidak efisien adalah tanaman hortikultura, yaitu di kategori sayur-sayuran. 

Dampak yang ditimbulkan dari food loss dan food waste mengancam berbagai aspek kehidupan, tidak hanya lingkungan namun ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Dalam rentang waktu 2000 hingga 2019, total emisi timbulan Food loss dan food waste diestimasi mencapai 1.702,9 Mt CO2, ek, dengan rata-rata kontribusi per tahun setara dengan 7,29% emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Indonesia. Kerugian dari timbulan food loss dan food waste tersebut diperkirakan mencapai 213-551 triliun rupiah/tahun atau setara dengan 4-5% PDB Indonesia. Jumlah orang yang dapat diberi makan dari kehilangan kandungan gizi dari food loss dan food waste tahun 2000-2019 adalah sebanyak 61-125 juta orang atau 29, 47% populasi Indonesia. 

Ancaman food loss dan food waste harus disikapi oleh setiap orang dengan lebih bijak dan sadar akan pentingnya menghargai makanan sehingga jumlah kehilangan dan sampah yang dihasilkan dapat ditekan seminimal mungkin. 

 

Sumber:

Helmyati dkk. 2024. Mengenal Lebih Dekat Sustainable Healthy Diet, Makan Sehat yang Ramah Lingkungan. Yogyakarta: Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia

Waspadai Foodborne Illness, Perhatikan Makananmu Sekarang!

Konten Edukasi Jumat, 14 Juni 2024

Belum lama ini media sosial digemparkan dengan berita keracunan massal yang dialami oleh sekelompok warga di sebuah desa di Jawa Barat. Penyebab keracunan diduga berasal dari makanan yang diperoleh warga dari acara tahlilan. Korban keracunan mengalami gejala perut sakit dan buang air besar berkali-kali setelah mengonsumsi makanan tersebut. Alhasil banyak korban mengalami kekurangan cairan sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. 

Fenomena keracunan massal karena makanan seperti di atas sudah sering kita temui. Keracunan umumnya disebabkan karena kontaminasi bakteri patogen pada makanan yang dikonsumsi. Kondisi ini disebut juga dengan foodborne illness atau penyakit bawaan makanan. Foodborne illness menimbulkan gejala yang dapat dirasakan dalam hitungan menit hingga beberapa minggu setelah seseorang mengonsumsi makanan/minuman terkontaminasi. Umumnya gejala tersebut seperti mual, muntah, diare, atau demam. Jika tidak segera teratasi penyakit ini akan berdampak serius hingga menyebabkan kematian pada beberapa orang dengan risiko tinggi seperti bayi, anak kecil, wanita hamil, lansia, dan orang-orang dengan imunitas lemah (seperti penyintas HIV/AIDS, kanker, diabetes). 

Kamu tidak perlu khawatir, sebagian besar kasus foodborne illness dapat dicegah dengan memasak atau memproses makanan dengan benar untuk membasmi patogen. Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk mencegah foodborne illness yaitu

1. Cuci tangan menggunakan sabun.

Tangan menjadi perantara untuk memasukan makanan ke dalam mulut. Sehingga menjaga kebersihan tangan menjadi hal yang mendasar. Upayakan mencuci tangan menggunakan sabut selama 20 detik. Biasakan mencuci tangan pada tiga waktu penting yaitu setelah menggunakan kamar mandi, sebelum memasak, dan sebelum makan.

2. Pisahkan makanan mentah dan makanan matang.

Jangan gunakan piring yang terkontaminasi daging mentah, unggas, atau makanan laut untuk hal lain kecuali mencuci piring terlebih dahulu dengan air sabun panas. Disarankan untuk mencuci peralatan yang telah menyentuh daging mentah jika peralatan tersebut juga digunakan untuk menangani daging matang. 

3. Marinasi makanan di dalam kulkas, bukan di atas meja (suhu ruang).

Perlu diingat bahwa bakteri berkembang cepat pada suhu 5°C hingga 60°C. Jika ingin menggunakan sebagian bumbu marinasi sebagai saus pada makanan setelah dimasak, gunakan bumbu yang belum terkontaminasi daging atau bahan mentah. 

4. Masak makanan hingga matang.

Masak semua daging-dagingan hingga suhu internal minimum 145 °F atau 63 °C yang diukur dengan termometer makanan sebelum mengeluarkan daging dari sumber panas. Masak semua daging giling mentah hingga mencapai suhu internal minimum 160 °F atau 71 °C dan unggas hingga suhu internal minimum 165 °F atau 74 °C, yang diukur dengan termometer makanan. Jika tidak memiliki termometer makanan pastikan memasak daging hingga berwarna kecoklatan (tidak menyisakan warna merah muda di dalam daging).

5. Dinginkan dan bekukan makanan dengan segera.

Jangan membiarkan makanan berada di luar lemari pendingin atau di atas panggangan selama lebih dari 2 jam. Pada suhu ruang 30 °C, makanan tidak boleh dibiarkan di ruangan selama lebih dari 1 jam.

6. Menjaga suhu makanan panas tetap panas, dan makanan dingin tetap dingin.

Bungkus dengan baik makanan dan letakkan di dalam wadah kedap udara. Jika membungkus makanan, pastikan untuk memakannya dalam waktu dua jam setelah membelinya. Saat memanaskan kembali makanan ini, pastikan suhu makanan mencapai 165 °F atau 74 °C. Makanan dingin seperti salad atau dessert disimpan pada suhu kurang dari 40 °F atau 4 °C. Gunakan batu es untuk menjaga suhunya tetap dingin saat dihidangkan dalam pesta.  

 

Kontributor: Lintang Aryanti, S.Gz

 

Referensi: 

  1. https://www.fda.gov/consumers/consumer-updates/barbecue-basics-tips-prevent-foodborne-illness
  2. https://www.fsis.usda.gov/food-safety/foodborne-illness-and-disease

Cegah Anemia dengan Konsumsi Makanan yang Tepat

Konten Edukasi Jumat, 15 Desember 2023

Halo Sobat PKGM! Tahu tidak, anemia defisiensi besi merupakan kondisi kekurangan gizi yang paling sering terjadi. Nah, terdapat 3 strategi yang bisa dilakukan untuk mencegahnya, yaitu dengan meningkatkan asupan makanan sumber zat besi, bantu penyerapannya, dan menghindari zat gizi yang menghambat penyerapannya.

1.   Sumber Zat Besi

Zat besi terbagi ke dalam 2 bentuk, yaitu besi heme dan non-heme. Besi heme bersumber dari hewani sementara besi non-heme bersumber dari nabati. Bioavailabilitas (tingkat ketersediaan biologis) zat besi heme lebih tinggi daripada non-heme. Berikut ini daftar sumber zat besi ya.

  • Daging (sapi, domba, rusa) dan unggas (ayam, itik, bebek, burung)
  • Hati sapi atau hati ayam
  • Seafood (berbagai jenis ikan dan kerang)
  • Sayuran hijau terutama yang berwarna pekat (bayam, sawi hijau, brokoli)
  • Tahu dan tempe
  • Kacang-kacangan (kacang merah, kacang kedelai, almond, kacang polong, buncis)
  • Biji-bijian (kacang mete, pistachio, biji bunga matahari, biji labu, biji rami)
  • Makanan terfortifikasi zat besi*

*Untuk mengetahui apakah suatu makanan sudah terfortifikasi zat besi atau belum, maka periksa dulu kemasannya, biasanya akan tertera label Fe.

Bagaimana jika tidak memungkinkan konsumsi zat besi dari protein hewani? Tenang, caranya bisa diakali dengan mengonsumsi zat besi dari nabati dengan porsi yang lebih banyak ya!

2.   Bantu Penyerapan Zat Besi dengan Vitamin C

Vitamin C dapat membantu penyerapan zat besi, terutama yang bentuknya non-heme, dan membantu penyimpanannya di dalam bentuk yang dapat dengan mudah diserap oleh tubuh. Maka dari itu, vitamin C disebut dengan enhancers. Berikut ini contoh sumber vitamin C yang bisa dikonsumsi.

  • Buah sitrus (jeruk, lemon, jeruk nipis)
  • Stroberi
  • Melon
  • Paprika
  • Sayur-sayuran hijau pekat

Jadi, kalau lagi makan bakso pilih minumnya es jeruk. Terus kalau lagi makan salad atau sashimi, jangan lupa tambahkan perasan lemon. Intinya, makan makanan sumber zat besi dibarengi dengan vitamin C, yang alami ya!

3.   Hindari Konsumsi Makanan Penghambat Zat Besi

Memang ada sih makanan yang bisa membantu penyerapan zat besi, tapi sayangnya zat besi itu sendiri juga bisa dihambat penyerapannya. Dihambat oleh siapa? Zat yang bisa menghambat penyerapan zat besi disebut dengan inhibitors, diantaranya yaitu asam fitat, tanin/polifenol, kalsium, dan asam oksalat. Berikut sumbernya ya.

  • Asam fitat: biji-bijian, kacang-kacangan, polong-polongan, sereal, kedelai
  • Tanin/polifenol: teh, kopi, kacang-kacangan, kakao, sayuran
  • Kalsium: susu, kasien, whey, protein kedelai, produk terfortifikasi kalsium
  • Asam oksalat: bayam, buncis, kacang-kacangan

Jadi, konsumsilah makanan yang mengandung zat besi secara bervariasi, kalau bisa yang bersumber dari hewani. Bantu penyerapannya dengan vitamin C dan hindari zat penghambatnya. Yuk kita cegah anemia!

 

Referensi:

  1. Basrowi, R. W., & Dilantika, C. (2021). Optimizing iron adequacy and absorption to prevent iron deficiency anemia: the role of combination of fortified iron and vitamin C. World Nutrition Journal, 5(S1), 33-39.
  2. Ems T, St Lucia K, Huecker MR. Biochemistry, Iron Absorption. [Updated 2023 Apr 17]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK448204/
  3. Piskin, E., Cianciosi, D., Gulec, S., Tomas, M., & Capanoglu, E. (2022). Iron absorption: factors, limitations, and improvement methods. ACS omega, 7(24), 20441-20456.
  4. Skolmowska, D., Głąbska, D., Kołota, A., & Guzek, D. (2022). Effectiveness of Dietary Interventions to Treat Iron-Deficiency Anemia in Women: A Systematic Review of Randomized Controlled Trials. Nutrients, 14(13), 2724.
  5. Delimont, N. M., Haub, M. D., & Lindshield, B. L. (2017). The impact of tannin consumption on iron bioavailability and status: A narrative review. Current developments in nutrition, 1(2), 1-12.@shaniaayuri

[Konten Kesehatan]: Cegah Stunting Bukti Peduli Generasi

Konten Edukasi Kamis, 7 Desember 2023

Pernah mendengar kata “stunting” dalam sehari-hari ? Tentu sudah tidak asing kan untuk kita semua. Stunting sendiri tidak bisa dianggap remeh, lho. Stunting sendiri dapat terjadi pada anak-anak seluruh dunia, terutama pada negara berkembang. Menurut WHO, pada tahun 2020, diperkirakan sekitar 149 juta anak di seluruh dunia menderita stunting. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) di Indonesia sendiri sebanyak 30, 8 % anak-anaknya menderita stunting. Hal itu membuat Indonesia menduduki peringkat kelima di dunia dengan penderita stunting terbanyak. Stunting bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga dapat mempengaruhi pendidikan dan produktivitas di masa depan. Untuk itu, diperlukan perhatian serius dari semua pihak untuk mengatasi masalah ini.

Apa sih stunting itu ?

Stunting (pendek) merupakan ganguan pertumbuhan linier yang disebabkan adanya malnutrisi asupan zat gizi kronis atau penyakit infeksi kronis maupun berulang yang ditunjukkan dengan nilai z-score tinggi badan menurut umur (TB/U) <-2 SD. Balita dikatakan stunting apabila Z-score tinggi badan menurut umurnya berada dibawah garis normal yaitu kurang dari -2SD dikatakan pendek dan kurang dari -3SD dikategorikan sangat pendek. (Kemenkes RI. 2010). Stunting pada anak dapat terjadi ketika masih janin hingga berusia dua tahun. Pada usia tersebut, otak dan organ tubuh anak masih dalam masa perkembangan dan membutuhkan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan yang optimal. Stunting dapat berdampak buruk pada kesehatan dan perkembangan anak, serta memiliki konsekuensi jangka panjang yang merugikan bagi masyarakat dan negara. Oleh karena itu, upaya untuk mencegah stunting perlu menjadi perhatian utama kita sebagai generasi yang peduli akan masa depan anak-anak.

Mengapa mencegah stunting itu penting ?

Pencegahan stunting penting dilakukan karena kondisi tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan mental dan fisik anak. Stunting dapat menyebabkan keterbatasan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti kesehatan, pekerjaan, dan pendidikan.  Anak yang mengalami stunting juga memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit infeksi, memiliki kemampuan belajar yang rendah, dan memiliki kemungkinan lebih kecil untuk meraih potensi mereka.

Apa penyebab stunting ?

  1. Praktek pengasuhan yang kurang baik, mulai dari kehamilan hingga setelah melahirkan.
  2. Masih terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC-Ante Natal Care.
  3. Masih kurangnya akses rumah tangga / keluarga ke makanan bergizi, air, bersih, dan sanitasi.

Lalu, bagaimana cara mencegah stunting ?

  1. Memberikan pendidikan dan informasi tentang gizi yang baik.
  2. Menjaga kesehatan ibu selama kehamilan.
  3. Memberikan asupan gizi yang cukup pada anak-anak.
  4. Memberikan ASI eksklusif.
  5. Meningkatkan akses terhadap fasilitas kesehatan.
  6. Meningkatkan akses terhadap sumber daya.

 

[@elsya.ty_l]

[Konten Kesehatan] Anemia Pada Remaja 101

Konten Edukasi Rabu, 20 September 2023

Anemia adalah keadaan ketika tubuh kekurangan sel darah merah fungsional atau kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 12 g/dL pada perempuan dan kurang dari 13,5 g/dL pada laki-laki. Di Indonesia, anemia rentan terjadi pada kelompok remaja. Tidak hanya remaja perempuan, tetapi remaja laki-laki juga berisiko mengalami anemia. Hanya saja, prevalensi anemia pada perempuan 6% lebih tinggi daripada laki-laki. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan prevalensi anemia pada kelompok remaja dari-* tahun 2007 hingga 2018.

Anemia pada remaja umumnya disebabkan oleh:

  • Kurangnya pengetahuan dan kepedulian kelompok remaja dan orang disekitarnya akan anemia.
  • Kurangnya asupan zat besi, vitamin B9, vitamin B12, vitamin C, seng, dan protein.
  • Tingginya asupan makanan atau minuman yang menghambat penyerapan zat besi, seperti kopi dan teh yang mengandung fitat dan tanin.
  • Mengidap penyakit, seperti gangguan pencernaan, infeksi, dan berbagai penyakit kronis.

Namun, remaja perempuan memiliki penyebab anemia yang lain, yaitu Menstruasi. Remaja perempuan akan kehilangan zat besi sebanyak 5–10% seiring dengan berlangsungnya menstruasi. Defisiensi zat besi ini akan menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak normal sehingga mereka rentan terkena anemia.

Secara umum, anemia menyebabkan gangguan pertumbuhan, gangguan fungsi kognitif dan psikomotorik, penurunan imunitas, serta penurunan produktivitas. Namun, pada remaja perempuan, anemia memiliki dampak jangka panjang yang lain, seperti persalinan prematur, peningkatan risiko kematian saat melahirkan, serta berat bayi lahir rendah (BBLR) dan stunting.

Berikut adalah gejala anemia yang harus diwaspadai.

  • 5L (lemah, letih, lesu, lelah, dan lalai)
  • Pandangan berkunang-kunang dan pusing
  • Pucat pada kulit, kelopak mata, bibir, lidah, telapak tangan, dan kuku.
  • Lebih emosional

Untuk mencegah anemia, lakukanlah langkah-langkah sebagai berikut!

  1. Meningkatkan pengetahuan dan kepedulian akan anemia.
  2. Mengonsumsi sumber protein hewani, seperti ayam, telur, ikan, dan daging untuk meningkatkan pembentukan Hb.
  3. Mengonsumsi makanan atau minuman yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi, seperti sayur dan buah yang mengandung vitamin C dan seng.
  4. Menghindari konsumsi makanan atau minuman yang dapat menghambat penyerapan zat besi setelah makan, seperti teh dan kopi.
  5. Menghindari konsumsi tablet tambah darah (TTD) bersamaan dengan obat asam lambung, susu, teh, maupun kopi.

 

REFERENSI

Alfiah, S. dan Dainy, N.C. 2023. Asupan Zat Besi, Vitamin C dan Konsumsi Tablet Tambah Darah Berhubungan dengan Kejadian Anemia Remaja Putri SMPIT Majmaul Bahrain Bogor. Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik, 2(2):103–108.

Astuti, E.R. 2023. Literature Review: Faktor-Faktor Penyebab Anemia pada Remaja Putri. Jambura Journal of Health Sciences and Research, 5(2):550–561.

Farinendya, A., Muniroh, L. dan Buanasita, A. 2019. Hubungan Tingkat Kecukupan Zat Gizi dan Siklus Menstruasi dengan Anemia pada Remaja Putri. Amerta Nutrition, 3(4):298–304.

Kemenkes RI. 2007. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2007. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kemenkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kemenkes RI. 2018. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kemenkes RI. 2018. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017: Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.

Nisa, H., Telaumbanua, L., Nurmah, N., Wati, P.K., Akhiriyanti, E.N. dan Rupdi, R. 2020. Edukasi Kesehatan tentang Resiko Anemia terhadap Kesehatan Reproduksi Remaja Putri di GOR Candrabaga Kota Bekasi Tahun 2019. Jurnal Abdimas Kesehatan Tasikmalaya, 2(2):13–18.

Nurrahman, N.H., Anugrah, D.S., Adelita, A.P., Sutisna, A.N., Ovtapia, D., Maisaan, F., Wahyudi, K., Nurshifa, G., Sari, H.E., Azrah, M. dan Hidayat, M.S. 2020. Faktor dan Dampak Anemia pada Anak-Anak, Remaja, dan Ibu Hamil serta Penyakit yang Berkaitan dengan Anemia. Journal of Science, Technology and Entrepreneur, 2(2):46–50.

 

[Gisela Silverine Widyananda (@giselasilverine)]

123

Berita Terkini

  • Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
    21/03/2026
  • PKGM Selenggarakan Workshop Nutritional Life Cycle Assessment (nLCA) untuk Dukung Sistem Pangan Berkelanjutan
    12/03/2026
  • Limited Seat! Workshop nLCA Daring 24–25 Februari 2026
    09/02/2026
Universitas Gadjah Mada

Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia (PKGM)
(Center for Health and Human Nutrition/CH2N)

Gd Litbang FK-KMK Lt.3, Jalan Medika No.1, Sendowo, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Telp./Faks. (0274) 547775
Email: ch2n.fk@ugm.ac.id

© PKGM-FKKMK UGM 2021

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY